HomeEkbis

Ini 3 Faktor Penyebab Harga Bitcoin Anjlok

Oleh:Feni Freycinetia Fitriani
07 Desember 2021 - 08:37 WIB

Ilustrasi aset kripto Bitcoin - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA - Bitcoin, aset kripto dengan kapitalisasi terbesar di dunia, anjlok hingga hampir 40% dari titik ATH (rekor tertingginya sepanjang masa) yang dicapai pada 9 November 2021. 

Dikutip dari Coindesk, aset kripto Bitcoin berada di level US$42.019,86 atau setara dengan Rp 607.050.412,46. Penurunan ini juga merupakan titik terendah Bitcoin dibandingkan dengan dua bulan terakhir atau sejak September 2021.

Akibat penurunan tersebut, mayoritas aset kripto dengan kapitalisasi pasar yang besar ikut turun. Di hari yang sama, Ethereum (ETH), Avalanche (AVAX), dan Shiba Inu (SHIB) mengalami penurunan hingga 15 persen.

Binance Coin (BNB) turun hingga 13 persen, Solana (SOL) 18 persen, Polkadot (DOT) 25 persen, Cardano (ADA) 20 persen, Ripple (XRP) 26 persen, dan Dogecoin (DOGE) 25 persen.

Co-Founder Zipmex Indonesia Raymond Sutanto mengatakan bahwa koreksi harga aset kripto sebenarnya masih merupakan hal yang normal dan sehat. Koreksi yang terjadi merupakan bagian dari pasar yang tidak bisa dihindari, tetapi masih dapat dimanfaatkan.

“Dalam kondisi ini, investor sebaiknya memanfaatkan momen yang ada sesuai dengan profil risiko yang mereka miliki," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (6/12/2021).

Untuk investor yang memiliki profil risiko dengan toleransi tinggi, dia menilai momen koreksi BTC bisa dianggap sebagai ‘diskon’ untuk memasuki pasar dan membeli Bitcoin di harga yang lebih murah atau istilahnya buy the dip.

Sementara itu, kata dia, bagi investor dengan tingkat toleransi yang kecil, bisa membeli secara akumulatif atau menggunakan metode dollar cost averaging (DCA).

Raymond mengungkapkan ada 3 faktor penyebab anjloknya harga Bitcoin dan koin kripto lainnya dalam beberapa hari terakhir.

1. Ditolaknya WisdomTree Bitcoin Trust oleh SEC

The Securities and Exchange Commision menolak reksa dana WisdomTree Bitcoin Trust pada 1 Desember 2021 lalu. Hal ini disebabkan karena proposal yang diajukan WisdomTree Bitcoin Trust belum mampu memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh SEC mengenai pencegahan tindakan manipulatif dan kecurangan.

2. Bitcoin Dianggap Sebagai Kompetitor Sistem Perbankan Dunia

Gary Gensler, Ketua Komisi SEC mengungkapkan bahwa Bitcoin merupakan kompetitor bagi sistem perbankan dan konsensus keuangan di seluruh dunia.

Anggapan ini merupakan tanggapan atas tujuan diciptakannya Bitcoin oleh Satoshi Nakamoto. Sebab, Bitcoin awalnya diciptakan pada 2009 sebagai reaksi Nakamoto terhadap krisis keuangan hebat yang melanda Amerika pada 2008.

3. Tapering The Fed

The Federal Reserve (The FED) akan mulai mengurangi pembelian aset atau tapering demi menarik kembali sejumlah besar bantuan yang telah disalurkan oleh bank sentral AS.

Hal ini dilakukan untuk menormalisasi kebijakan moneter dan menaikkan suku bunga pada tahun 2022, tepatnya pada Juni, September, dan Desember.

Kebijakan tapering tersebut membuat kebanyakan investor memutuskan untuk melepaskan aset-aset berisiko seperti saham dan aset kripto. Kemudian memutuskan untuk beralih ke dolar AS yang dianggap akan menguat.

