EKONOMI KREATIF
Pertahankan Kain Tenun ATBM

Minggu, 17/9/2017
Lusi Ekawati menunjukkan beberapa busana lurik rancangannya di butiknya Benang Lusi, Jalan DN Pandjaitan Nomor 44, Jumat (15/9/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Lusi Ekawati menunjukkan beberapa busana lurik rancangannya di butiknya Benang Lusi, Jalan DN Pandjaitan Nomor 44, Jumat (15/9/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)

Ekonomi kreatif berikut bergerak di bidang fashion

Harianjogja.com, JOGJA — Mengawali bisnis fashion dari hobi, dimulai Lusi Ekawati, 44, sejak 2010 lalu. Dimulai dari kecintaannya pada kain tenun, Lusi tetap mempertahankan bahan kain tenun yang dihasilkan pengrajin tenun tradisional untuk busana yang didesainnya.

“Saya ingin tetap melestarikan tenun ATBM [Alat Tenun Bukan Mesin], meski sekarang banyak kain tenun dari mesin modern,” ujar Lusi saat ditemui di butiknya Benang Lusi di Jalan DI Pandjaitan nomor 44, Jogja, Jumat (15/9/2017).

Lusi yang kini juga dikenal sebagai salah satu desainer Jogja, mengawali bisnis ini dari hobi membuat sendiri baju-bajunya. Dia mengatakan ketika baju yanh dikenakannya dipuji teman-temannya, akhirnya banyak pesanan mengalir untuk memproduksi busana dari kain tenun.

Kala itu, Lusi mengaku hanya memproduksi busana tenun secara terbatas. Saat dirinya ingin membuat baju, hanya lima busana yang dibuat. “Saya cuma buat lima pieces saja sekali bikin. Tapi selalu disukai teman saya. Sampai akhirnya saya diajak ikut pameran di Jogja Expo Center. Meski awalnya tidak percaya diri, ternyata produk saya banyak disukai, dari situ saya terus mengembangkannya,” ungkap ibu empat anak ini.

Lulusan Jurusan Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja ini juga merambah dunia fashion. Namun, meski telah menjadi desainer, produk fashion yang dikembangkannya tetap mempertahankan konsep ready to wear. Tak heran jika busana yang dipamerkan model di catwalk sejumlah fashion show selalu laku terjual.

Dua tiga tahun terakhir ini, Lusi mulai melirik lurik. Kain tradisional Jogja ini mulai mencuri perhatiannya. Berbeda dengan tenun nusantara yang pernah dibuatnya, kain lurik cenderung memiliki tekstur kain yang lebih kaku.

“Ini tantangan untuk saya, karena lurik itu kain yang unik. Namun saya tetap konsisten dengan ciri khas produk yang lebih simpel dan kasual,” jelas Lusi.

Kendati kini bisnis fashion tenun atau lurik tumbuh pesat, namun itu bukan tantangan pelik bagi Lusi. Justru Lusi mengaku senang, karena sekarang kain nusantara ini semakin dikenal dan dipopulerkan banyak orang.

Dulu kain nusantara cenderung dianggap mahal dan eksklusif. Lusi berprinsip ingin membuat busana dengan kain tradisional tersebut dengan harga yang relatif terjangkau.

“Supaya kain tradisional bisa dipakai siapa saja. Saya waktu pertama bikin juga tidak mahal sekitar Rp100.000. Sekarang kisaran Rp200.000 sampai Rp600.000 tergantung bahan atau kain,” ungkap Lusi.


ARTIKEL LAINNYA
Pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). (JIBI/Solopos/Dok.) UKM Belum Sadar Pentingnya Pengelolaan Keuangan
Bekraf Pengelolaan Keuangan UKM Masih Tercampur
Youthober Produk Lokal Anak Muda Meriahkan Youthober Plaza Ambarrukmo
Aplikasi OnTa Ini Cara OnTa Jadi Wadah Komunitas Traveler
Seorang anak menunggu pedagang mengemasi undur-undur laut goreng yang bertekstur renyah di kawasan Pantai Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo, beberapa waktu lalu.(Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Usaha Kuliner Paling Diminati Warga Terdampak Bandara Kulonprogo