Angka Melek Huruf Tinggi, Minat Baca Orang Indonesia Memprihatinkan

Senin, 07/8/2017
JIBI/Solopos/Newswire
Ilustrasi membaca (JIBI/Bisnis Indonesia/Dok)
Ilustrasi membaca (JIBI/Bisnis Indonesia/Dok)

Minat baca orang Indonesia memprihatinkan.

Harianjogja.com, JAKARTA — Meski angka melek huruf tinggi, namun minat baca masyarakat masih sangat memprihatinkan. Hal itu disampaikan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Harris Iskandar.

Sebuah penelitian yang dilakukan Central Connecticut State University terkait minat baca menempatkan Indonesia di posisi 60 dari 61 negara, setingkat di atas Botswana.

Hal tersebut disampaikan Harris dalam diskusi yang diadakan dalam rangkaian ASEAN Literary Festival di Jakarta, Jumat (4/8/2018). Haris menambahkan hubungan buta huruf dengan kemiskinan sangat nyata.

“Sampai saat ini kami masih berjuang mengentaskan buta huruf di desa-desa dan kantong-kantong kemiskinan. Untuk itulah gerakan literasi nasional oleh Kemendikbud harus terus-menerus digalakkan,” kata dia seperti dilansir Antara.

Sovan Ganguly, Global Business Unit Head for Consumer dari Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas yang membawahi brand SiDu, mengungkapkan partisipasi dalam acara tahunan tersebut untuk mengambil bagian dalam mendukung perkembangan literasi di Indonesia.

“Kami mendukung program pemerintah dan segenap pihak guna mendorong masyarakat Indonesia mencintai kegiatan membaca dan menulis,” kata dia.

Sovan mengatakan peran SiDU dalam pengembangan dunia literasi di Indonesia antara lain melalui penyediaan produk yang berkualitas dan menyenangkan, penyediaan platform atau kegiatan terkait literasi, serta penyelenggaraan forum yang memantik minat membaca dan menulis masyarakat, khususnya generasi muda.

Di tempat yang sama, novelis Ahmad Fuadi berbagi pengalamannya sebagai penulis novel Negeri 5 Menara. Novelnya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Land of Five Towers menjadi buku bacaan wajib untuk beberapa mata kuliah di University of California, Berkeley.

“Meski saya orang kampung, saya bisa jalan-jalan keliling dunia, itu berawal dari minat membaca buku sedari kecil,” ujarnya.

Ia menambahkan hal yang paling penting adalah menuangkan pengalaman menjadi tulisan. “Karena jika hanya dibicarakan, cerita kita bak gelombang yang akan hilang ditelan lautan,” kata dia.


ARTIKEL LAINNYA
Kids zaman now menurut Kemdikbud (Instagram) Viral Sebutan Kids Jaman Now, Ini yang Benar Versi Kemendikbud
Ilustrasi wisuda lulusan perguruan tinggi (JIBI/Solopos/Dok.) Perguruan Tinggi Belum Optimal Manfaatkan Dana CSR Perusahaan
Para penari Bedaya Ketawang menari selama sekitar 30 menit dalam Tingalan Jumenengan Sinuhun PB XIII di Keraton Solo, Sabtu (22/4/2017). (Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos) Ditolak, Pemerintah Pusat Tetap Bentuk Badan Pengelola Keraton Solo
Ilustrasi wisuda lulusan perguruan tinggi (JIBI/Solopos/Dok.) PENDIDIKAN INDONESIA : 25 PTS Ditutup
Wisatawan asing melihat salah satu bagian Museum Radya Pustaka Solo.(JIBI/Solopos/Dok) Kenapa Museum di Indonesia Dianggap Seperti Gudang?