Ekbis

Gawat! Kemelut UU Cipta Kerja Berpotensi Bebani Sentimen Investor

Penulis: Dany Saputra
Tanggal: 26 November 2021 - 14:27 WIB
Presiden Joko Widodo dalam keterangan resmi tentang UU Omnibus Law Cipta Kerja pada Jumat, 9 Oktober 2020, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat. - BPMI Setpres

Harianjogja.com, JAKARTA - Pernyataan inkonstitusional dari Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap Undang-Undang Cipta Kerja belum lama ini berisiko membebani sentimen investor jangka pendek, di atas kemungkinan penundaan arus masuk FDI dalam jangka menengah.

Kepala Ekonom Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro mengatakan keputusan MK ini dapat memicu berbagai ketidakpastian. Dia mencontohkan besaran pesangon bagi perusahaan yang memberhentikan pekerjanya; tata ruang dan peraturan lingkungan untuk industri yang membangun pabrik baru.

Kemudian kepemilikan asing dan peraturan lainnya terkait merger dan akuisisi (M&A) dan teknis Omnibus Law yang ada, karena pemerintah sekarang dilarang mengeluarkan peraturan perundang-undangan lanjutan atau peraturan turunannya.

Pemerintah sendiri mempunyai tenggat dua tahun untuk untuk menyelesaikan masalah struktural undang-undang tersebut. Namun, Satria melihat amandemen undang-undang mungkin memakan waktu lebih lama kali ini, karena MK juga menyoroti kelemahan prosedur dalam Omnibus Law, misalnya kurangnya transparansi dan partisipasi publik selama proses. 

"Biasanya, investor berada dalam momen wait and see satu tahun sebelum pemilihan [2023], tetapi [masalah] ini bisa mendorongnya lebih awal," ungkap Satria.

Jika dalam dua tahun tidak diperbaiki, maka semua UU yang telah dicabut oleh UU Cipta Kerja itu otomatis berlaku kembali.

Dalam putusannya, MK melarang pemerintah menerbitkan peraturan pelaksana terhadap UU Cipta Kerja selain yang sudah ada. Selain itu, MK juga melarang pemerintah mengambil kebijakan-kebijakan baru yang berdampak luas yang didasarkan atas UU Cipta Kerja selama belum diperbaiki. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : bisnis.com

Berita Terkait

Aset Mewah dari Investasi Walet Fiktif Disita Polisi
Raup Investasi Rp401 Triliun dari Jepang, Seskab: RI Magnet Dunia
Investor Asia Tarik Dana dari Dubai, Pindah ke Singapura
Investor Pemula Rentan, LPS Minta Data Pribadi Tidak Dibagikan

Video Terbaru

Berita Lainnya

  1. Panduan Lengkap Slot Online di JendelaToto
  2. Panduan Lengkap Main di Jendelatoto
  3. Main Slot Gacor Mudah Menang 2025
  4. Best Strategies for Togel Players

Berita Terbaru Lainnya

OJK DIY Soroti Kesenjangan Literasi dan Akses Keuangan Syariah
Rangkaian Poin Penting dari Peresmian Pabrik Listrik di Magelang
Harga Kedelai Naik Perajin Tempe Dorong Produksi Kedelai Lokal
Guru Besar UMY: Defisit APBN Melebar Kebijakan BBM Masuk Zona Risiko
Prabowo Gagas Pusat Avtur dari Sawit dan Jelantah
Plastik Naik Dua Kali Lipat, Usaha Jogja Mulai Tertekan
KUHP Baru Ubah Arah Hukum Bisnis, Dunia Usaha Diminta Siap
Utang Dijaga Ketat di Tengah Sinyal Ekonomi Menguat
Melonjak, Ini Harga Emas Antam, UBS dan Galeri24 Kamis 9 April 2026
Bank Dunia: Ekonomi Indonesia Diprediksi Tumbuh 4,7 Persen di 2026