PELUANG USAHA
Bidik Konsumen Tas Partai Besar

Minggu, 20/8/2017
Rootzie menunjukkan produk tote bag blacu kreasinya saat dipamerkan di Atrium Malioboro Mall, Jumat (18/8/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/ Harian Jogja)
Rootzie menunjukkan produk tote bag blacu kreasinya saat dipamerkan di Atrium Malioboro Mall, Jumat (18/8/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/ Harian Jogja)

Peluang usaha, tidak hanya produksi, pemasaran juga perlu dipikirkan

Harianjogaj.com, JOGJA — Bisnis tas semakin menjamur dan tengah menjadi produk yang sangat mainstream. Berbagai desain produk tas sudah banyak beredar di pasaran.

Namun, alih-alih mengikuti tren tersebut Daeng atau yang akrab disapa Rootzie memilih tas-tas tote bag dengan desain sederhana. Pada 2014, silam Rootzie mulai coba-coba membuat tote bag. Berbekal pengetahuan desain saat bekerja di sebuah industri kaus, usaha itu mulai dirintis secara kecil-kecilan.

“Produksi pertama tas dari kanvas, bentuknya masih tote bag. Saya coba tawarkan ke teman-teman, ternyata pada suka” ujar Rootzie saat ditemui Harianjogja.com di Pameran Dekranasda di Malioboro Mall, Jumat (18/8/2017).

Rootzie mengatakan produknya mulai diikutkan ke sejumlah pameran UMKM. Bahkan, mulai merambah pasar online. Namun, tak melulu mengejar konsumen eceran melalui pemasaran tersebut.

Lebib lanjut Rootzie mengaku lebih membidik konsumen skala besar yakni instansi. Umumnya, produk tas tote bag banyak dilirik instansi atau korporasi untuk kebutuhan suvenir.

“Sampai sekarang saya juga masih menerima pesanan rutin tote bag untuk organisasi pecinta binatang. Pernah pesanan sampai 1.000 pieces, lalu rutin setahun bisa delapan kali,” ungkap Rootzie.

Setelah merambah tas berbahan kain kanvas, Rootzie mulai melirik bahan kain blacu. Mengusung konsep monokrom, tas blacu yang diproduksinya baru beberapa bulan ini diperkenalkannya. Harga jual produk ini dibanderol mulai Rp28.000 untuk tad blacu polos dan Rp40.000 untuk tad blacu bergambar.

Seperti produk-produk sebelumnya, Rootzie tidak membuat produknya dengan jenis yang sama. Dia mengaku dalam sekali produksi untuk tas kanvas dibatasi hanya satu lusin saja. Sedangkan untuk produk tas blacu sekali produksi 25 pieces.

“Saya memang bikin terbatas karena pasar mudah bosan, jadi tidak bikin banyak, tapi tetap selalu diperbarui modelnya,” jelas Rootzie.


ARTIKEL LAINNYA
Petugas dari Disperindag ESDM Kulonprogo dan BBPOM DIY melakukan pemeriksaan pada produk makanan ringan di salah satu tempat industri di Dusun Cekelan, Desa Karangsari, Pengasih, Rabu (16/9/2015). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Pengusaha Kecil Bakal Tak Lagi Khawatir Listrik “Njeglek”
Yuda Ardhi menunjukkan koleksi miniatur kayu buatannya, Jumat (10/11/2017). (Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati) KISAH INSPIRATIF : Sukses Berawal dari Hobi Menggambar
Sumilah menunjukkan beberapa produk kerajinan batik kayu saat diselenggarakan acara di KPw BI DIY belum lama ini. (Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Kerajinan Batik Kayu Asal Bantul Tembus Pasar Internasional
Ilustrasi pelatihan UMKM UMKM DIY Akan Diistimewakan
Salah satu pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) Kota Jogja menunggu stan pameran Gebyar UMK di Alun-ALun Sewandanan Pakualaman, Sabtu (6/7/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) UMKM Jangan Sampai Tutup, Ini Bahayanya