Bursa Botohan Hari H Pilkades Sragen Tembus Rp1 Miliar Lebih

Kamis, 07/12/2017
Warga memasukan surat suara saat mengikuti pencoblosan di TPS 13, Perumahan Margosari, Desa Puro, Karangmalang, Sragen, Rabu (6/12/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)
Warga memasukan surat suara saat mengikuti pencoblosan di TPS 13, Perumahan Margosari, Desa Puro, Karangmalang, Sragen, Rabu (6/12/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)

Botoh yang muncul saat pemilihan kepala desa (Pilkades) di Sragen belum bisa dihapus.

Harianjogja.com, SRAGEN — Pilkades Sragen digelar serentak Rabu (6/12/2017). Bursa botohan saat hari coblosan tembus lebih dari Rp1 miliar.

Dua cangkir kopi hangat menemani perbincangan Harianjogja.com, dengan HR, 54, seorang botoh pemilihan kepala desa (pilkades) kursi kayu sepanjang lima meter di depan rumahnya.

Dua buah ponsel tergeletak di depannya. Ponsel Android sering bergetar karena ada pesan masuk dan panggilan. Perbincangan Solopos.com dan HR sering terputus ketika ada panggilan masuk.

Pur 250 suara wani. Jelas memang wetan [timur]. Bedowo masuk, 100 suara. Karang kui ga isoh dicekel [tidak bisa dipegang]. Kamponan isoh [bisa],” ujar HR saat berbincang dengan seseorang di ujung ponselnya, Rabu (6/12/2017).

HR menjelaskan pemetaan dan peluang suara di wilayah Desa Kedungupit Kecamatan Sragen Kota dan Desa Jetak Kecamatan Sidoharjo, Sragen, yang menjadi ajang permainan botoh pada pilkades serentak 2017 ini. Ada 10 desa yang menggelar pilkades serentak pada Rabu kemarin.

“Hari ini [kemarin], saya di rumah saja. Kalau keluar ya bahaya. Saya sudah jadi TO [target operasi] polisi,” ujarnya dengan penepon lainnya.

Pantau Keadaan

HR sempat didatangi aparat dari kepolisian dan TNI di kediamannya beberapa waktu lalu. Sebagai botoh yang berpengalaman, ia tidak mungkin terlibat langsung dalam permainan botoh. Ia hanya memantau dari kejauhan tentang hasilnya.

Sejak H-1, Selasa (5/12), HR sudah bisa memprediksi kemenangan calon kepala desa (cakades) tertentu yang dijagokan. Untuk upaya itu, HR pun sudah membagi-bagikan uang lewat orang-orang kepercayaan yang ditanam di setiap desa untuk mengondisikan warga pemilih kea rah cakades yang diingini botoh. (Baca: Hasil Pilkades Sragen)

Botoh yang masuk ke Kedungupit dan Jetak itu berasal dari luar daerah, seperti Pati, Ngawi, Madiun, Grobogan, dan Karanganyar.

Tembakane [tembakannya] berbeda-beda agar pilihan warga bisa berubah pada hari H. Bagi-bagi uang itu kami lakukan mulai waktu Asar pada Selasa kemarin hingga mau nyoblos ke TPS [tempat pemungutan suara] pada hari ini [Rabu]. Kalau di Kedungupit itu sebar uang merata Rp200.000/orang untuk calon yang diingini botoh. Kalau untuk di Jetak cukup hanya Rp100.000 per orang karena tipe warga di Jetak berbeda,” ujarnya.

HR melihat dua tipikal warga yang berbeda di dua desa tersebut. Tipikal pilihan warga di Desa Kedungupit masih bisa dipengaruhi berdasarkan nilai rupiah. Sementara pilihan di Desa Jetak di mata HR cenderung mengarah ke massa militan ke calon tertentu.

“Ketika botoh menyebar uang Rp100.000/orang sementara dari pihak lawan menyebar sampai Rp200.000/orang ternyata pihak lawan itulah yang tidak mendapat suara signifikan,” ujarnya.

HR dan teman-teman botohnya dari luar daerah tertarik bermain di dua desa itu karena para cakadesnya sama-sama berani bertarung. (Baca: Bupati Curigai Transaksi Miliaran Rupiah)

“Beberapa hari lalu masih peredaran uangnya masih Rp400 juta. Pada hari H ini, bursa botohan sudah di atas Rp1 miliar, khususnya di Kedungupit. Kalau di Jetak hanya berkisar Rp900 jutaan,” kata HR.

HR sudah memprediksi pada saat masih proses pencoblosan, perolehan suara di Kedungupit lebih unggul Eko Hartadi daripada Suryanto dengan selisih 400 suara ke atas.

Berdasarkan perolehan suara sementara hasil pilkades Kedungupit dari Bagian Pemerintah Desa Setda Sragen, Eko Hartadi memperoleh 2.066 suara dan Suryanto mendapat 1.783 suara sehingga selisih 283 suara.

Artinya, prediksi botoh kali ini meleset. Kendati demikian botoh bisa mengubah keadaan di Kedungupit yang sebelumnya sama-sama kuat dengan prediksi selisih suara tipis.

Baca Selanjutnya: Perolehan Suara


ARTIKEL LAINNYA
Ilustrasi PNS (JIBI/Solopos/Antara) Siap-Siap! Moratorium PNS Dicabut, Pemkab Sragen Usulkan 2.237 Lowongan CPNS
Warga menggunakan hak pilihnya dalam pencoblosan pilkades di TPS 013, Perumahan Margosari, Puro, Karangmalang, Sragen, Rabu (6/12/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) PILKADES SRAGEN : Petahana Unggul di 5 Desa
Mbah Saliyem, 82, membopong paket sembako seharga Rp43.000 yang dibelinya dari pasar murah di Balai Desa Pendem, Sumberlawang, Sragen, Selasa (5/12/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Nenek Saliyem Jalan Kaki 1 Km Demi Beli Sembako Murah di Sumberlawang Sragen
Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati memberi pengarahan kepada para cakades, tim sukses, panitia, dan warga agar tidak larut dalam politik transaksional pada pilkades di Balai Desa Jetak, Sidoharjo, Sragen, Senin (4/12/2017). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) PILKADES SRAGEN : Bupati Curiga Ada Politik Transaksional Cakades Bernilai Miliran Rupiah
Gunung Kemukus Sragen (Dok/JIBI/Solopos) MUI Sragen Rekomendasikan Wisata Religi Gunung Kemukus Ditutup