News

Marak Tren Trilingual di Media Sosial, Pakar Bahasa: Belum Tentu Merusak

Penulis: Setyo Puji Santoso
Tanggal: 20 Januari 2022 - 08:07 WIB
Pakar bahasa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Muhammad Rohmadi - Humas UNS

Harianjogja.com, SOLO – Belakangan ini media sosial marak dengan penggunaan trilingual atau multilingual. Hal ini bermula saat ada unggahan viral sebuah paragraf yang ditulis menggunakan beberapa bahasa sekaligus.

Warganet kemudian bereaksi dengan membuat unggahan yang sama dengan bahasa yang berbeda. Bahkan Instagram resmi @bipakemdikbud pun tidak ketinggalan tren dengan membuat paragraf yang mencampur beberapa bahasa yakni bahasa Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Inggris, dan bahasa Korea.

Pakar bahasa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Muhammad Rohmadi, menanggapi fenomena bahasa ini.

Menurutnya, fenomena ini dapat ditilik dari linguistik fungsional yang berdimensi pada triadik yakni bentuk, fungsi, dan konteks.

Konteks memegang peranan penting dalam penggunaan multilingual atau multibahasa pada kehidupan sehari-hari. Tuturan tersebut pun memiliki maksud tersirat khusus.

“Di situ pasti ada implikatur tersendiri. Implikaturnya apa yakni maksud tersiratya apa. Pertama, ada yang menggunakan multibahasa sebagai pembeda dirinya dengan orang lain. Ada yang menggunakan multibahasa untuk menjaga reputasi bahwa dia menguasai banyak bahasa. Ada juga yang bertujuan menarik pembaca atau penonton dan juga ada yang bertujuan sebagai daya persuasif. Ini masing-masing terintegrasi dalam fungsi kebahasaan,” jelas Rohmadi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/1/2022).

Fenomena multibahasa di Indonesia bisa dikatakan lumrah karena berdasarkan survei yang dilakukan oleh laman SwiftKey, Indonesia merupakan negara yang memilili penutur tribahasa terbesar di dunia.

Indonesia unggul di atas Israel dan Spanyol yang berturut-turut menempati posisi kedua dan ketiga. Penggunaan multibahasa ini juga menurut Rohmadi menandakan bahwa penuturnya memiliki banyak wawasan sehingga berusaha untuk mengolaborasikan, mengkreasikan, dan menginovasikan bahasa yang ia kuasai.

Rohmadi mengatakan bahwa banyak faktor yang menyebabkan masyarakat Indonesia merupakan penutur tribahasa atau multibahasa. Faktor pertemuan budaya dan perkembangan teknologi disebut paling dominan mengakibatkan fenomena ini.

“Trilingual ini bisa terjadi akibat pertemuan budaya dari berbagai wilayah dan perkembangan teknologi. Dengan perkembangan teknologi itu, kita sekali ketuk bisa masuk ke semua lini. Kita tidak bisa bahasa apa pun tinggal buka Google bisa tahu artinya,” ungkap dosen Sosiopragmatik di S2 Pendidikan Bahasa Indonesia UNS ini.

Dengan menguasai beberapa bahasa, penutur sering kali mencampur bahasa yang mereka kuasai saat berbicara atau pun menulis. Meski dikhawatirkan dapat merusak bahasa, Rohmadi menjelaskan hal itu harus dikembalikan lagi ke konteks pemakainya.

“Merusak dan tidak itu bergantung konteks pemakainya. Kalau pemakai melihat konteksnya, pemakai tidak akan menggunakan itu kalau konteksnya formal. Sering kali mereka menggunakan multilingual di konteks nonformal. Maka dari itu, pemakai bahasa ini harus empan papan lan panggonan dan bersikap dewasa dalam berbahasa. Kedewasaan itu diukur dari apa yang mereka pikirkan kemudian menjadi apa yang mereka katakan. Apa yang mereka katakan itu menjadi tindakan. Tindakan-tindakan itu menjadi kebiasaan dan kebiasaan akan menjadi karakter,” imbuhnya.

Kendati demikian, Rohmadi berpesan supaya para penutur multibahasa dapat menerapkan kedewasaan berbahasa. Kedewasaan ini dapat dilihat dari bagaimana seseorang menggunakan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang berlangsung.

“Kedewasaan berbahasa itu terbangun secara situasional. Kedewasaan itu bergantung lawan tuturnya siapa, situasinya seperti apa, dan orientasinya apa,” pungkasnya.

Berita Terkait

Cara Menggunakan Filter Menangis dari Snapchat yang Sedang Viral
Ditanya Lampu Merah Terlama, Warga Jawab Pingit: Perenggut Masa Muda
PayLater Mendadak Jadi Perbincangan di Jagat Maya, Ada Apa?
Viral selama Lebaran: Remaja Ketiduran Salat Id hingga Balita Salah Pilih Ibu

Berita Lainnya

  1. Heboh Kisah KKN di Rumah Kosong Klaten, Mana Lokasinya?
  2. Penyanyi Ini bakal Jadi Bintang Tamu Pernikahan Adik Jokowi di Solo
  3. Solopos Hari Ini: Listrik Bersubsidi Tak Naik
  4. Bagaimana Cara Berjualan di CFD Solo?

Berita Terbaru Lainnya

Suara Berubah, Bisa Jadi Tanda-Tanda Kanker Tiroid
Mudah dan Hemat, Begini Cara Ubah Tampilan Rumah
Tubuh Anda Lelah, 7 Makanan untuk Penambah Energi
Perempuan Mau Piknik Sendirian? Ini 8 Tipsnya
Ini Nih…Model Kerudung Olahraga untuk Para Hijaber
Baik untuk Kesehatan, Ini 5 Manfaat Daun Kelor
Teh dan Kopi Tekan Risiko Kematian Akibat Strok dan Jantung
Ini Daftar Makanan Super Khusus untuk Perempuan
Hal Wajib Dilakukan Saat Menempati Rumah Baru
Ramalan Zodiak 17 Mei -21 Mei 2022

Ramalan Zodiak 17 Mei -21 Mei 2022

Lifestyle | 3 days ago