HomeCekfakta

CEK FAKTA: Benarkah Ustaz Maaher Meninggal karena Divaksin Sinovac?

Oleh:Saeno
13 Februari 2021 - 12:37 WIB

Hoaks - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat terdapat dua isu hoaks terkait Covid-19 pada Jumat (12/2/2021) hingga Sabtu (13/2/2021).

Salah satu hoaks itu terkait meninggalnya Ustaz Maaher At-Thuwailibi saat masih ditahan di Bareskrim Mabes Polri. Isu yang beredar menyebutkan bahwa Ustaz Maaher alias Soni Eranata meninggal setelah disuntik vaksin Covid-19.

"Utdz Maheer At-Thuwailibi meninggal karena disuntik vaksi si Novac Cina, oleh Polisi Komunikas Indonesia (PKI)," demikian isu yang beredar di media sosial.

Kominfo menyebutkan berdasarkan penelusuran, klaim bahwa Ustaz Maaher meninggal karena diduntik vaksin Sinovac adalah keliru. Faktanya, Ustaz Maheer meninggal karena sakit.

Mengutip medcom.id, Kominfo menulis bahwa Kepolisian mengumumkan kematian Ustaz Maaher dikarenakan sakit yang sedang diderita. Namun, polisi enggan mengungkapkan penyakit yang diderita Maaher karena terbilang sensitif.

Kominfo menggolongkan hoaks penyebabnya meninggalnya Ustaz Maaher sebagai disinformasi.

Untuk diketahui, hoaks terkait Covid-19 banyak beredar di media sosial. 

Selama sepekan, dari 23 Januari hingga 1 Februari 2021, Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat ada 1.402 kabar bohong atau hoaks terkait Covid-19.

Hoaks tersebut tersebar di media sosial maupun aplikasi berbagi pesan.

Khusus untuk vaksin, Kemkominfo menangani 97 temuan hoaks terkait vaksin Covid-19 hingga 1 Februari 2021.

Koordinator Pengendalian Internet Ditjen APTIKA Kemkominfo Anthonius Malau menyampaikan bahwa Kemkominfo sudah melakukan inisiatif untuk melawan konten-konten hoaks mulai dari hulu sampai hilir.

“Di hulu kita memperkuat kapasitas masyarakat melalui program literasi digital yang kita sebut Siberkreasi. Tujuannya adalah untuk membekali masyarakat dengan keterampilan untuk mengetahui dan memilih konten yang benar,” paparnya dalam Keterangan Pers yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Selasa (2/2/2021).

Lebih lanjut, Anthonius mengatakan di antara hulu dan hilir Kemkominfo melakukan upaya pendekatan kepada platform media sosial untuk melakukan penurunan (take down) konten hoaks tersebut.

Sementara itu, di hilir dilakukan langkah terakhir, ada yang sampai berujung ke penegakan hukum.

“Khusus untuk kasus hoaks Covid-19, ada 104 yang telah dibawa ke ranah hukum,” kata Anthonius.

Selain itu, Kominfo bekerja sama dengan media massa untuk melakukan pengecekan fakta. Menurutnya, pada umumnya media massa memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, karena memiliki proses yang berujung pada kebenaran.

Kemkominfo turut bekerja sama dengan platform media sosial untuk melakukan cek fakta dan memberikan literasi digital kepada masyarakat.

Di samping itu, ujarnya, perlu peran masyarakat untuk mewaspadai berita yang provokatif dan tidak mudah mempercayai berita-berita hoaks.

“Diharapkan masyarakat mampu memeriksa dua hal, pertama apakah sumber valid atau tidak, kedua cek keaslian fakta dan fotonya. Kemudian kami pun mengharapkan masyarakat melaporkan hoaks ke kanal yang kami sediakan ada di nomor WA 08129224545 yang kami buka 24 jam,” terangnya.

Nah, jadi kalau Anda mendapati ada pesan hoaks tentang Covid, jangan ragu melaporkannya ke nomor di atas. 

Di luar itu tetaplah menjalankan protokol kesehatan. Terapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan menggunakan sabun di air mengalir, menjaga jarak) serta upayakan untuk senantiasa menghindari kerumunan dan membatasi mobilisasi dan interaksi.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

Sumber: Kominfo, Bisnis.com Tag: Cek Fakta Editor: Bernadheta Dian Saraswati

Artikel Terkait
CEK FAKTA: Ada Anggota KPU Insaf Mengaku Dibayar Rp250 Juta dan Dijanjikan Rp12 M 2 years ago
CEK FAKTA: Foto Sandiaga Uno dengan Romahurmuziy di Penjara Ternyata Editan 2 years ago
Cek Fakta: Ma’ruf Amin Sebut Tingkat Pengangguran Indonesia Terendah Sejak 1999, Seperti Apa Faktanya? 2 years ago
Cek Fakta: Ma’ruf Amin Sebut Tenaga Kerja Asing Hanya di Jabatan Tertentu, Bagaimana Faktanya? 2 years ago
Cek Fakta: Truk Tulisan Kanji yang Diributkan Andi Arief Dimiliki Perusahaan Sleman, Angkut Logistik Pemilu untuk Kulonprogo 2 years ago

Berita Pilihan

Cek Fakta: Penjelasan Soal Kabar Vaksin Covid-19 Mengandung Cip Mikro Magnetis CEK FAKTA: Vaksin Covid-19 Bahaya Bagi Wanita Menstruasi? CEK FAKTA: Benarkah Panglima TNI Dipecat karena KRI Nanggala Tenggelam? CEK FAKTA: Benarkah Vaksinasi Mandiri Kadin Dipungut Biaya Rp600.000? CEK FAKTA: Benarkah Ramadan 2021 Punya Waktu Siang Terpanjang?
Berita Terbaru
CEK FAKTA: Benarkah PDIP Usul Tutup Semua Pesantren di Seluruh Indonesia? 1 month ago
Beredar Kabar Istri Gus Dur Meninggal Dunia, Alissa Wahid: Sehat, Sedang Mengaji 3 months ago
Hoaks Vaksin Bikin Pasien Covid-19 Makin Parah, Ini Penjelasan Dokter 4 months ago
CEK FAKTA: Benarkah RS Penuh sehingga Jawa Timur Zona Hitam Covid-19? 5 months ago
Cek Fakta: Penjelasan Soal Kabar Vaksin Covid-19 Mengandung Cip Mikro Magnetis 6 months ago

Terpopuler

CEK FAKTA: Benarkah PDIP Bubar dan Kadernya Pindah ke PSI? Cek Fakta: Benarkah Konsumsi Garam Tanpa Dimasak Baik untuk Kesehatan? CEK FAKTA: Subsidi Kuota Internet 75 GB Kominfo CEK FAKTA: Pernyataan Haedar Nashir soal Muhammadiyah Tak Harapkan Bantuan Pemerintah, Palsu CEK FAKTA: Polisi Sita Sabu-Sabu Sekontainer, Benarkah?
CEK FAKTA: Vaksin Covid-19 Bahaya Bagi Wanita Menstruasi? 6 months ago
CEK FAKTA: Benarkah Jumlah Kasus Covid-19 Klaten Meledak? 6 months ago
CEK FAKTA: Benarkah PM Israel Ancam Muslim dengan Vaksin? 6 months ago
CEK FAKTA: Benarkah Panglima TNI Dipecat karena KRI Nanggala Tenggelam? 7 months ago
Positif Covid Disebabkan Kekurangan Vitamin Bukan Karena Virus, Benarkah? 7 months ago