KISAH INSPIRATIF
Memburu Pembaca Lewat Becak

Jumat, 25/8/2017
Sutopo sedang membaca di becak pustaka miliknya. ( I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja)
Sutopo sedang membaca di becak pustaka miliknya. ( I Ketut Sawitra Mustika/JIBI/Harian Jogja)

Kisah inspiratif mengenai pengemudi becak yang menularkan hobi membaca

Harianjogja.com, JOGJA — PEjuang literasi tak percaya sedikit pun dengan tesis: orang Indonesia malas membaca. Bagi mereka, permasalahan sebenarnya hanya kesempatan, bukan pada minat. Karena itulah lahir beragam pustaka bergerak yang memburu pembaca. Motor pustaka, noken pustaka, perahu pustaka-untuk menyebut beberapa contoh. Dan di Jogja ada yang namanya becak pustaka.

Pada 13 tahun yang lalu, Sutopo, 70, seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil, memutuskan memilih jalan hidup sebagai seorang penarik becak. Alasannya sederhana. Ia masih ingin hidup lebih lama lagi.

Teman-temannya banyak yang jatuh sakit kemudian meninggal saat masa pensiun tiba. Dari apa yang ia saksikkan selama ini, Sutopo menarik kesimpulan, pensiunan butuh kegiatan (kerja), kalau perlu yang berbau fisik. Supaya aliran darah tidak dihambat plek bikinan kolesterol jahat. Lagipula menarik becak juga bisa menambah penghasilannya dan manusia memang selalu butuh kerja.

Sejak saat itu, saban hari ketika sang surya mulai menyapa di ufuk timur dengan malu-malu, kedua kaki mungilnya akan otomatis menggerakan becak birunya menuju tongkrongannya. Ia biasa mangkal di sepetak trotoar di depan Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIY yang penuh dengan coretan seniman grafiti.

Semakin tua, ia juga semakin rajin membaca alkitab. Bahkan alkitab selalu ditaruh di bagian samping becak. Ketika sedang menunggu penumpang, dengan rakus ia pelototi ayat-ayat suci yang termaktub pada alkitab. Kebiasaan membaca alkitab juga lah yang akhirnya membuat ayah tiga anak ini membangun becak pustaka.

Semua bermula dari tiga tahun lalu, seorang ibu yang sedang mengantar anaknya sekolah di SD Tarakanita Bumijo melihat Sutopo membaca alkitab dengan khidmat. Mungkin karena si ibu tersentuh menyaksikkan seorang pria tua, dengan wajah yang mengundang simpati, rajin membaca, maka ia langsung mendekati Sutopo dan menawari buku.

Sutopo mengiyakan dan selang beberapa waktu si ibu datang membawa bungkusan berisi 10 buku yang didominasi buku kumpulan doa.

“Awalnya buku yang biasa saya bawa hanya empat dan untuk dibaca sendiri. Dua buku agama, sisanya buku pengetahuan umum. Tapi setelah ada yang memberikan buku, saya merasa harus membagikan apa yang saya peroleh kepada orang lain,” jelas Sutopo ketika ditemui di rumahnya, Kelurahan Cokrodiningratan, Jetis.

Selepas itu, ia mulai membangun rak di atas jok becak yang kira-kira berukuran 40 centimeter. Sutopo juga mulai memburu buku-buku bekas di pasar loak. Semua buku ia sikat, dari yang untuk anak-anak hingga buku bertema how to be. Sumbangan dari satu dua orang masih tetap mengalir. Jadilah ia punya puluhan buku sejak saat itu.

Namun, koleksi buku becak pustaka benar-benar melesat saat seorang pewarta dari sebuah media lokal mengabarkan kisahnya ke khalayak setahun lalu. Masuk koran membuat orang-orang semakin bersimpati padanya. Sumbangan buku mengalir deras seperti hujan di bulan November. Rak yang ia buat sudah tak mampu menampung buku yang ada. Sebagai gantinya, ia rutin merubah koleksi.

