HomeJogjapolitan

Raperda tentang Pemekaran Desa di Gunungkidul Menguap

Oleh:David Kurniawan
07 Januari 2020 - 20:57 WIB

Ilustrasi Raperda. - ist

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kepala Desa (Kades) Pacarejo, Kecamatan Semanu, Suhadi, berharap wacana pembentukan Raperda Pemekaran Desa segera terealisasi. Regulasi ini dibutuhkan sebagai dasar untuk memekarkan desa, khususnya yang berada di wilayah Kecamatan Semanu. “Tidak hanya saya, kades di wilayah Semanu juga memiliki pemikiran sama karena wilayah yang ditangani terlalu luas,” kata Suhadi, Senin (6/1/2020).

Dengan wilayah yang terlalu luas maka pembangunan tidak bisa optimal, apalagi dana yang dimiliki juga terbatas. Sebagai contoh di Desa Pacarejo memiliki 28 dusun, sedangkan desa lain di luar Semanu ada yang hanya memiliki enam dusun.

Kondisi ini memicu ketimpangan dalam hal tanggung jawab, sedangkan dari sisi anggaran juga tidak terlalu jauh berbedaannya. “Contohnya dana desa antara Pacarejo dengan desa lain selisihnya hanya Rp200 juta. Tapi kami harus mengurus 28 dusun dengan penduduk mencapai 15.000 jiwa. Bisa dibayangkan bagaimana kompleksnya mengurus Desa Pacarejo,” katanya.

Dengan adanya ketimpangan ini, Suhadi meminta agar wacana Perda Pemekaran Desa bisa segera direalisasikan. Menurut dia, wacana ini sudah muncul sejak lama, namun hingga sekarang belum terealisasi. “Beberapa tahun lalu wacana ini juga masuk dalam skala prioritas pembahasan raperda di DPRD, tapi perkembangannya seperti apa kurang tahu,” katanya.

Menurut dia, keberadaan Raperda Pemekaran Desa dijadikan dasar untuk pengembangan wilayah. “Saya mendukung agar pembangunan di Pacarejo bisa lebih dioptimalkan,” katanya.

Ketua Komisi A DPRD Gunungkidul, Ery Agustin Sudiyati, tidak menampik jika Raperda Pemekaran Desa sempat masuk dalam skala prioritas program perencanaan pembentukan peraturan daerah di 2018. Meski demikian, rapeda batal dibahas karena dapat masukan dari Pemda DIY. “Kebetulan saat itu [2018] saya jadi anggota badan legislasi DPRD dan sudah berkonsultasi, tapi rancangan tidak lolos,” katanya.

Menurut dia, dalam konsultasi itu dijelaskan ada beberapa kriteria dan persyaratan yang belum bisa dipenuhi sehingga raperda batal dibahas. “Detailnya saya agak lupa, tapi yang jelas raperda tidak jadi dibahas meski sudah ada susunan drafnya,” katanya.

Ery menegaskan meski tak lagi menjadi skala prioritas, raperda tentang pemekaran desa masih bisa dilanjutkan. “Akan kami inventarisir lagi. Salah satunya menampung aspirasi yang muncul dari Pacarejo,” kata dia.



Tag: fenomena alam, pemerintahan Editor: Yudhi Kusdiyanto

Artikel Terkait
Fenomena Langka! Gurun Sahara Diselimuti Salju, Suhu Minus 2 Derajat 3 days ago
Besok Puncak Hujan Meteor Ursid 1 month ago

Berita Pilihan

Ini Penyebab Klithih Menurut Sosiolog UGM Cukai Naik, Rokok Murah Jadi Pilihan Volume Sampah di Pantai Selatan Bantul Diprediksi Naik 15 Persen Disinfektan Udara Buatan Dosen UMY Ini Bisa Hemat Investasi Faskes hingga Ratusan Juta  Sudah 79 Tahun, Mbah Wahidi Masih Kuat Menjual Burger Keliling Sleman
Berita Terbaru
Setahun Terjadi 1.309 Kasus Kekerasan dalam Pacaran 8 hours ago
PKL Malioboro Pindah 26 Januari, Ini Respons Pedagang 11 hours ago
Update Covid-19 DIY 24 Januari 2022: Kasus Positif Tambah 12 12 hours ago
Harga Tanah Sudah Mahal, Penerima Ganti Rugi Tol Jogja Bawen Kesulitan Cari Tanah Pengganti 12 hours ago
Terima Ganti Rugi Rp2,4 Miliar dari Tol Jogja Bawen, Pensiunan Guru Bertekad Kembalikan Tanah Menjadi Tanah 12 hours ago

Terpopuler

Hadiri Jagongan Kalurahan, Kanjeng Yudanegara Diskusi dengan Warga Girikerto Turi KAMPUS JOGJA : Prodi KPI UMY Pertahankan Akreditasi A RUMAH SAKIT JOGJA : ARSSI Wadah Bersatunya RS Swasta FACEBOOK BERUJUNG PENJARA : Pembela Nilai Tuntutan Terlalu Memaksakan Waspada, Ubur-Ubur Kembali Menepi di Pantai Gunungkidul
Wisata Seni dan Budaya Bakal Hadir di Kampung Cokrodirjan Jogja 12 hours ago
Sekolah di Kota Jogja Mulai PTM 100 Persen, Ini Teknisnya 13 hours ago
Sultan Jogja Tegaskan PTM Tetap Jalan Meski Puncak Omicron Datang Akhir Februari 13 hours ago
Harga Rumah Subsidi Jogja Jadi Tantangan, Gunungkidul Paling Realistis 13 hours ago
Sultan Jogja: Tidak Usah Membesar-besarkan Omicron 14 hours ago