TIPS BISNIS
Tentukan Pasar sebelum Buka Usaha

Sabtu, 30/9/2017
Foto Ilustrasi Industri Kerajinan JIBI/Solopos/Burhan Aris Nugraha

Tips bisnis berikut mengenai pemilihan pasar

Harianjogja.com, JOGJA-Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) banyak yang belum menentukan pangsa pasar sebelum membuka bisnis. Hal ini menjadi salah satu kelemahan UMKM dan akhirnya membuat mereka gulung tikar.

Ketua Asosiasi Pengusaha Minuman dan Makanan Sleman, Marsono mengatakan, kondisi tersebut banyak dialami pelaku usaha saat ini.
“Kelemahan UMKM kita itu enggak tahu pasar. Jadi hanya bikin produk tetapi enggak tahu jual kemana,” katanya, Jumat (29/9/2017).

Menurutnya, sebelum membuka bisnis, yang pertama dilakukan pelaku usaha adalah membaca peluang atau melihat pasar yang berpotensi untuk digarap. Setelah peluang ditemukan, pelaku usaha bisa menentukan pangsa pasar dan produknya. Cara ini untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkannya akan laku di pasaran.

“Saat mau membuka bisnis, segmentasi [pasar] yang harus dipikirkan pertama. Segmen mana yang akan kita garap, lalu positioningnya,” kata Guru Besar FEB UGM itu.

Sementara pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Mudrajad Kuncoro mengatakan, kebanyakan usaha yang berkembang saat ini lahir karena meniru usaha yang sudah ada sebelumnya. Mereka tidak memiliki kreasi untuk memunculkan jenis usaha yang berbeda. Menurutnya, diferensiasi produk penting dalam mempertahankan sebuah bisnis.

Tidak berhenti di situ, Mudrajad juga menyampaikan bahwa seseorang yang sudah memutuskan bergelut di dunia bisnis harus siap menerima pesanan dalam skala besar. Hal ini perlu dilakukan agar tidak mengecewakan konsumen.

Usaha mikro menurutnya memang tidak lepas dari masalah. Selain akses permodalan dan akses pemasaran yang terbatas, UMKM juga kesulitan bahan baku. Beberapa kerajinan unggulan DIY yang sampai menembus pasar ekspor, saat ini sudah mulai mengalami kendala kekurangan bahan baku.

Ia mencontohkan, kayu pule yang digunakan untuk membuat topeng kayu justru tidak bisa disuplai dari Jogja tetapi dari Jawa Timur. Perajin perak di Kotagede juga harus mengimpor bahan baku untuk dapat terus berproduksi. Begitu juga dengan kerajinan kulit di Manding, Bantul yang mendatangkan kulitnya dari Magetan. Menurutnya, paradigma membangun UMKM harus diubah, dari berbasis input menjadi berbasis inovasi, dari berbasis proteksi menjadi kompetisi.


ARTIKEL LAINNYA
Pelatihan UMKM UMKM, Investasi Untuk Masa Depan
Pelatihan UMKM KPP Pratama Jogja Dorong UMKM Berpikir Kreatif
Foto bersama para UMKM yang menerima bantuan dari Indomaret, Kamis (28/9/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) Agar Masuk ke Toko Modern, UMKM Perlu Tingkatkan Produktivitas
Nelvy Lucyana selaku pemilik usaha Omah Butik menunjukkan kalung goni yang dipamerkan di Jogja City Mall, Jumat (15/9/2017). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja) EKONOMI KREATIF : Manfaatkan Limbah Kain Perca Jadi Kalung
Lusi Ekawati menunjukkan beberapa busana lurik rancangannya di butiknya Benang Lusi, Jalan DN Pandjaitan Nomor 44, Jumat (15/9/2017). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja) EKONOMI KREATIF : Pertahankan Kain Tenun ATBM