PERTANIAN JATENG
Petani Grobogan Tolak Wacana Impor Beras

Jumat, 12/1/2018
JIBI/Solopos/Antara
Ilustrasi petani memanen padi. (JIBI/Solopos/Antara/Dedhez Anggara)
Ilustrasi petani memanen padi. (JIBI/Solopos/Antara/Dedhez Anggara)

Pertanian yang dilakoni para petani di Grobogan, Jateng dikhawatirkan tidak akan menghasilkan keuntungan yang baik jika pemerintah merealisasikan wacana impor beras.

Harianjogja.com, GROBOGAN — Petani di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah menolak wacana impor beras mengingat petani saat ini tengah menikmati masa panen dengan harga jual gabah yang cukup tinggi.

Harsono, salah satu petani asal Desa Ngeluk, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan, Kamis (11/1/2018), mengaku, tidak setuju dengan wacana impor beras, karena petani juga sedang menikmati masa panen dengan harga tinggi.

Sepanjang bertanam tanaman padi, kata dia, dirinya baru merasakan harga jual padi hingga Rp5.500/kg, karena tahun 2016 tercatat hanya laku Rp2.500/kg. Akhir Desember 2017, lanjut dia, harga jual padi hanya Rp4.500/kg, namun pekan ini naik menjadi Rp5.500/kg.

Jika impor direalisasikan, dia memastikan harga jualnya akan turun, terlebih dalam waktu dekat juga akan ada panen serempak, sehingga secara otomatis harga jual gabah di tingkat petani juga akan turun.

Murmin, insan pertanian Grobogan, Jateng lainnya menyatakan penolakan terhadap wacana impor karena tanaman padinya dalam waktu dekat akan panen. “Jika ada beras impor masuk, tentunya harga jual di pasaran juga akan turun,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Grobogan Edy Suprayitno saat menyampaikan sambutan pada acara sarasehan dengan petani di Balai Desa Ngeluk yang dihadiri puluhan petani juga menyatakan dukungannya untuk menolak wacana impor beras, karena Kabupaten Grobogan termasuk salah satu penyangga pangan di Jateng. “Panen padi cukup melimpah, apakah petani rela ada impor beras?” ujarnya bertanya kepada petani dan dijawab secara serempak untuk menolak impor beras.

Untuk Provinsi Jateng, luas areal panen diperkirakan lebih dari 100.000 ha, sedangkan untuk bulan Februari 2018 diperkirakan bisa mencapai ratusan hektare. Kementerian Pertanian juga mencatat stok beras secara nasional bisa mencapai 1 juta ton, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama 2-3 bulan mendatang.

Sementara luas areal panen untuk skala nasional pada bulan Januari 2018 sekitar 1-1,2 juta hektare, sehingga ketika provitasnya mencapai 6 ton saja, maka memiliki stok 6 juta ton gabah kering panen (GKP). Jika rendemennya mencapai 50%, maka tercatat memiliki 3 juta ton beras, sedangkan tingkat konsumsi beras nasional berkisar 2,6 juta ton.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


ARTIKEL LAINNYA
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyampaikan paparan di hadapan perwakilan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kota Semarang di Balai Kota Semarang, Jateng, Rabu (17/1/2018). (JIBI/Solopos/Antara/Istimewa-Humas Setda Kota Semarang) Wali Kota Semarang Serukan Penghentian Polemik Beras Impor, Begini Alasannya…
Operasi beras Gubernur Jateng Lebih Tegas, Berani Bilang Jateng Tak Butuh Beras Impor
Ilustrasi beras impor (JIBI/Bisnis/Dok.) DIY Tidak Perlu Beras Impor
Ilustrasi Kartu Tani. (JIBI/Solopos/Antara/Seno PERTANIAN JATENG : Distribusi Kartu Tani Ditargetkan Selesai Februari
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo singgah di Pasar Kota Banjarnegara untuk mengecek fluktuasi harga beras saat melakukan kunjungan kerja ke wilayah setempat, Selasa (16/1/2018). (JIBI/Solopos/Antara/Wisnu Adhi N.) Gubernur Jateng Akhirnya Telepon Menteri Pertanian Sikapi Beras Impor