Advertisement
Terindikasi PMK, Sapi asal Bantul dan Kulonprogo Ditolak Masuk Pasar Hewan Ambarketawang

Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN--Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman melalui petugas Pasar Hewan Ambarketawang, Gamping menolak masuk sepuluh sapi yang berasal dari Kabupaten Bantul dan Kulonprogo lantaran dalam kondisi sakit pada Jumat (10/1) dan Sabtu (25/1/2025). Saat ini, DP3 terus memperketat lalu lintas ternak yang masuk di pasar hewan di Bumi Sembada.
Plt Kepala DP3 Sleman, Suparmono mengatakan ada empat ekor sapi yang datang dalam kondisi sakit pada Jumat (10/1). Empat ekor tersebut berasal dari Bantul. Lalu, pada Sabtu (25/1) ada tiga ekor datang dari Palbapang, Bantul dan tiga lainnya dari Kamijoro, Kulonprogo.
Advertisement
Pemeriksaan sapi-sapi tersebut petugas lakukan mulai pukul 05.30 WIB hingga 10.00 WIB. Dari hasil pemeriksaan, dokter hewan menyatakan sapi terindikasi terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK).
“Sapi-sapi itu terindikasi PMK menurut hasil cek dokter hewan yang tugas saat itu,” kata Suparmono dihubungi, Jumat (31/1/2025).
Penutupan pasar hewan pun hingga saat ini tidak Pemkab Sleman lakukan. Penutupan pasar, kata Suparmono justru berpeluang meningkatkan kasus PMK. Lalu lintas ternak tidak dapat DP3 pantau secara ketat.
BACA JUGA: Update Kasus PMK di DIY: 2.743 Ternak Terinfeksi, 412 Sembuh, dan 231 Mati
Suparmono menambahkan vaksinasi terhadap ternak di Bumi Sembada terus berjalan. Kabupaten Sleman mendapat jatah vaksin secara berkala. Pada Januari 2025, ada jatah 2.200 dosis vaksin yang harus dihabiskan hingga akhir Januari 2025.
Dosis vaksin tersebut kemudian bertambah menjadi total 2.400 dosis. Tambahan 200 dosis digunakan untuk ternak-ternak di Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Peternakan Universtias Gajah Mada (UGM). Adapun capaian vaksinasi per Jumat (31/1/2025) menyentuh 93%.
Kepala UPTD Pasar Hewan Ambarketawang dan Rumah Potong Hewan, Yuda Andi Nugroho mengatakan kasus PMK yang merebak di sejumlah wilayah di DIY berimbas pada penurunan jumlah sapi dan transaksi yang terjadi antara penjual dan pembeli.
Apabila mendasarkan pada jumlah sapi masuk pada akhir Desember 2024 dan 5 Januari 2025, rata-rata sapi terjual tidak sampai sepuluh ekor per pasaran. Penurunan terjadi sekitar 80%.
“Ternak yang masuk ke pasar hewan kami periksa kondisinya. Kalau ditemukan gejala PMK kami tolak dan kami larang masuk ke komplek pasar. Ada dokter hewan juga dari Puskeswan yang dijadwal bergantian,” kata Yuda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

MUI Sebut 1 Ramadan Tahun Ini Berpotensi Tak Barengan antara Pemerintah dan Muhammadiyah
Advertisement

Wisata ke Likupang, Menikmati Surga Tersembunyi Keindahan Alam
Advertisement
Berita Populer
- Presiden Prabowo Pimpin Parade Senja di Akmil Magelang
- Hanya 15 Menit, Damkarmat Evakuasi Kaki Seorang Ibu yang Masuk Gorong-Gorong di Imogiri Bantul
- Warga Kokap Lega Izin Penambangan Batuan Andesit Tak Diperpanjang, Sebut Sesuai Permintaan Leluhur
- Cegah Kemacetan di Exit Tol Tamanmartani, Ditlantas Polda DIY Akan Pasang CCTV dengan Fitur Traffic Counting
- Gegara Refokusing Anggaran, 1.000 Anak Terlantar di Sleman Gagal Terima Bansos Tahun Ini
Advertisement
Advertisement