News

Benarkan Mendaki di Gunung Rinjani Akan Dipisah Antara Tenda Laki-Laki dan Perempuan?

Penulis: Newswire
Tanggal: 20 Juni 2019 - 11:17 WIB
Ilustrasi. - Antara

Harianjogja.com, LOMBOK-- Wacana pemisahan tenda bagi pendaki laki-laki dengan perempuan di Gunung Rinjani bikin heboh. Provinsi Nusa Tenggara Barat saat ini memang tengah gencar mempromosikan sebagai wilayah destinasi wisata halal di Indonesia.

Namun demikian, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Sudiyono menegaskan wacana pemisahan tenda perempuan dan laki-laki di kawasan Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, tidak akan dilaksanakan karena bukan prioritas di lembaganya.

"Berkaitan dengan adanya gagasan pemisahan antara tenda laki-laki dan perempuan di kawasan TNGR yang kemungkinan akan menjadikan pro dan kontra di masyarakat, maka kami sampaikan bahwa program tersebut tidak akan dilaksanakan karena bukan menjadi prioritas," kata Sudiyono, melalui keterangan tertulis seperti dikutip Antara, Kamis (20/6/2019).

Hal itu ditegaskan Sudiyono berkaitan dengan beredarnya berita pernyataan bahwa Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) seolah-olah akan segera menerapkan pemisahan antara tempat tenda camping laki-laki dan perempuan.

BTNGR juga sangat sangat mendukung adanya program Wisata Halal yang dikembangkan oleh Gubernur NTB.

Untuk itu, Sudiyono meminta dengan hormat kepada semua pihak untuk segera mengakhiri pembicaraan atau perdebatan tema pemisahan antara tenda laki-laki dan perempuan di kawasan TNGR.

"Sebab, bila diteruskan justru akan merugikan dunia pariwisata di Indonesia," ucap Sudiyono.

Saat ini, kata dia, pihaknya sedang fokus pada perbaikan manajemen pendakian khususnya pada "e-tiketing", pengelolaan sampah dan perbaikan sarana prasarana jalur pendakian yang rusak akibat gempa bumi pada 2018 lalu.

BTNGR sudah membuka jalur pendakian Gunung Rinjani secara terbatas mulai 14 Juni 2019 setelah mendapatkan rekomendasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

Empat jalur pendakian yang akan dibuka, yakni Sembalun di Kabupaten Lombok Timur, dan Senaru di Kabupaten Lombok Utara. Kuota pendaki untuk dua jalur pendakian tersebut masing-masing 150 orang per hari.

Sementara kuota jalur pendakian Aik Berik di Kabupaten Lombok Tengah, dan jalur pendakian Timbanuh di Kabupaten Lombok Timur, masing-masing 100 orang per hari.

"Dengan pertimbangan keamanan dan kenyamanan, pendakian dibatasi hanya sampai di Plawangan (tidak diperkenankan menuju puncak dan Danau Segara Anak)," imbuh Sudiyono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Berita Terkait

BPBD Masih Cari Pendaki Hilang di Slamet
Libur Nataru, Pendakian Merbabu Jalur Thekelan Penuh
Longsoran Salju Tewaskan Empat Pendaki di Yunani
Tersesat di Merapi, Pemuda Asal DIY Ditemukan Meninggal

Video Terbaru

Berita Lainnya

Berita Terbaru Lainnya

KPK Nilai Pengurusan Pajak PT Wanatiara Rugikan Negara Rp59 M
Hujan Deras Picu Longsor di Gebog Kudus, Warga Dievakuasi
KPK Sita Rp6,38 Miliar dari Tersangka Suap Pajak Jakut
Ribuan Warga Tempur Terisolasi Akibat Longsor di Jepara
Trump Pertimbangkan Serangan ke Iran di Tengah Aksi Protes
Eddy Hiariej: Ada Tiga Isu Pidana yang Tak Bisa Disamakan
Trump Diduga Siapkan Rencana Invasi ke Greenland, Denmark Geram
KUHAP Baru Berlaku, KPK Tak Tampilkan Tersangka di Konpers
Berjemur Pakai Bikini Dekat Kuil di Thailand, Turis Asing Picu Amarah
Viral Kucing Dibuang ke Tong Sampah, Kopi Eyang Minta Maaf