Pedagang Pasar Mengaku Sepi Pembeli, BI Sebut Daya Beli Belum Tentu Turun

Jumat, 14/7/2017
Pengunjung mulai memadati Pasar Beringharjo Barat, Sabtu (17/6/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)
Pengunjung mulai memadati Pasar Beringharjo Barat, Sabtu (17/6/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)

Bank Indonesia mengatakan menurunnya penjualan belum tentu disebabkan penurunan daya beli masyarakat.

 

Harianjogja.com, JOGJA-Menanggapi keluhan pedagang di pasar tradisional tentang menurunnya penjualan dan omset mereka selama masa Lebaran kemarin, Bank Indonesia mengatakan jika hal itu belum tentu disebabkan penurunan daya beli masyarakat.

Deputi Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan menyampaikan, dilihat dari peredaran uang selama Lebaran kemarin juga cukup besar. Masyarakat baik dari Jogja maupun luar Jogja sama-sama menarik uang untuk dibelanjakan di Jogja.

Hal itu bisa dilihat dari jumlah uang yang ditarik bank-bank dari Bank Indonesia. Berdasarkan data dari Bank Indonesia DIY, penarikan uang selama Ramadan terhitung sejak 29 Mei-22 Juni sebanyak Rp4,178 triliun atau naik 8,8% dari Ramadan dan Lebaran 2016 yang hanya Rp3,838 triliun.

Dari situ terlihat jika perputaran uang di DIY semakin tinggi. Hanya saja, kata Hilman, momentum Lebaran 2017 terjadi bersamaan dengan libur panjang anak sekolah sehingga pembelanjaan konsumen terurai sepanjang liburan yang terjadi sekitar hampir satu bulan.

“Jadi memang tidak terpusat di satu minggu saja tetapi terurai dalam waktu yang panjang itu. Mungkin kalau dikumpulkan, sebenarnya belanja masyarakat juga tinggi,” katanya, Rabu (11/7/2017) siang.

Menurutnya penurunan daya beli karena penurunan jumlah pemudik juga tidak terlihat. Hal itu diukur dari kemacetan yang juga terjadi di sana-sini. Hal ini tetap diindikasikan bahwa kedatangan pemudik tetap membawa pengaruh ekonomi pada masyarakat.

Ia mengakui, berdasarkan survei dunia usaha yang ia terima memang ada penurunan penjualan. Namun hal tersebut tidak kemudian disimpulkan karena daya beli masyarakat yang menurun. “Ya karena belanjanya sudah disebar di liburan yang panjang itu,” tegasnya.

Sebelumnya, beberapa pedagang di Pasar Beringharjo mengeluhkan penjualannya yang menurun dibandingkan Lebaran tahun lalu. Sumiyati salah satunya.

Biasanya saat menjelang Lebaran bisa meraup omset sampai Rp1 juta per hari, kali ini hanya menerima sekitar Rp500.000 saja. “Saya sampai rasan-rasan sama [pedagang] lain, iki sido bodo ora [ini jadi Lebaran tidak],” katanya.

Pedagang sembako bernama Pawiro, bahkan mengaku stok minyak kemasan untuk Lebaran masih bersisa banyak. Setidaknya sekitar 11 karton minyak belum terjual. Agus, pedagang ayam juga mencatat penurunan penjualan Lebaran kali ini mencapai 50% dari Lebaran sebelumnya.


ARTIKEL LAINNYA
Puluhan perwakilan pedagang dari masing-masing pasar di Jogja mendeklarasikan gerakan reresik pasar di lorong Pasar Bringharjo, Kamis (18/1/2018). (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja) Tak seperti Reresik Malioboro, Pedagang Pasar Tidak Mungkin Tutup saat Reresik Pasar
Puluhan perwakilan pedagang dari masing-masing pasar di Jogja mendeklarasikan gerakan reresik pasar di lorong Pasar Bringharjo, Kamis (18/1/2018). (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja) Petugas Kebersihan Pasar Senang ada “Reresik Pasar”, Kerja Kami Jadi Lebih Ringan
Pasokan sayuran di salah satu lapak pedagang sayur di Pasar Beringharjo tidak sebanyak hari biasanya, karena pedagang mulai kurangi pasokan untuk mengantisipasi sayuran cepat busuk, Jumat (3/11/2017). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Harga Sayuran di Jogja Naik dan Memicu Inflasi
Pasokan sayuran di salah satu lapak pedagang sayur di Pasar Beringharjo tidak sebanyak hari biasanya, karena pedagang mulai kurangi pasokan untuk mengantisipasi sayuran cepat busuk, Jumat (3/11/2017). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Di Jogja, Harga Semua Jenis Sayuran Naik
Sayuran Cuaca Ekstrem, Kebutuhan Sayuran di Jogja Tidak Dapat Terpenuhi