Tren tersebut dapat dilihat dari penurunan kapitalisasi pasar aset kripto yang tadinya berada di angka 1,1 triliun dolar AS menurun hingga 900 miliar dolar AS hanya dalam hitungan jam.

Di waktu yang bersamaan, lanjutnya, tingkat likuidasi pasar meroket hingga 2,5 miliar dolar AS yang berasal dari 400 ribu trader.

Kendati mengalami penurunan yang signifikan, dia menuturkan kondisi tersebut juga dimanfaatkan dengan baik oleh El Salvador. Di tengah harga Bitcoin yang merosot, Presiden El Salvador Nayib Bukele justru membeli 150 BTC.

"Pembelian BTC itu merupakan salah satu cara El Salvador mewujudkan impiannya membangun kota Bitcoin yang rencananya akan berdiri di kawasan tenggara La Union," imbuhnya.

Selain itu, salah satu perusahaan analitik terdepan di aset kripto, MicroStrategy melakukan akumulasi selama periode Oktober-November 2021 hingga mencapai 7 ribu BTC dengan total dana pembelian US$414 dolar.

Sumber: JIBI/Bisnis.com Tag: Uang Digital Editor: Budi Cahyana

Artikel Terkait
Transaksi Digital Banking Nyaris Tembus Rp50 Kuadriliun Tahun Ini 1 day ago
Muhammadiyah Haramkan Mata Uang Kripto 4 days ago
Ternyata Ini Jumlah Uang yang Didapat Ghozali dari Jual Foto Selfie 5 days ago
Jangan Salah, Ini Beda Bitcoin dan NFT 1 week ago
Mengenal NFT yang Bikin Ghozali Everyday Kaya Mendadak 1 week ago

Berita Pilihan

Ini Cara Menjaga Kesehatan Finansial di 2022 Hujan Emas Roti Ropi Selamat Tinggal, Ini Deretan Ritel Modern yang Tutup pada 2021 Dukung Energi Terbarukan, 2 Perusahaan Besar DIY Teken Kontrak Pembelian REC PLN Pusmanpro Tuntas Supervisi 79 Proyek PLN, Sistem Kelistrikan RI Kian Kuat
Berita Terbaru
Bank BPD DIY Apresiasi kepada Kawasan Wisata Breksi 2 hours ago
Gelegar Cuan PLN Mobile: Nikmati Manfaatnya, Dapatkan Hadiahnya 3 hours ago
1.400 Karyawan Bank Bukopin Mengundurkan Diri, Ini Alasannya 18 hours ago
Transaksi Digital Banking Nyaris Tembus Rp50 Kuadriliun Tahun Ini 1 day ago
Kembangkan Potensi Esports, Smartfren Jadi Sponsor Utama Tim Genesis Dogma 2 days ago

Terpopuler

Anggota DPR Fraksi PDIP: Tax Amnesty Malah Ciptakan Paham untuk Tak Patuh Pajak BBM BARU : Dexlite Lebih Murah dan Berkualitas, Mau Coba? Semarakkan Momen Gajian di Tengah Ramadan, ShopeePay Mantul Sale Menggebrak dengan Promo Rp1 hingga Gratis Ongkir Indonesia-Malaysia Segera Perdagangkan Energi Listrik Inflasi Jogja Diprediksi Mereda
Satu Lagi Pelanggan PLN UP3 Semarang Gunakan 100% EBT 2 days ago
Sinergi Atasi Tantangan Pembiayaan Ultra Mikro 3 days ago
Chinese Buffet Dinner: Journey of Flavor, Cita Rasa Kuliner Terbaik di Yogyakarta Kitchen 3 days ago
Begini Perhitungan Pajak UMKM Sesuai Aturan Terbaru 3 days ago
Ini Dia Kunci agar UMKM Bertahan saat Pandemi 3 days ago