HomeJogjapolitan

Alat Cap Batik Otomatis Pertama di Dunia Hadir di Jogja

Oleh:Sunartono
19 November 2019 - 19:17 WIB

Alat cap batik otomatis berbasis programmable logic controller (PLC) di Laboratorium BBKB Yogyakarta, Senin (19/11/2019). - Harian Jogja/Sunartono

Harianjogja.com, JOGJA—Perekayasa Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta menciptakan sebuah alat cap batik otomatis berbasis programmable logic controller (PLC). Alat dengan mesin penggerak berupa angin ini mampu mempercepat produksi batik cap dengan tanpa menggunakan tangan.

Kepala BBKB Yogyakarta Titik Purwati Widowati menjelaskan alat cap batik otomatis berbasis PLC ini merupakan hasil rekayasa oleh tim BBKB DIY dengan harapan bisa meningkatkan daya saing industri batik. Alat ini mampu menambah efektivitas dalam melakukan pengecapan batik, karena selama ini para perajin menggunakan tangan untuk mengecap motif batik pada kain.

“Kalau biasanya mengecap ini kan satu demi satu, ini bisa diprogram dengan jumlah pengecapan sesuai keinginan, bahkan bisa memakai remote control,” terangnya, Selasa (19/11/2019).

Produk batik cap menggunakan alat ini, lanjutnya, akan menyasar pangsa pasar tersendiri. Terutama mengambil posisi harga antara batik tulis dengan batik printing. Mengingat harga batik tulis tergolong mahal dan tidak semua orang bisa membelinya. Menggunakan alat cap otomatis ini bisa menjadi solusi untuk pasar batik karena produksinya akan lebih banyak. Titik menegaskan, alat tersebut akan diperbolehkan untuk dipakai atau dicontoh oleh para perajin.

“Saya tegaskan ini bukan batik printing tetapi [batik] cap ini masih mengandung nilai batik, dengan alat ini industri diharapkan meningkat. Kami memperbolehkan [dicontoh perajin] karena penelitian yang kamu lakukan juga untuk kepentingan industri,” katanya.

Kepala Puslitbang Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika, Kementerian Perindustrian Sony Sulaksono menyatakan, alat cap batik otomatis hasil rekayasa BBKB Yogyakarta merupakan pertama kalinya ditemukan. Melalui alat ini diharapkan dapat meningkatkan produksi kerajinan batik cap dan mampu bersaing di era teknologi industri 4.0.

“Belum ada, ini yang pertama kali untuk dunia batik menciptakan alat seperti ini. Secara prinsip tidak menghilangkan esensi batik, karena masih menggunakan malam panas, dan rekayasa ini sebagai respons terhadap perkembangan teknologi,” katanya.

Perekayasa BBKB Yogyakarta Demas Yogo Pranoto menjelaskan alat cap otomatis ini dioperasikan menggunakan tenaga angin melalui kompresor sehingga sangat hemat energi, tidak butuh banyak listrik. Alat ini terdiri atas meja datar yang digunakan sebagai poros tempat lembaran kain sekaligus untuk titik pengecapan berada di tengah. Meja tersebut bisa naik turun untuk membantu kain bergeser. Kemudian di kedua pinggiran meja itu masing-masing terdapat kompor gas berikut wajan berisi malam. Jika akan mulai melakukan pengecapan maka kompor dinyalakan.

Melalui teknologi angin itu, lanjutnya, ketika tabung kompresor sudah penuh maka motor penggeraknya berhenti sehingga menghemat listrik. Berbeda dengan menggunakan motor penggeraknya yang harus berjalan terus menerus sehingga butuh energi listrik. Ketika listrik mati pun tidak menjadi masalah karena tetap bisa beroperasi selama kompresor masih terisi angin.

"eroperasinya canting ini akan kembali wajan mengambil malam lalu terangkat dan maju ke arah kain kemudian canting turun melakukan pengecapan itu bisa secara otomatis, ketika satu baris sudah penuh [pengecapan] kain akan bergeser secara otomatis,” ujarnya.

Demas mengatakan, dari hasil uji coba dengan menggunakan setting kemampuan minimal, alat tersebut mampu melakukan pengecapan batik sepanjang 11 meter dengan lebar 115 sentimeter kain dalam waktu 51menit. Ia mengasumsikan selama 7,5 jam bisa memproduksi 80 meter dengan lebar standar kain. Pembuatan alat itu butuh biaya lebih dari Rp100 juta. “Ini menggunakan silinder pneumetik ada empat set bagian atas, setiap setnya ada lima silinder, kalau yang bawah ada empat silinder,” ucapnya.

Tag: batik Editor: Bhekti Suryani

Artikel Terkait

Berita Pilihan

Ini Penyebab Klithih Menurut Sosiolog UGM Cukai Naik, Rokok Murah Jadi Pilihan Volume Sampah di Pantai Selatan Bantul Diprediksi Naik 15 Persen Disinfektan Udara Buatan Dosen UMY Ini Bisa Hemat Investasi Faskes hingga Ratusan Juta  Sudah 79 Tahun, Mbah Wahidi Masih Kuat Menjual Burger Keliling Sleman
Berita Terbaru
Setahun Terjadi 1.309 Kasus Kekerasan dalam Pacaran 7 hours ago
PKL Malioboro Pindah 26 Januari, Ini Respons Pedagang 10 hours ago
Update Covid-19 DIY 24 Januari 2022: Kasus Positif Tambah 12 10 hours ago
Harga Tanah Sudah Mahal, Penerima Ganti Rugi Tol Jogja Bawen Kesulitan Cari Tanah Pengganti 11 hours ago
Terima Ganti Rugi Rp2,4 Miliar dari Tol Jogja Bawen, Pensiunan Guru Bertekad Kembalikan Tanah Menjadi Tanah 11 hours ago

Terpopuler

Hadiri Jagongan Kalurahan, Kanjeng Yudanegara Diskusi dengan Warga Girikerto Turi KAMPUS JOGJA : Prodi KPI UMY Pertahankan Akreditasi A RUMAH SAKIT JOGJA : ARSSI Wadah Bersatunya RS Swasta FACEBOOK BERUJUNG PENJARA : Pembela Nilai Tuntutan Terlalu Memaksakan Waspada, Ubur-Ubur Kembali Menepi di Pantai Gunungkidul
Wisata Seni dan Budaya Bakal Hadir di Kampung Cokrodirjan Jogja 11 hours ago
Sekolah di Kota Jogja Mulai PTM 100 Persen, Ini Teknisnya 11 hours ago
Sultan Jogja Tegaskan PTM Tetap Jalan Meski Puncak Omicron Datang Akhir Februari 12 hours ago
Harga Rumah Subsidi Jogja Jadi Tantangan, Gunungkidul Paling Realistis 12 hours ago
Sultan Jogja: Tidak Usah Membesar-besarkan Omicron 12 hours ago