HomeEkbis

Penertiban Pondokan Tak Bisa Sembarangan, Ini yang Harus Dipertimbangkan

Oleh:Herlambang Jati Kusumo
22 Januari 2020 - 08:37 WIB

Ilustrasi hotel - JIBI

Harianjogja.com, JOGJA—Upaya Pemerintah Kota Jogja melalui Satpol PP untuk mengintensifkan pengawasan terhadap operasional pondokan agar tetap sesuai izin dan tidak disalahgunakan untuk fungsi lain termasuk operasional virtual hotel dinilai perlu dipertimbangkan lagi.

Sebelumnya Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Jogja, Agus Winarto menyatakan aturan untuk pondokan sudah cukup jelas. Salah satunya adalah tidak boleh menyewakan kamar secara harian. Berbeda dengan manajemen hotel yang memungkinkan untuk menyewakan kamar secara harian. Oleh karena itu, Agus mengatakan, akan mengintensifkan pengawasan.

Menanggapi hal ini, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, sekaligus pengamat pariwisata, Ike Janita Dewi melihat pengawasan dengan Satpol PP perlu dipikirkan lagi. “Jika Satpol PP langsung diterjunkan, framing-nya bisa kemana-mana dan menimbulkan citra negatif bagi destinasi. Apalagi netizen sekarang jauh lebih aktif. Jangan sampai upaya mengusir tikus harus sampai membakar rumah,” ujar Ike, Selasa (21/1).

Menurut Ike, dalam era sharing economy, virtual hotel operator (VHO) ini adalah fenomena yang tidak terelakan. Pemerintah harus berpikir keras untuk menyusun regulasi yang tepat. Dalam penanggulangan VHO sebaiknya penanganan secara positif menggunakan regulasi umum. Dicontohkannya, perpajakan pembinaan perizinan, dan standardisasi usaha. Harus ada sosialisasi terus menerus dan sanksi diterapkan secara bertahap. “VHO harus menjadi pengusaha yang bertanggungjawab, yaitu dengan mengikuti regulasi dan standarisasi usaha akomodasi yang berlaku. Saya belum pernah meneliti secara sistematis. Saya lihat di Jogja jumlahnya belakangan ini meningkat pesat. Ini saatnya Pemerintah harus menyusun regulasinya,” katanya.

Dikatakannya VHO memang memiliki plus dan minus. Kelebihannya VHO meningkatkan kapasitas destinasi dalam hal akomodasi. Juga menyediakan ragam pilihan akomodasi bagi segmen yang lebih sensitive harga dan melek teknologi.

Kekurangannya, standardisasi akomodasi tidak bisa dipastikan dan ada risiko safety & security, karena usaha seperti ini tidak mengikuti regulasi dan proses perizinan, pemerintah tidak bisa menjamin risiko yang bisa dialami wisatawan. Pemerintah juga tidak mendapat pajak. Jika tidak ada regulasi yang jelas, VHO ini merusak logika industri perhotelan dan akomodasi yang ada. 

Legalitas Benar

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardyanto Setyo Ajie mengatakan setuju dengan pengaturan VHO atau langkah Pemkot.  “Bisnis itu harus dibangun dari legalitas yang benar, dengan sistem yang benar serta tata niaga yang benar, jadi sehat dalam berkompetisi dan output-nya pasti lebih baik,” ucapnya.

VHO harus diatur dengan regulasi yang ketat serta monitoring yang intens tentang pergerakan VHO. “Mereka sering melakukan burning money yang mengakibatkan nilai properti turun, nilai kompetitif juga menjadi rusak, dan responsibilitas mereka kadang juga sulit di pertanggung jawabkan, mereka harus diberikan regulasi yang sama dengan industri perhotelan lainnya,” ujarnya.

Meski begitu, selain ada kekurangan yaitu tidak diatur oleh regulasi yang benar, karena sifatnya virtual maka sisi hukuman dan tanggung jawab sulit untuk dikenakan. Namun menurut Bobby, sisi positifnya dengan penjualan VHO yang bagus sehingga jauh lebih efisien dan maksimal.

 

Tag: hotel Editor: Mediani Dyah Natalia

Artikel Terkait
Gong Xi Fa Cai! Rayakan kemeriahan Tahun Baru Imlek di Alila Solo 5 days ago
Ini Alasan Waktu Check In Hotel Jam 2 Siang dan Check Out Jam 12 Siang 6 days ago
Ulang Tahun ke 6 Favehotel Malioboro Usung Tema Kembali ke 80-an 6 days ago
Sambut Libur Imlek, Ini Paket Promo Menarik yang Ditawarkan Swiss-Belboutique Yogyakarta 6 days ago
Pameran Seni Wabi-Sabi, Persembahan Artotel Artspace dan Miftah Rizaq 1 week ago

Berita Pilihan

Ini Cara Menjaga Kesehatan Finansial di 2022 Hujan Emas Roti Ropi Selamat Tinggal, Ini Deretan Ritel Modern yang Tutup pada 2021 Dukung Energi Terbarukan, 2 Perusahaan Besar DIY Teken Kontrak Pembelian REC PLN Pusmanpro Tuntas Supervisi 79 Proyek PLN, Sistem Kelistrikan RI Kian Kuat
Berita Terbaru
Bank BPD DIY Apresiasi kepada Kawasan Wisata Breksi 16 hours ago
Gelegar Cuan PLN Mobile: Nikmati Manfaatnya, Dapatkan Hadiahnya 16 hours ago
1.400 Karyawan Bank Bukopin Mengundurkan Diri, Ini Alasannya 1 day ago
Transaksi Digital Banking Nyaris Tembus Rp50 Kuadriliun Tahun Ini 1 day ago
Kembangkan Potensi Esports, Smartfren Jadi Sponsor Utama Tim Genesis Dogma 2 days ago

Terpopuler

Anggota DPR Fraksi PDIP: Tax Amnesty Malah Ciptakan Paham untuk Tak Patuh Pajak BBM BARU : Dexlite Lebih Murah dan Berkualitas, Mau Coba? Semarakkan Momen Gajian di Tengah Ramadan, ShopeePay Mantul Sale Menggebrak dengan Promo Rp1 hingga Gratis Ongkir Indonesia-Malaysia Segera Perdagangkan Energi Listrik Inflasi Jogja Diprediksi Mereda
Satu Lagi Pelanggan PLN UP3 Semarang Gunakan 100% EBT 2 days ago
Sinergi Atasi Tantangan Pembiayaan Ultra Mikro 3 days ago
Chinese Buffet Dinner: Journey of Flavor, Cita Rasa Kuliner Terbaik di Yogyakarta Kitchen 4 days ago
Begini Perhitungan Pajak UMKM Sesuai Aturan Terbaru 4 days ago
Ini Dia Kunci agar UMKM Bertahan saat Pandemi 4 days ago