Mengapa Ternak di Gunungkidul Terus Diserang Hewan Liar?

Rabu, 11/10/2017
Sejumlah warga melihat korban kambing mati yang diserang hewan liar di Dusun Duwet, Desa Purwodadi, Tepus, Selasa (10/10/2017). (Istimewa/Pemdes Purwodadi)
Sejumlah warga melihat korban kambing mati yang diserang hewan liar di Dusun Duwet, Desa Purwodadi, Tepus, Selasa (10/10/2017). (Istimewa/Pemdes Purwodadi)

Serangan terhadap ternak di Gunungkidul terus terjadi.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Serangan hewan liar terhadap ternak warga kembali terjadi di Desa Purwordadi Kecamatan Tepus, Gunungkidul. Peristiwa serangan terus berulang karena warga enggan memindahkan hewan ternak yang berada di kawasan hutan.

Serangan yang terjadi pada Selasa (10/10/2017) dini hari ini terjadi di Dusun Duwet dan mengakibatkan 12 ekor kambing mati. Sedang dua ekor lainnya ditemukan warga dalam kondisi terluka. Total hingga sekarang di wilayah Purwodadi terdapat 56 kambing mati karena diserang oleh kawanan hewan liar.

Kepala Dusun Duwet, Purwodadi Taufik mengatakan, serangan yang terjadi kemarin bukan hal yang baru. Pasalnya, kejadian tersebut telah terjadi berulang dan mengakibatkan puluhan ekor kambing mati. “Tidak hanya serangan yang berulang, tapi dari ciri korban memiliki luka yang hampir mirip sehingga disimpulkan pelaku penyerangan merupakan kawanan yang sama,” kata Taufik kepada wartawan, Selasa (10/10/2017).

Untuk mengatisipasi serangan, pihak desa sudah membuat imbauan agar ternak yang ada di kawasan hutan dipindah mendekat ke rumah. Namun demikian, imbauan tersebut kurang diperhatikan warga sehingga kejadian yang sama terus berulang. “Sudah ada imbauan, tapi masih ada warga yang nekat memelihara kambing di tengah hutan,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Seksi Pemerintahan Desa Purwodadi Suyanto. Menurut dia, pihak desa hanya bisa mengimbau, sedang keputusan memindahkan lokasi kandang mendekat ke pemukiman sepenuhnya berada di tangan masyarakat. “Sebenarnya ini dilematis juga karena saat kandang dipindah ke rumah, maka sumber untuk pakanan ternak berkurang. Namun apabila, kambing di taruh di hutan agar sumber pakan tersedia dengan mudah, tapi keberadaannya terancam dari serangan hewan liar,” ungkapnya.

Yanto menambahkan, hingga sekarang masih ada warga yang memelihara ternak di hutan. Hal ini dilakukan dengan dalih agar ketersediaan pakan untuk ternak dapat terpenuhi. “Alasan warga tidak ingin susah-susah mencari pakan karena sumbernya banyak ditemukan di hutan,” katanya.

Baca Juga : SERANGAN HEWAN : Tak Hanya Gunungkidul, Anjing Liar Juga Tewaskan Ternak di Kulonprogo

Menurut dia, untuk mengantisipasi serangan hewan liar di wilayah Purwodadi, pihak desa sudah melakukan dengan beberapa cara. Salah satunya dengan melakukan perburuan bersama anggota Perbakin Gunungkidul. Namun demikian, lanjut Yanto, perburuan belum membuahkan hasil karena warga tidak menemukan satu ekor pun hewan yang menyerang ternak warga.

Terpisah, Kepala Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Suseno Budi mengaku sudah mendapatkan kabar tentang serangan hewan liar di Purwodadi. Untuk mengetahui penyebab pasti, Suseno mengaku sudah berkoordinasi dengan UPT Pusat Kesehatan Hewan Tepus guna melakukan penelitian di lapangan. “Pelaku penyerangan belum diketahui secara pasti, tapi dari ciri-ciri serangan yang terjadi sleama ini dilakukan oleh hewan yang sama,”  tutur dia.

Hingga saat ini serangan hewan liar terjadi di Kecamatan Rongkop dan Tepus. Untuk serangan di Tepus terdapat 56 kambing mati, sedang di wilayah Rongkop 13 kambing milik warga mati karena digigit.


ARTIKEL LAINNYA
Alat Penjebak Hewan Liar Gunungkidul Alat Penjebak Hewan Liar Aman untuk Manusia
Sejumlah anak-anak melihat kambing-kambing mati karena serangan hewan misterius di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus. Minggu (10/9/2017). (IST/dok. Pemdes Purwodadi) Warga Akan Diajari Buat Perangkap Jebakan Hewan Liar
Sujarno tengah memoles topeng dengan kuas dari bambu, Kamis (11/9/2014). (JIBI/Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah) Pelaku Seni Topeng ‘Bangkit’ Setelah 31 Tahun ‘Mati Suri’
Jaga Kebersihan dan Kerukunan dengan Gugur Gunung
Banyak Tanah, Jalan Hutan Perjaten Berbahaya