HomeJogjapolitan

Warga Tepi Sungai Gendol Geruduk Kantor DLH Sleman

Oleh:Fahmi Ahmad Burhan
14 November 2019 - 23:37 WIB

Perwakilan warga Desa Sindumartani yang menolak rencana penambangan pasir dan batu mendatangi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman pada Kamis (14/11/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan

Harianjogja.com, SLEMAN—Puluhan warga Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak mendatangi Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Kamis (14/11/2019). Mereka mendesak agar DLH Sleman untuk tidak menerbitkan rekomendasi izin lingkungan untuk operasional tambang pasir dan batu di Sungai Gendol.

Ketua Paguyuban Sindu Tolak Asat, Mahmudin mengatakan maksud kedatangan puluhan warga Desa Sindumartani yang tergabung dalam Paguyuban Sindu Tolak Asat itu meminta penjelasan pada DLH Sleman terkait proses izin lingkungan. "Kami mohon, izin ditolak atau dibatalkan, karena itu akan merugikan semua warga di Sindumartani," ucap Mahmudin, Kamis.

Menurut dia, ketika tambang sudah beroperasi, warga khawatir lingkungan sekitar lokasi di Sungai Gendol akan rusak. "Air di Kali Gendol itu sudah bermanfaat untuk minum dan pertanian. Kalau tambang beroperasi, yang kena dampak bisa sampai 11 dusun di Desa Sindumartani," ucap dia.

Ia mengatakan warga yang menolak rencana penambangan di Sungai Gendol itu sudah menandatangani surat dengan cap jempol dan sudah diberikan kepada DLH. Saat dilibatkan dalam sidang Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) beberapa pekan lalu pun warga sudah sampaikan penolakannya.

Selain soal kerusakan ekosistem air, termasuk di antaranya berkurangnya debit air, kekhawatiran warga juga menyangkut soal kondisi infrastruktur.

Warga Dusun Kejambon Lor, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Basuni khawatir jalanan akan rusak karena keluar masuk kendaraan tambang. Menurut dia debit air berkurang tidak hanya akan membuat ketersediaan air minum warga terganggu, tapi juga berdampak pada pertanian. Luas lahan pertanian yang bisa terdampak aktivitas tambang samai 300 hektare. "Aktivitas penambangan nantinya juga ditakutkan malah membuat tanggul Sungai Gendol jebol. Kalau turun hujan, aliran air yang deras ditakutkan bisa membuat banjir," ujar Basuni.

Seperti diberitakan, aktivitas tambang di Sindumartani itu rencananya dilakukan di lahan seluas 5,06 hektare. Nantinya, ketika beroperasi, diperkirakan sampai 36 truk keluar masuk lokasi tambang. Kontrak tambang akan berlangsung selama empat tahun 11 bulan dalam masa kerja 600 hari.

Tingkat Provinsi

Proses perizinan rencana penambangan di Sungai Gendol, Desa Sindumartani itu sebenarnya sudah berlangsung lancar di tingkat provinsi. Basuni mengaku warga sudah berupaya mendatangi Pemda DIY untuk menolak keberlanjutan perizinan tersebut. “Kini, proses perizinan sudah masuk ke DLH Sleman menunggu rekomendasi UKL UPL,” kata Basuni.

Kepala DLH Sleman, Dwi Anta Sudibya mengatakan rekomendasi dari DLH Sleman tidak bersifat final, karena apabila rekomendasi dari DLH Sleman diberikan, tetap provinsi yang akan menentukan. Dalam memproses UKL UPL, dinasnya mengacu semua perizinan sebelumnya. "Kami baru proses kalau syarat dari provinsi sudah lengkap. Karena ini sudah lengkap, maka kami proses UKL UPL. Kalau kami tidak memproses, kami yang salah," jelas Dibya pada Kamis.

Dalam memproses UKL UPL, dinasnya mempertimbangkan aspek biotik, abiotik, sosial, dan budaya. "Semuanya harus terpenuhi. Contoh di sosial, selama warga ada yang keberatan atau menolak, kami prosesnya mandek," ujar Dibya.

Sampai saat ini, rekomendasi izin lingkungan belum juga diberikan DLH Sleman. Dwi Anta meminta agar pihak pemrakarsa berembuk lagi dengan warga yang menolak agar menyelesaikan masalah.

Tag: Tambang, aksi massa Editor: Arief Junianto

Artikel Terkait
Lumpur Lapindo Disebut Kandung Harta Karun Super Langka, Siapa Pemiliknya? 20 hours ago
460 Rencana Kerja Perusahaan Tambang Ditolak 3 days ago
Konflik Tambang Wadas Memanas, Polisi Terbangkan Drone Awasi Warga 1 week ago
Polemik Penambangan Kali Progo: GKR Hemas Minta Kepala Dinas Hati-Hati Keluarkan Izin 1 week ago
Dituding Sebar Hoaks di Info Cegatan Jogja, Akun Facebook Diadukan Penambang Kali Progo ke Polisi 1 week ago

Berita Pilihan

Ini Penyebab Klithih Menurut Sosiolog UGM Cukai Naik, Rokok Murah Jadi Pilihan Volume Sampah di Pantai Selatan Bantul Diprediksi Naik 15 Persen Disinfektan Udara Buatan Dosen UMY Ini Bisa Hemat Investasi Faskes hingga Ratusan Juta  Sudah 79 Tahun, Mbah Wahidi Masih Kuat Menjual Burger Keliling Sleman
Berita Terbaru
Setahun Terjadi 1.309 Kasus Kekerasan dalam Pacaran 6 hours ago
PKL Malioboro Pindah 26 Januari, Ini Respons Pedagang 10 hours ago
Update Covid-19 DIY 24 Januari 2022: Kasus Positif Tambah 12 10 hours ago
Harga Tanah Sudah Mahal, Penerima Ganti Rugi Tol Jogja Bawen Kesulitan Cari Tanah Pengganti 10 hours ago
Terima Ganti Rugi Rp2,4 Miliar dari Tol Jogja Bawen, Pensiunan Guru Bertekad Kembalikan Tanah Menjadi Tanah 10 hours ago

Terpopuler

Hadiri Jagongan Kalurahan, Kanjeng Yudanegara Diskusi dengan Warga Girikerto Turi KAMPUS JOGJA : Prodi KPI UMY Pertahankan Akreditasi A RUMAH SAKIT JOGJA : ARSSI Wadah Bersatunya RS Swasta FACEBOOK BERUJUNG PENJARA : Pembela Nilai Tuntutan Terlalu Memaksakan Waspada, Ubur-Ubur Kembali Menepi di Pantai Gunungkidul
Wisata Seni dan Budaya Bakal Hadir di Kampung Cokrodirjan Jogja 11 hours ago
Sekolah di Kota Jogja Mulai PTM 100 Persen, Ini Teknisnya 11 hours ago
Sultan Jogja Tegaskan PTM Tetap Jalan Meski Puncak Omicron Datang Akhir Februari 11 hours ago
Harga Rumah Subsidi Jogja Jadi Tantangan, Gunungkidul Paling Realistis 12 hours ago
Sultan Jogja: Tidak Usah Membesar-besarkan Omicron 12 hours ago