“Baru kemarin sore saya dapat sumbangan dua dus buku dari dua orang alumni ISI [Institute Seni Indonesia]. Awalnya ada mobil mendekat, saya kira mau makan tahu gimbal, eh ternyata mau ngasi buku, ya, saya terima,” jelasnya.

Sutopo sudah sering mengalami kejadian demikian. Bahkan pernah suatu ketika, saat menambal ban becaknya yang gembos, seorang ibu-ibu mendekatinya tanpa banyak babibu. Ia menawari mantan juru gambar di Komandi Distrik Militer 0734 itu buku. Tapi Sutopo disuruhnya menunggu. Si ibu cepat-cepat pulang. Saat si ibu-ibu tersebut berjalan pulang, ternyata ban becaknya sudah selesai.

“Karena saya enggak tahu rumahnya jadi saya enggak jadi dapat buku karena sudah harus segera berangkat. Tapi intinya bagi saya, saat ada orang yang menawari buku, saya sangat bahagia karena saya merasa usaha ini dihargai oleh orang di sekitar,” ucapnya sembari melepas batuk yang tertahan.

Tak Sengaja
Sutopo mengakui sebenarnya dirinya tak pernah membayangkan akan membangun sebuah pustaka jika tidak ada kejadian tiga tahun silam. Awalnya buku yang dibaca juga hanya dikomsumsi sendiri. Namun seiring dengan seringnya perjumpaan dengan buku, ia jadi punya cita-cita : membuat masyarakat Indonesia gemar membaca.

Ia merasa orang Indonesia kurang punya budaya baca yang tinggi. Tak seperti orang bule yang kemana-mana bawa buku. Sedang berjemur dipantai, tangan mereka memegang buku. Sedang naik bus, mata mereka terus saja memandangi deretan huruf-huruf pada buku.

Caranya? tentu, dengan mengenalkan buku sedini mungkin, baru kemudian diharapkan tumbuh rasa mencintai. Seseorang pernah menulis bahwa pada dasarnya tindakan berpikir, menalar, membaca, mengalalisis adalah naluri yang ada pada manusia dan itu tidaklah spesial. Hal-hal itulah yang membuat homo sapiens tetap berjaya di dunia.

Masalahnya tidak semua orang bisa menikmati indahnya membaca buku sejak kecil. Jean Paul Satre pasti tak akan menjadi salah satu pemikir paling dahsyat di dunia kalau kakeknya tak rajin menjejali masa kecilnya dengan buku. Akan berbeda cerita kalau filsuf Perancis itu kenal buku saat usianya sudah menginjak usia 20-an tahun.

Karena itulah Sutopo berpikir, pustaka yang harus memburu pembaca. Bukan sebaliknya. Tanpa didekatkan orang tak akan ke perpustaakan dan akan semakin jauh dengan buku karena perpustakaan pada umumnya terlalu formal, kaku, penuh keheningan. Tidak pas dengan generasi semangat zaman. Tak heran perpustakaan hanya berisikan mahasiswa semester akhir yang pusing mengerjakan skripsi.
Atas alasan itu juga ia tak pindah tongkrongan, karena di area tersebut banyak anak sekolahan yang lalu lalang. Harapannya ketika ada melihat sesuatu yang unik (becak bawa buku), anak-anak akan mendekat, “Dan ada beberapa anak yang minta pada orang tuanya untuk pulang pake becak saya karena karenanya katanya unik.” Ia mungkin berpikir, siapa tahu dari sana seorang anak tak sengaja membuka buku dan ternyata setelah dibaca jadi merasa sangat bergairah dan langsung ketagihan.

Secara jujur ia mengakui, selama ini bukunya memang lebih banyak dibaca oleh emak-emak dan bapak-bapak yang tinggal di sekitar Bank BPD DIY atau yang menunggu anaknya pulang sekolah. Ia belum menemukan formula yang tepat untuk memutuskan ikatan kuat antara anak dan smartphone. Tapi ia tak gentar, tak akan mundur. Sutopo sudah punya rencana cadangan, yakni menambah koleksi buku khusus anak-anak.

Serta yang tak kalah penting adalah menyiapkan prosedur peminjaman buku. Becak Pustaka memang belum menerapkan sistem peminjangan. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang membaca biasanya langsung mengembalikan saat itu juga. Mungkin tujuannya hanya untuk sekedar membunuh waktu, tak lebih.

