EKONOMI KREATIF
Rintis Bisnis Jumputan, Dua Sahabat Bertekad Tularkan Kemandirian

Minggu, 13/8/2017
Laksmi Kurniasih (kiri) dan Wahyu Roekmawati (kanan) menunjukkan produk kain jumputan yang diberi label Oekniek Craft saat menggelar pameran di Fleamarket, pameran produk kreatif di Balai Pamungkas, Jumat (11/8/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Laksmi Kurniasih (kiri) dan Wahyu Roekmawati (kanan) menunjukkan produk kain jumputan yang diberi label Oekniek Craft saat menggelar pameran di Fleamarket, pameran produk kreatif di Balai Pamungkas, Jumat (11/8/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)

Ekonomi kreatif berikut dikembangkan duo sahabat

Harianjogja.com, JOGJA — Berawal mengikuti sebuah pelatihan membuat kerajinan jumputan di kelurahan, membuat Wahyu Roekmawati, 55, dan Laksmi Kurniasih, 54, mencoba mengasah keterampilan tersebut menjadi peluang usaha kecil-kecilan. Namun, semata-mata bukan bisnis yang ingin dicapai, tetapi keinginan untuk menularkan hasrat berkarya kepada perempuan sebaya.

Oek dan Niek, demikian keduanya biasa disapa, mengaku memulai kerajinan ini sejak tiga tahun lalu. Mengambil nama sapaan keduanya, Oekniek Craft menjadi brand yang disematkan pada produk kain dan jilbab jumputan beraneka motif ini.

“Kami mengawali dengan memproduksi made by order, itu juga hanya dijual kepada teman-teman dekat saja. Baru mulai untuk memperkenalkan produk kerajinan ini secara luas per April lalu,” ujar Niek saat ditemui di Fleamarket, pameran produk kreatif di Balai Pamungkas, Jumat (11/8/2017).

Persahabat Oek dan Niek telah dimulai sejak sama-sama mengenyam pendidikan di Instirut Seni Indonesia (ISI) Jogja. Ide merintis usaha ini muncul setelah keduanya merasa sudah tidak terlalu sibuk bekerja dan mengurus anak. Sejak anak-anak mereka sudah dapat mandiri, keduanya memutuskan untuk mengisi waktu dengan berkarya.

Niek mengaku kerajinan kain merupakan produk yang mudah untuk dikreasikan. Selain itu, kerajinan jumputan sangat unik dan dapat dikerjakan di rumah di sela-sela mengurus keluarga.

Oek menambahkan sejak awal merintis usaha ini, tidak semata-mata mengembangkannya untuk kepentingan bisnis. Upaya untuk berbagi pengalaman dan mengembangkan kerajinan ini menjadi visi yang diemban kedua sahabat ini. Hal itu tidak terlepas dari keinginan untuk mengembangkan ekonomi kreatif masyarakat.

“Kerajinan ini tidak rumit dan tidak memerlukan skill khusus. Kami saat ini juga sering membuka pelatihan membuat kerajinan jumputan, biasanya ada yang berminat untuk belajar,” ungkap Oek.

Kendati demikian, produk jumputan yang dikerjakan secara manual ini merupakan produk yang membutuhkan proses yang cukup panjang. Pasalnya, untuk satu kain jumputan berukuran dua meter, sedikitnya membutuhkan waktu pengerjaan hingga satu bulan lamanya.

Oek mengungkapkan proses pembuatan kain jumputan ini tidak hanya diperlukan kreativitas, tetapi juga ketelitian dan kesabaran. Ada berbagai produk yang dikembangkan Oek dan Niek, di antaranya jilbab segi empat, pashmina hingga kain-kain jumputan untuk dibuat baju, serta produk lainnya.

“Untuk harga pashmina rata-rata Rp100.000. Sedangkan untuk kain dengan ukuran dua meter, dijual mulai Rp500.000,” jelas Oek.


ARTIKEL LAINNYA
Pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). (JIBI/Solopos/Dok.) UKM Belum Sadar Pentingnya Pengelolaan Keuangan
Bekraf Pengelolaan Keuangan UKM Masih Tercampur
Youthober Produk Lokal Anak Muda Meriahkan Youthober Plaza Ambarrukmo
Aplikasi OnTa Ini Cara OnTa Jadi Wadah Komunitas Traveler
Seorang anak menunggu pedagang mengemasi undur-undur laut goreng yang bertekstur renyah di kawasan Pantai Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo, beberapa waktu lalu.(Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Usaha Kuliner Paling Diminati Warga Terdampak Bandara Kulonprogo