Tumor Seberat 18 Kg Diangkat dari Tulang Belikat Pasien RSUD dr. Moewardi Solo

Kamis, 12/10/2017
Dokter spesialis ortopedi onkologi RSUD Dr. Moewardi Solo dr. Rhyan Darma Saputra (kiri) menjelaskan prosedur operasi tumor ganas di tulang belikat pasien RS tersebut, Kamis (12/10/2017). (Istimewa/Ari Purnomo)
Dokter spesialis ortopedi onkologi RSUD Dr. Moewardi Solo dr. Rhyan Darma Saputra (kiri) menjelaskan prosedur operasi tumor ganas di tulang belikat pasien RS tersebut, Kamis (12/10/2017). (Istimewa/Ari Purnomo)

Dokter di RSUD dr. Moewardi Solo berhasil mengangkat tumor ganas seberat 18 kg dari tulang belikat pasien.

Harianjogja.com, SOLO — Tim dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi Solo berhasil mengangkat tumor ganas seberat 18 kilogram (kg) di tulang belikat salah satu pasien asal Ngawi, Kamis (5/10/2017). Jenis kanker tersebut tergolong langka karena hanya terjadi pada satu di antara 30.000 kasus kanker.

Salah satu anggota tim dokter, dr. Rhyan Darma Saputra, mengatakan pasien yang ditangani bernama Ny. S, 45, asal Ngawi, Jawa Timur. Pasien itu memiliki benjolan di bahu kiri yang mulanya hanya dianggap bisul.

Benjolan itu kemudian membesar dengan sangat cepat hanya dalam waktu 5-6 bulan hingga sebesar kepala orang dewasa. “Pasien mengeluhkan tak bisa lagi tidur telentang atau miring saat tiba di [RSUD dr.] Moewardi pada Mei 2017. Pasien kemudian menjalani pengobatan alternatif selama tiga bulan. Pada akhir Agustus atau awal September lalu pasien kembali kemari. Kami kemudian melakukan diagnosis lebih mendalam,” papar dokter spesialis ortopedi onkologi tersebut saat jumpa pers di RS setempat, Kamis (12/10/2017).

Menurutnya, kasus itu tergolong berat karena pasien berisiko kehilangan anggota gerak kiri. Ia menyatakan kasus tumor ganas pada tulang belikat hanya terjadi satu dibanding 30.000 kasus kanker.

“Kebanyakan kasus kanker pada anggota gerak biasanya selalu dianggap hanya bisa diselesaikan dengan amputasi. Tapi kami berusaha mengangkat tumor dengan tetap mempertahankan organ geraknya,” papar dia.

Problemnya, kata dr. Rhyan, setelah diperiksa ternyata tumor itu kaya struktur pembuluh darah. Hal itu yang membuatnya cepat membesar. Biasanya tumor tulang hanya menyerang tulang tanpa mengganggu jaringan lain dengan masif.

“Karena banyak pembuluh darah, risiko kematian tinggi. Kesimpulannya, anggota gerak tangan kiri bisa dipertahankan dengan risiko tinggi,” papar dia.

Operasi pengangkatan tumor itu berlangsung tujuh jam. Hampir separuh badan pasien diambil. Mereka harus membuang seluruh jaringan yang sudah terkontaminasi tumor ganas, termasuk tulang bahu dan tulang belikat. Sebagai gantinya, tim dokter memasang kawat sebagai ganti tulang.

“Ternyata, tumor tersebut mencapai berat 18 kg. Waktu kami operasi, terjadi pendarahan hingga tiga liter. Tapi, tanpa kerja tim, jumlah pendarahan bisa dua kali lipat,” katanya.

Mereka kemudian menutup bagian kulit yang dikelupas. Hari itu pasien sudah bisa menggerakkan tangan meski fungsinya kini tak bisa 100 persen seperti sediakala, misalnya fungsi mengangkat bahu keluar sudah tidak bisa.

Ia menjelaskan kerja tim belum selesai. Mereka akan melakukan evaluasi untuk menentukan tindakan lanjutan, apakah pasien harus mendapat kemoterapi atau penyinaran untuk memusnahkan sel kanker.

“Kami belum tahu penyebab pasti tumor tersebut. Secara umum biasanya multifaktorial seperti genetis, lingkungan, dan gaya hidup. Kalau kasus ini adalah tumor tulang dari sumsum tulang. Kemungkinan ada perubahan genetik sehingga tumbuh kanker,” terangnya.

Kanker sumsum tulang memang banyak terjadi. Tetapi seharusnya tidak menyebabkan pembuluh darah sebanyak itu dan benjolan sebesar itu. Biasanya, efeknya adalah rusaknya tulang pasien.

“Selama tiga tahun terakhir, baru dua kasus yang ditangani seperti ini. Sisanya diamputasi. Dengan persiapan yang salah, bisa saja ada prosedur amputasi. Kalau enggak, pilihanya pasien justru meninggal,” paparnya.

Dokter spesialis Bedah Thorax Kardiak dan Vaskuler (BTKV) yang menjadi bagian tim dokter, dr. Darmawan Ismail, mengatakan kasus itu rumit karena ia harus melakukan embolisasi atau menutup atau membuntukan pembuluh darah ke kankernya. Dalam prosesnya, hal itu tidaklah sederhana.

Ia bersyukur tak ada efek samping setelah operasi. Pembuluh darah di tangan berfungsi baik. Efek ke leher belakang dan otak bagian belakang juga aman.

Pakar patologi anatomi RSUD Dr. Moewardi Solo, Prof. Dr. dr. Ambar Mudigdo, mengatakan kasus itu bukan kasus sembarangan. Menurutnya, tumor ganas itu sebaiknya ditangani sangat dini bahkan mulai sub sel atau sel.

“Yang kami tangani ini sel tumor sudah merambat ke jaringan, organ, sistem, kena semua. Manajemen sangat berat, rumit, dan mahal. Untung dibantu BPJS. Saya bertugas memastikan penyakit dan jenisnya. Kalau sudah diketahui sub tipe kanker ini, kami bisa lebih fokus, lebih jelas dalam pemilihan manajeman dan pengobatannya,” ujar dokter spesialis patologi anatomi itu.


ARTIKEL LAINNYA
Petugas pemadam kebakaran memadamkan api di rumah warga Kampung Dawung Wetan RT 001/RW 014, Danukusuman, Serengan, Senin (6/11/2017). (Muhammad Ismail/JIBI/Solopos) Bapak-Anak Korban Kebakaran akibat Elpiji Meledak di Dawung Wetan Solo Meninggal Dunia
Ilustrasi mayat Mahasiswa Uniba Solo Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Indekos
Echa hanya bisa berbaring saat dijenguk teman-teman sang ayah (Facebook) Tertidur Dua Pekan, “Putri Tidur” di Banjarmasin Akhirnya Buka Mata
Echa hanya bisa berbaring saat dijenguk teman-teman sang ayah (Facebook) Aneh Tapi Nyata! Bocah Banjarmasin Tidur 15 Hari Nonstop
Amy Shaw (kanan) dan anaknya, Wyatt Shaw. (Istimewa/Dailymail.co.uk) Bocah 7 Tahun Tidur Pulas 11 Hari, Saat Diperiksa Dokter Ternyata…