banner

Muthia, Penulis Muda Bertalenta dengan Segudang Prestasi

Senin, 19/6/2017
Muthia Fadhila Khairunnisa (istimewa)
Muthia Fadhila Khairunnisa (istimewa)

Muthia Fadhila Khairunnisa,16, merupakan penulis muda yang telah banyak menelurkan karya dan meraih banyak penghargaan.

Harianjogja.com, SOLO– Penikmat serial Kecil Kecil Punya Karya (KKPK) penerbit Mizan pasti sudah hafal dengan nama Muthia Fadhila Khairunnisa, 16. Hobinya menulis membuat murid Kelas II salah satu SMA negeri di Jakarta diganjar sejumlah penghargaan bergengsi.

Tahun lalu ia mendapatkan Penghargaan Kebudayaan 2016 Kategori Anak dan Remaja, Best Script Award di Labs Festival 2016, Penulis Cilik Terproduktif 2012 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Penulis Cilik Terbaik 2011.

Di usianya yang belum menginjak 17 tahun, remaja yang biasa dipanggil Thia ini memang tak pernah berhenti membuat karya. Selain aktif mengisi KKPK oleh penerbit Mizan, ia juga menulis novel, opini di surat kabar, puisi, Cerpen, dan skenario drama. Secara resmi hingga saat ini ia telah menerbitkan 12 buku novel, dan 17 buku tulisan kompilasi dengan berbagai tema.

Dalam Konggres Penulis Indonesia di Hotel Aston beberapa waktu lalu, Ia dinobatkan sebagai anggota termuda. Saat berbincang dengan solopos.com seusai acara, Thia menceritakan lika liku perjalanan menulisnya sejak masih anak-anak hingga sekarang. Kecintaannya pada buku dimulai sejak masih balita.

Saat duduk di bangku Kelas II Sekolah Dasar (SD) ia menulis untuk kali pertama di blog pribadi. Menginjak Kelas IV SD baru terlibat dengan project kompilasi KKPK Mizan sampai sekarang. Thia kecil memang sudah bermimpi menjadi seorang penulis. Namun ia tak pernah mengira mendapatkan sejumlah penghargaan bergengsi seperti sekarang ini. Menurut Thia menulis merupakan bagian dari hidupnya.

Setiap ada waktu luang selalu dia habiskan dengan membuat sebuah tulisan, bisa karangan, curhatan, atau puisi. Kebiasaan yang terus berulang itu yang akhirnya membuat dia terbiasa membuat buku sampai sekarang.

“Ya tipsnya dimulai dari membaca, sama dipaksa suka menulis. Dari dipaksa itu lama-lama akan suka dan enjoy. Apalagi pas masih kecil, banyak banget waktu luangnya. Aku dulu sering banget nulis pas waktu luang. Sekarang sudah SMA agak jarang banyak tugas sekolah soalnya,” kata dia.

Meski sibuk dengan tugas sekolah, Thia juga masih sempat menyelesaikan buku terbarunya berupa serial fantasi horor remaja dan karya kolaborasi dengan penulis asal Finlandia. Dalam waktu dekat motivator menulis ini akan memulai proyek kolaborasi dengan pembaca setianya yang mayoritas anak muda. Melalui kerja kolaborasi ia berharap memicu kreativitas Remaja lain agar tak malu mengungkapkan ide mereka.

 

banner

ARTIKEL LAINNYA
Bisri Nuryadi (Istimewa) GAGASAN : Bukan Penerus Sastra Jawa Modern
Ibnu Wini Winarko GAGASAN : Kepompong Sastra Jawa Modern
Indra Tranggono (istimewa) GAGASAN : Industri Kreatif dan Daya Saing Bangsa
Bandung Mawardi GAGASAN : Lebaran Itu Buku
Suharno (Istimewa) GAGASAN : Reposisi dan Pencitraan Gunung Kemukus