Advertisement
Peristiwa Hari Ini, Kilas Balik Kerusuhan Solo 15 Mei 1998

Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—26 tahun silam, Kota Solo luluh lantak. Kala itu, tepat pada tanggal 14 - 15 Mei 1998, tragedi kerusuhan mahasiswa yang semula hanya di Jakarta akhirnya juga terjadi di Surakarta atau Solo.
Peristiwa itu menjadi sejarah kelam bagi bangsa Indonesia, termasuk Solo. Dilansir dari Bisnis.com, Rabu (15/5/2024), sejumlah jalan dan pertokoan rusak karena pembakaran masal akibat kerusuhan itu. Selain itu, sejumlah nyawa ikut terenggut akibat penjarahan yang dilakukan.
Advertisement
Kerusuhan Solo 1998 kala itu terjadi di sepanjang Jl. Slamet Riyadi. Mulai dari gedung bekas diler mobil Timor, gedung bekas Purwosari Plasa, pasar legi, hingga kawasan perdagangan coyudan menjadi sasaran amukan mahasiswa.
BACA JUGA: Muncul Tumpukan Sampah di Utara GL Zoo dan Ringroad Selatan, DLH Bantul Jadwalkan Pengangkutan
Dilansir dari p2k.stekom.ac.id, tragedi kerusuhan disebabkan karena korupsi serta masalah ekonomi seperti kekurangan pangan dan pengangguran massal. Diperkirakan sudah lebih dari 100.000 orang tewas dan terdapat laporan 168 kasus pemerkosaan saat kerusuhan terjadi.
Selain itu, kerusuhan ini juga berdampak pada sistem ekonomi Indonesia yang mengalami kerugian akibat kerusakan material mencapai Rp3.1 triliun. Akhirnya, berujung pada pengunduran diri Presiden Soeharto dan jatuhnya Orde Baru.
Target utama dari kerusuhan ini adalah etnis Tionghoa, karena saat itu mereka mendominasi perekonomian di Indonesia. Beberapa toko milik etnis tersebut ditulis 'Milik pribumi' atau 'Pro-reformasi', agar tidak terkena penjarahan para demonstran.
Menurut Jurnal Universitas Sebelas Maret Surakarta, gerakan demonstrasi kala itu memiliki 6 tuntutan reformasi sebagai agenda utama aksi. Berikut isi tuntutan tersebut.
- Adili Soeharto
- Laksanakan UUD 1945
- Hapuskan dwifungsi ABRI
- Pelaksanaan otonomi daerah
- Tegakkan supremasi hukum
- Ciptakan pemerintah yang bersih dari KKN
Melihat banyaknya kerugian akibat kerusuhan demonstran, maka dibentuklah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki kasus.
BACA JUGA: Kasus DBD di Bantul Meningkat Tajam, Dinkes Minta Masyarakat Lakukan PSN dan PHBS
Akhirnya, TGPF mengeluarkan laporan mengenai pelaku provokasi pembakaran, penganiayaan, dan pelecehan seksual saat itu, diduga sejumlah oknum militer ikut bergabung yang dilihat berdasarkan penampilannya.
Banyak pihak berspekulasi, terdapat dua nama yakni Pangab Wiranto dan Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin yang ikut terlibat dalam provokasi kerusuhan 1998.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Balon Udara Liar di Wonosobo Meresahkan, Polisi Temukan Tanpa Pengikat di Tiga Lokasi
- Sejumlah Kepala Negara Ucapkan Selamat Idulfitri kepada Presiden Prabowo
- Tanah Longsor di Jalan Raya Jalur Cangar-Pacet Mojokerto Menimpa Kendaraan, 10 Orang Meninggal Dunia
- Mgr. Petrus Turang, Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang Wafat, Presiden Melayat ke Katedral Jakarta
- Arus Balik, 16.700 Orang Telah Tiba di Stasiun Gambir
Advertisement

Jadwal KA Prameks Hari Ini, Sabtu 5 April 2025, dari Stasiun Tugu Jogja hingga Kutoarjo Purworejo
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Donald Trump Kenakan Tarif Tambahan 32 Persen, Jadi Ancaman Serius Sektor Perdagangan Indonesia
- Indonesia Terkena Tarif 32 Persen Donald Trump, Bapans Dorong Peningkatan Produksi Pangan Dalam Negeri
- Prakiraan Cuaca Hari Ini Jumat 4 April 2025, Mayoritas Wilayah Indonesia Hujan dan Berawan
- Bansos PKH Tahap Kedua dan BNPT April Kapan Cair? Simak Status dan Cara Mencairkannya
- Jembatan Penghubung Antarkampung di Klaten Ambrol
- Tenda Kamping di Tawangmangu Karanganyar Tertimpa Pohon, 1 Orang Meninggal Dunia
- 4 Kali Gunung Semeru Erupsi Disertai Letusan hingga Setinggi 800 meter
Advertisement
Advertisement