HomeJogjapolitan

Disinfektan Udara Buatan Dosen UMY Ini Bisa Hemat Investasi Faskes hingga Ratusan Juta 

Oleh:Sunartono
25 Desember 2021 - 07:27 WIB

Dosen Fakultas Kedokteran UMY Maria Ulfa salah satu tim perancang disinfektan udara di sela-sela FGD pelaksanaan riset dampak MBKM di Kota Jogja, Jumat (24/12/2021). - Harian Jogja/Sunartono

Harianjogja.com, JOGJA--Pembersih udara atau desinfektan udara dibutuhkan untuk mencegah penyebaran virus terutama saat pandemi Covid-19. Namun, alat jenis ini butuh investasi cukup mahal sehingga tidak semua fasilitas kesehatan (faskes) memilikinya. 

Berawal dari latar belakang itu sejumlah dosen UMY dari berbagai disiplin ilmu mulai dari kedokteran hingga teknik melakukan penelitian dan menghasilkan alat disinfektan udara yang diberi nama CleanMy. Alat ini dibuat oleh Maria Ulfa dari Fakultas Kedokteran dan Tony K. Hariadi, Widyasmoro serta Ibnu Jayusman dari Teknik Elektro.

Dosen Fakultas Kedokteran Maria Ulfa menjelaskan alat pembersih udara sangat dibutuhkan di suatu faskes baik klinik maupun rumah sakit. Terutama saat pandemi, untuk mencegah kemungkinan adanya penularan virus lewat udara, sehingga udara harus dibersihkan agar seluruh orang yang berada di klinik tersebut tidak tertular penyakit.

“Kalau di rumah sakit klinik, khusus untuk pasien infeksi itu butuh investasi besar karena harus ada hepafilter untuk membersihkan udara. Kami membuat sistem yang sama dengan memodifikasi memakai ultraviolet, ultrasonik dan hepafilter dengan harga jauh lebih murah, ini bisa digunakan di klinik,” katanya di sela-sela FGD Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digelar UMY di salah satu hotel di Kota Jogja, Jumat (24/12/2021).

Ia menjelaskan alat itu dipasang dalam ducting exhouse, udara yang ada di ruangan akan disedot kemudian dilakukan treatment memakai sinar ultraviolet, ultrasonik dan hepa. Setelah itu udara tersebut bersih baru dikeluarkan. Sehingga udara dari ruangan suspect Covid-19 itu dalam keadaan bersih. Pembuatan alat mandiri ini jika dihitung mampu menghemat investasi alat kesehatan hingga ratusan juta rupiah.

“Kalau hepafilter di rumah sakit investasinya mencapai Rp1 miliar atau ratusan juta, alat yang kami bikin ini terjangkau di angka di bawah Rp100 juta,” ujar wanita yang menekuni bidang ultraviolet ini.

Menurutnya, alat itu bisa diproduksi secara massal, tetapi butuh waktu karena harus melalui pengujian, selain itu butuh sumber daya memadai. Bahan bakunya dengan memanfaatkan potensi dari Indonesia. Namun untuk alat ukur ultraviolet harus diimpor. 

“Alat ukur itu, misalnya di UV itu ada beberapa gelombang, berapa nanometer, berapa radiasi yang dipancarkan UV untuk bisa membunuh mikroorganisme, nah kami butuh alat yang di Indonesia belum ada,” katanya

Alat tersebut telah dipakai pada tiga fasilitas kesehatan di Kota Jogja antara lain Klinik Hemodialisis Nitipuran. Pemasangan CleanMy di klinik ini agar pasien dengan status Covid-19 tetap bisa dihemodialisis. Kemudian dipasang di Klinik Gigi Pratama Firdaus, karena selama pandemi para dokter gigi kesulitan praktik karena melakukan kontak langsung ke pasien. Selain itu dipasang di UGM RS AMC Kota Jogja.

Wakil Rektor Bidang Akademi UMY Sukamta mengatakan CleanMy menjadi salah satu penelitian yang diunggulkan karena aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan untuk mendukung layanan faskes. Ia mengatakan selama 2021 kampusnya mendapatkan pendanaan Rp1,8 miliar untuk penelitian. Adapun FGD tersebut mendiskusikan hasil survei guna memastikan validitasnya hasil penelitian. Kemudian hasil tersebut direkomendasikan ke perguruan tinggi maupun Kemendikbudristek. 

“Kami ingin melihat bagaimana dampak MBKM terhadap kampus. Kalau penelitian paling menarik itu yang CleanMy. Kemudian ada lagi penelitian yang menghasilkan alat untuk membuat guru TK membuat video materi pembelajaran agar menarik cukup dengan ponsel,” katanya. 

Tag: UMY Editor: Budi Cahyana

Artikel Terkait
UMY Berdayakan Petani Ikan Kolam di Mejing Kidul Gamping 3 weeks ago
Dosen UMY Beri Pelatihan Komunikasi Terapeutik dan Hibah Alat Inframerah Berbasis Android 1 month ago
Selalu Diburu dan Ditunggu Mahasiswa, UMY Bagikan 4.000 Box Menu Buka Puasa Setiap Hari 1 month ago
Abdimas UMY Latih Pengelolaan Wisata di Candi Cetho, Karanganyar 1 month ago
Berdayakan PCA Ngampilan, Dosen UMY Gelar Literasi Media Sosial & Pelatihan Digital Marketing 1 month ago

Berita Pilihan

Cakupan Jaminan Kesehatan di Sleman Tembus 95,79%, Lampaui Nasional Pedagang Daging di Kulonprogo Jualannya Turun, Imbas PMK? DPC PDIP Kota Jogja: Ibu Mega Inspiratif & Membanggakan Rakyat Indonesia Kota Jogja Kelola Sampah dengan Sambal Pedas Terasi Kompetisi Digital Bisa Percepat Penerapan Sekolah Pintar
Berita Terbaru
Mengenal Pangan Lokal untuk Kesehatan 11 minutes ago
Merapi Muntahkan Lagi Awan Panas Sejauh 2,5 Kilometer 51 minutes ago
200.000 Anak Muda Diajak Belajar Teknologi Digital Secara Gratis 1 hour ago
Cek Jadwal KRL Jogja-Solo, Termalam 20.22 WIB dari Lempuyangan 2 hours ago
Menguatkan Ruang dan Kesempatan Kelompok Difabel dalam Pesta Demokrasi 3 hours ago

Terpopuler

12.232 Peserta Ikuti UTBK UGM Presiden Izinkan Lepas Masker, tapi Begini Kebijakan DIY ... Rumah Warga Gunungkidul Disewa Rp17 Juta untuk Syuting KKN Desa Penari Bus Rombongan Takziah Terguling di Gamping, Satu Meninggal Bus Sekolah di Gunungkidul Penuh, Ada Siswa Menangis Tak Kebagian
Tidak Ada Klithih Apabila Remaja Berteater 4 hours ago
Panitia Muswil VII Buka Pendaftaran Calon Ketua MPW Pemuda Pancasila DIY 5 hours ago
Dinas Kominfo DIY dan KPID Siapkan Masyarakat Beralih ke Siaran TV Digital 6 hours ago
Wali Kota Jogja: Jangan Euforia Pelonggaran Masker 13 hours ago
Selamat! Pemkab Sleman Raih Penghargaan Anugerah Kearsipan 2022 14 hours ago