Bandara Gading Hanya untuk Penerbangan Perintis

Minggu, 13/8/2017
Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X (pegang kayu) saat melihat proses budidaya garam di Pantai Sepanjang, Desa Kemadang, Tanjungsari. Sabtu (12/8/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X (pegang kayu) saat melihat proses budidaya garam di Pantai Sepanjang, Desa Kemadang, Tanjungsari. Sabtu (12/8/2017). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)

Lanud Gading dapat dibangun sebagai bandara.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Semangat Pemkab Gunungkidul untuk memanfaatkan Lanud Gading, Desa Gading, Playen sempat memudar. Namun kunjungan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi ke Gunungkidul, Sabtu (12/8/2017), kembali menghidupkan mimpi yang telah diwacanakan sejak 2016 lalu.

Baca Juga : Kemenhub Beri Lampu Hijau Pembangunan Bandara Gading

Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi menyambut baik wacana tersebut. Pemkab pun siap mendukung untuk mewujudkan kebijakan tersebut.

“Ini jadi kabar baik. Namun nantinya keberadaan Bandara Gading tidak bisa digunakan penerbangan dengan intensitas tinggi karena hanya jadi perintis,” katanya, Sabtu (12/8/2017).

Dia pun berharap keberadaan bandara dapat mempermudah akses wisatawan, khususnya mancanegara untuk datang ke destinasi wisata di Gunungkiul.

“Untuk proses pembangunan, kita juga tidak bisa tinggal diam karena harus aktif. salah satunya dengan menyiapkan sarana transportasi dari bandara menuju objek wisata,” tutur Politisi PAN ini.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Gunungkidul Drajad Ruswandono mengungkapkan keberadaan Bandara Gading bukan lagi menjadi skala prioritas karena pemkab akan fokus di pembangungan di kawasan Pantai Selatan. Ada beberapa faktor yang membuat rencana pengoperasian bandara tidak jadi dilakukan. Selain masalah tingkat kebutuhan yang dirasa masih belum mendesak karena adannya dua bandara di wilayah DIY (Kulonprogo dan Adisucipto), masalah infrastruktur juga jadi kendala.

Menurut dia, infrastruktur jalan yang ada saat ini belum mampu menunjang keberadaan bandara.

“Tidak bisa diandalkan karena akses Jogja-Wonosari sudah sangat padat. Mungkin beda ceritanya jika jalan dari Sleman ke Gunungkidul sudah tersambung sehingga banyak alternative pilihan. Jadi untuk saat ini, kebutuhan bandara belum masuk prioritas pembangunan yang dimiliki pemkab,” katanya kepada Harianjogja.com, Jumat (4/8/2017).

Drajad menjelaskan meski pembangunan bandara sudah dipinggirkan, namun pemkab tetap fokus dalam upaya pembangunan untuk menunjang perkembangan sektor pariwisata dan kelautan di Gunungkidul. Ia menuturkan, pembangunan ke depannya difokuskan di daerah pesisir.  Hal ini tidak lepas dari keberadaan Jalur Jalan Lintas Selatan yang ditargetkan selesai di 2019 mendatang.

“Saya yakin keberadaan JJLS dapat memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan wisata di pesisir Gunungkidul karena akses jalan yang lebih lancar,” katanya.

Namun demikian, pernyataan dari Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang memberikan lampu hijau untuk pembangunan Bandara Perintis Gading maka dapat mengubah perencanaan yang telah dimiliki pemkab. Jika wacana ini bisa diwujudkan, maka DIY akan memiliki tiga bandara, yakni Gading, Gunungkidul, Bandara Baru di Kulonprogo serta Adi Sucipto, Sleman.


ARTIKEL LAINNYA
Suasana open house Pemkab Gunungkidul, Senin (11/7/2016). (Mayang Nova Lestari/JIBI/Harian Jogja) Ini Hasil Sementara Lelang Jabatan Pimpinan OPD di Gunungkidul
Ilustrasi sertifkat (tanda bukti hak) atas tanah. (JIBI/Solopos/Dok.) 2018, Pendataan Sultan Ground di Gunungkidul Dikebut
Pendataan Sultan Ground di Gunungkidul Ditarget Selesai 2020
Seorang pesepeda sedang melintas di jalur pemasangan pipa baru milik PDAM Tirta Handayani di Jalan Taman Bhakti, Wonosari, Kamis (29/9/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Layanan Air PDAM Gunungkidul Masih Belum Lancar
Ilustrasi sertifkat (tanda bukti hak) atas tanah. (JIBI/Solopos/Dok.) Ribuan Bidang Tanah SG Tak Bersertifikat