PENEMUAN TERBARU
Ecody, Pewarna Alam Batik Ini Bikinan UNS Solo

Selasa, 03/10/2017
Pengunjung melihat batik dengan pewarna alam UNS Ecody seusai launching di UNS INN, Solo, Kamis (28/9/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Pengunjung melihat batik dengan pewarna alam UNS Ecody seusai launching di UNS INN, Solo, Kamis (28/9/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)

UNS Solo meluncurkan pewarna alami batik.

Harianjogja.com, SOLO — Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo meluncurkan hasil riset berupa pewarna alam organik untuk batik dan tekstil yang diberi nama Ecody.

Peluncuran produk yang dikembangkan dosen Fakultas Teknik (UNS) yang juga Guru Besar Bidang Konservasi Energi, Suyitno, tersebut dilangsungkan di UNS Inn, Kamis (28/9/2017).

Kepala Badan Pengelola Usaha (BPU) UNS, Eddy Tri Haryanto, mengemukakan riset tentang produk pewarna alam dimulai sekitar 2009. Saat ini telah diproduksi dan dimanfaatkan oleh pengrajin batik tulis di Soloraya.

Dari inkubasi yang dilakukan BPU UNS dalam kurun waktu setahun terakhir terhadap pewarna alam Ecody di pasar domestik maupun asing menunjukkan potensi pangsa pasar yang sangat bagus.

“Saat ini produk ini siap diproduksi massal ke industri,” kata Eddy saat jumpa wartawan di UNS Inn, Kamis. Namun, Eddy mengemukakan sejauh ini UNS baru bisa mengalokasikan lahan seluas 3 hektare untuk pembudidayaan tanaman tersebut. Padahal jika untuk produksi massal dibutuhkan banyak tanaman indigofera dan lainnya.

Ke depan, Eddy menilai perlu menggandeng para petani untuk membudidayakan tanaman penghasil warna alam. Apalagi tanaman indigofera dinilai juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani di lahan marginal.

Produk Ecody diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pewarna tekstil sintetis yang 95 persen masih impor. “Pewarna alam ini aman untuk kulit dan sisa pewarnaan tidak menjadi limbah sisa produksi. Limbah bisa dimanfaatkan sebagai biogas dengan tambahan kotoran sapi,” kata Eddy.

Suyitno menambahkan produk pewarna yang dikembangkannya tersebut memiliki keunggulan di antaranya kualitas ketahanan warna mencapai skor 4,5 dari maksimal skor 5. Efisiensi proses pencelupan hanya 5-6 kali dibandingkan pewarna alam lain yang memerlukan 26 kali pencelupan. Selain itu warna alam yang dikembangkan UNS ini memiliki warna yang lebih cerah dibandingkan pewarna serupa. “Aplikasinya juga sangat mudah,” kata dia.

Pewarna alam yang dikembangkan UNS terdiri atas warna biru, merah, kuning, dan hijau. Warna-warna tersebut diperoleh dari tanaman indigofera, pohon soga tinggi, kayu secang, dan kayu tegeran. Pewarna yang diproduksi terbatas saat ini hanya tersedia dalam bentuk serbuk dan pasta.

Rektor UNS, Ravik Karsidi, mengapresiasi langkah BPU dalam pengembangan produk hasil riset pewarna alam. Menurutnya, hasil riset perguruan tinggi harus mendatangkan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat.


ARTIKEL LAINNYA
Bawang bombai (Oddity Central) Sunion, Bawang Bombai yang Tak Bikin Nangis Saat Diiris
PILKADA 2018 : 2 Cabup Sama-Sama Petahana, Panwaslu Karanganyar Khawatirkan Netralitas ASN
Foto ilustrasi: Kurang tidur atau tidur kurang berkualitas bisa memicu infertilitas pada wanita (sleepreviewmag.com) Sulit Tidur Malam? Coba Tulis Rencana Anda Esok Hari
Piramida di Mesir (dailymail.co.uk) Dua Bangunan Mesir Kuno Ditemukan Aswan
Juliyatmono dan Rober Christanto naik sepeda onthel saat akan mendaftarkan diri ke KPU Karanganyar, Rabu (10/1/2018). (Istimewa/Timses Juliyatmono-Rober Christanto) Pengamat Politik Sebut Pilkada Karanganyar 2018 Sudah Selesai