“Saat ini sedang saya pikirkan bagaimana administrasi peminjamannya. Beberapa waktu yang lalu ada seorang mahasiswa yang nyegat saya di jalan dan meminjam buku. Tapi sampai sekarang belum dikembalikan. Enggak apa apa sih, tapi prosedur peminjangan jadi sangat penting untuk dipikirkan,” jelasnya.

Keberadaan pustaka bergerak juga pentingnya menurutnya, karena harga buku sangat mahal. Buku-buku kualitas jempolan yang lahir dari penulis-penulis terbaik yang pernah hadir di muka bumi paling minimal harganya diatas Rp50.000. Bahkan banyak buku yang harganya ratusan ribu. Harga segitu tentu memberatkan untuk sebagian rakyat Indonesia.

Kita harus menyadari tak semua orang seperti Tan Malaka yang berikrar mengurangi pakaian sampai makanan ‘hanya’ untuk menambah nutrisi otaknya. Apalagi ketika konsumerisme semakin kencang ditiupkan kedalam keseharian lewat berbagai iklan di majalah, media sosial, baliho dan televisi.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Jogja Wahyu Hendratmoko mengatakan pihaknya mengapresiasi apa yang dilakukan Sutopo. Menurutnya pustaka bergerak adalah salah satu cara untuk mengenalkan buku kepada masyarakat.

“Kami sudah pernah memberikan paket buku kepada Pak Sutopo dan akan mengikutsertakannya pada Pawai Literasi Jogja Istimewa tanggal 20 Agustus nanti. Kami akan memberikan dukungan untuk memodifikasi becaknya,” ujarnya.

Ia setuju pustaka bergerak adalah salah satu cara untuk menarik minat baca masyakat. Namun meski demikian ia memberi catatan bahwa mengenalkan buku haruslah dengan cara-cara yang atraktif dan sedikit ngepop. Tanpa semua itu, upaya akan sia-sia belaka.

Sembari promosi, Wahyu Hendratmoko mencontohkan Perpustakaan Kota Jogja yang senantiasa mengikuti kebutuhan dan keinginan masyarakat. Ia mencontohnya terbentuknya Ruang Diskusi Bersama (Raisa). Raisa dibentuk karena banyak pelajar dan mahasiswa di Perpustakaan Kota Yang menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas. Dan mereka terlalu berisik, maka dibuatkan ruangan yang bisa dimanfaakan masyarakat untuk mengerjakan tugas atau les privat.

“Raisa direspon positif oleh para pelajar. Itu adalah cara kami mengenalkan buku. Semakin mereka dekat dengan perpus, maka ada kemungkinan besar mereka berinteraksi dengan buku. Mengenalkan dunia yang tak populer ini harus dengan cara yang ngepop. Kalau kaku masyarakat tidak akan mau menerima,” tutupnya.


ARTIKEL LAINNYA
Usaha pencarian ponsel dengan gagal (Asiawire) Ponsel Nyemplung, Perempuan Ini Nyaris Terjun ke Danau
Warung mi yang menyediakan sarapan gratis untuk lansia hingga petugas kebersihan. (Istimewa/Weibo) Kedai Mi Ini Tiap Hari Sediakan Sarapan Gratis untuk Penyapu Jalan hingga Lansia
Sosok seksi berbikini dengan santai antre makanan di restoran (Facebook) (2) Kocak! Pakai Bikini Pas Antre di Restoran, Sosok Seksi Ini Ternyata Mengejutkan
Ketia siswi SMPN 1 Jetis Ponorogo berfoto bersama guru pendamping memegang piala LKTI se-Jawa, Jumat (20/10/2017). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) KISAH INSPIRATIF : Kreatif, Siswi SMP Ponorogo Ubah Eceng Gondok Jadi Bioethanol Ramah Lingkungan
Pernikahan dengan mahar saham (Instagram) KISAH UNIK : Tak Biasa, 50.000 Lembar Saham Dijadikan Mahar Pernikahan