DPD RI dan BI DIY Bahas Upaya Menggenjot Perekonomian DIY

Jumat, 12/1/2018
Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas dan Kepala KPw BI DIY Budi Hanoto saat memaparkan prospek dan rekomendasi tentang perekonomian DIY mendatang di Kantor KPw BI DIY, Rabu (10/1/2018). (IST/Dok KPw BI DIY)
Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas dan Kepala KPw BI DIY Budi Hanoto saat memaparkan prospek dan rekomendasi tentang perekonomian DIY mendatang di Kantor KPw BI DIY, Rabu (10/1/2018). (IST/Dok KPw BI DIY)

Bank Indonesia memberikan sejumlah gambaran prospek dan rekomendasi

Harianjogja.com, JOGJA-DPD RI Dapil DIY membahas penguatan sinergi dan koordinasi dengan SKPD dan Bank Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkesinambungan. Dalam pertemuan itu, Bank Indonesia memberikan sejumlah gambaran prospek dan rekomendasi serta tantangan perekonomian DIY mendatang.

“DPD RI Dapil DIY ingin menggali permasalahan perekonomian yang terjadi di DIY. Dengan harapan bisa mengomunikasikannya ke pemerintah pusat,” ujar Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Rabu (10/1/2018).

Dalam kunjungan kerja tersebut, turut dihadiri sejumlah perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY. Bank Indonesia memberikan sejumlah rekomendasi dan pandangan tentang perekonomian DIY yang disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY Budi Hanoto.

Budi mengatakan, dari sisi inflasi, DIY terjaga rendah dan relatif stabil. Di mana kondisi inflasi menjadi salah satu prasyarat investasi dapat tumbuh dan mewujudkan perekonomian yang berkualitas. Inflasi DIY, kata Budi, yang terkendali menjadi motor penggerak utama dalam menjaga daya beli masyarakat untuk berkonsumsi. Selain itu, kondisi ini membuat kalkulasi rencana bisnis serta investasi menjadi lebih mudah direalisasikan ke sejumlah sektor.

“Diperlukan juga pembangunan ekonomi yang inklusif agar dapat dirasakan masyarakat secara lebih merata. Saat ini, terbatasnya realisasi Penanaman Modal Asing [PMA] dan Penanaman Modal Dalam Negeri [PMDN] menjelaskan adanya peluang yang cukup luas bagi peningkatan realisasi investasi di DIY,” papar Budi.

Budi menjelaskan, sampai dengan Triwulan III tahun 2017, pangsa sumber pembiayaan yang berasal dari investasi, baik PMA maupun PMDN tidak mencapai 1% dibandingkan realisasi investasi di provinsi lain. Sementara, provinsi-provinsi lain di Jawa memiliki pangsa realisasi investasi sebesar 50,29% untuk PMA dan 62,94% untuk PMDN.

Pembangunan di sektor-sektor unggulan, seperti infrastruktur, jasa, dan pendidikan diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif di DIY. Salah satunya, kata Budi, adanya pembangunan infrastruktur bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) diperkirakan dapat menjadi penggerak utama investasi di sekitar kawasan tersebut dan memberikan dampak bagi sektor lainnya di DIY seperti industri perdagangan, hotel dan restoran.

“Selain itu, DIY perlu memanfaatkan momentum pertumbuhan dengan mencari alternatif sumber-sumber pendorong pertumbuhan baru, di antaranya melalui pengembangan industri kreatif,” ungkap Budi.

Di samping industri fashion, kuliner, dan kerajinan, bidang animasi dan games  dapat menjadi salah satu fokus pengembangan DIY di bidang industri kreatif.  Keunggulan DIY dalam sektor ini yakni kualitas SDM, di mana yang  ditunjukkan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DIY peringkat kedua tertinggi di Indonesia, di bawah DKI Jakarta.

“Meski potensi pasar lokal dan global di sektor animasi dan games sangat besar, tantangannya juga tak kalah besar. Untuk itu, diperlukan pembentukan Tim Penguatan UKM lintas lembaga di DIY diyakini mampu mengakselerasi masalah permodalan dan mempermudah akses keuangan UMKM agar lebih bankable,” jelas Budi.

Budi mengatakan, pada tahun 2018, Bank Indonesia DIY meyakini pertumbuhan ekonomi DIY diperkirakan akan lebih baik dengan ditopang peningkatan permintaan domestik. Akselerasi konsumsi rumah tangga, seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat pasca-kenaikan UMK 2018 dan mulainya aktivitas pembangunan fisik Bandara Kulonprogo, akan mendorong kinerja konsumsi dan investasi.

Dari sisi sektoral, pariwisata masih akan tumbuh seiring dengan prospek perbaikan perekonomian global dan domestik yang dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara ke DIY.

“Berdasarkan pertimbangan tersebut, kami optimistis ekonomi DIY 2018 tumbuh pada kisaran 5,2 – 5,6 persen. Untuk mencapai target tersebut, optimalisasi seluruh potensi ekonomi perlu digalakkan sejak dini. Sektor pariwisata yang menjadi motor penggerak perekonomian DIY perlu lebih ditingkatkan,” imbuh Budi.


ARTIKEL LAINNYA
BPD DIY mengajak nasabahnya nonton bareng di XXI Jogja City Mall, Sabtu (17/2/2018). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja) Bank BPD Syariah DIY Ditarget 2020
Sosialisasi Gerakan Nontunai kepada warga oleh BI Jateng di acara CFD Semarang, Minggu (18/2/2018). (JIBI/Bisnis/Alif N.R.) Transaksi Nontunai di Jateng Capai Rp3 Triliun
Penampakan Wuling Cortez yang diluncurkan di Jogja City Mall, Sleman, Rabu (14/2/2018). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Di DIY, Wuling Cortez Bisa Dipinang Seharga Rp227 Juta
Penampakan Wuling Cortez yang diluncurkan di Jogja City Mall, Sleman, Rabu (14/2/2018). (Harian Jogja/Holy Kartika N.S) Wuling Cortez, Medium MPV Pilihan Baru Masyarakat DIY
Ilustrasi pasar sepeda motor BPR Danagung Bakti Tawarkan Kredit Pembelian Motor