News

Penipuan Menimpa Maia Estianty, Pemerintah Diminta Masukkan Kurikulum Keamanan Siber

Penulis: Nina Atmasari
Tanggal: 31 Desember 2019 - 14:17 WIB
Ilustrasi. - Harian Jogja/Desi Suryanto

Harianjogja.com, JAKARTA - Maraknya modus penipuan menggunakan kode USSD 21 untuk meneruskan panggilan ke nomor lain seharusnya bisa menjadi dasar bagi pemerintah atau penyedia layanan telekomunikasi memberikan edukasi yang tepat bagi para penggunanya. Pakar Keamanan Siber Pratama D. Persadha berharap agar edukasi tentang keamanan siber bisa digalakkan.

"Atas kejadian ini, harapannya ke depan edukasi oleh semua pihak bisa digalakkan," ujar Pratama saat dihubungi, Senin (30/12/2019).

USSD yang merupakan singkatan dari Unstructured Supplementary Service Data merupakan salah satu teknologi pesan singkat yang dimiliki oleh jaringan GSM. Umumnya USSD digunakan untuk pertukaran teks antara ponsel dengan aplikasi yang terdapat di jaringan milik operator. Jadi, tidak heran jika kebanyakan info dan layanan yang dapat diakses menggunakan USSD merupakan info dan layanan yang terkait dengan operator seluler.

Viralnya kasus social engineering dengan modus penerusan panggilan dengan kode USSD, lanjut Pratama, juga menjadi tanda bagi pemerintah untuk segera memasukkan kurikulum keamanan siber dan berinternet yang sehat sejak dini.

 "Sehingga hal-hal penggunaan teknologi yang standar bisa diketahui secara luas, dan apa yang boleh serta tidak boleh dilakukan di wilayah siber juga diterima masyarakat secara luas," ungkap pendiri Lembaga Riset Keamanan Cyber dan Komunikasi (CISSReC) itu.

 Menurut Pratama, operator seluler telah memberikan sebagian keuntungannya kepada pemerintah, salah satunya untuk proses edukasi. Karena itu sudah seharusnya pemerintah menggalakan sosialisasi keamanan siber lebih masif.

 "Tetapi secara default, operator seluler  juga pasti sudah melakukan edukasi ke masyarakat juga. Masalahnya kurang masif dan merata saja," ujar mantan ketua Tim Lemsaneg Pengamanan IT Presiden itu.

 Pratama menjelaskan, call forwarding atau pengalihan panggilan ke nomor lain sebenarnya hanya mengalihkan panggilan saja, tanpa mengalihkan SMS.

 Dalam kasus terakhir yang dialami Maia Estianty, pelaku yang meminta korban melakukan pengalihan panggilan (tanpa korban tahu bahwa itu pengalihan panggilan), menjadikan pelaku hanya menerima panggilan ke nomor milik Maia.

 "Yang dilakukan pelaku adalah meminta SMS OTP aplikasi GoJek sebanyak dua kali, sehingga muncul permintaan OTP lewat telepon, inilah momentum pelaku mengambil alih akun GoJek korban," jelasnya.

 Menurut Pratama, memang terkait fitur pengalihan panggilan banyak sekali, bahkan sebagian besar masyarakat kita tidak tahu.

 "Kebetulan Maia juga bukan artis kemarin sore dan termasuk dari kalangan yang berpendidikan tinggi. Momentum ini memang seharusnya dijadikan oleh operator seluler dan pemerintah untuk melakukan edukasi ke tengah masyarakat," pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

Gojek Hadirkan Shelter Instan di Terminal Giwangan Jogja
Tips Kelola Keuangan, Strategi Jitu Hindari Boncos Jelang Lebaran

Video Terbaru

Berita Lainnya

  1. Panduan Lengkap Slot Online di JendelaToto
  2. Panduan Lengkap Main di Jendelatoto
  3. Main Slot Gacor Mudah Menang 2025
  4. Best Strategies for Togel Players

Berita Terbaru Lainnya

SPPG Program MBG Bertambah, Peluang Kerja Ahli Gizi Kian Terbuka
KAI Uji Coba KRL, Lintas Bekasi-Cikarang Mulai Pulih
774 ASN Kemenimipas Langgar Disiplin, 71 Dipecat
Refund Tiket KA Membludak, 4.447 Penumpang Batal Berangkat dari Daop 1
Korban KA Bekasi Timur Didampingi Kemensos, Ini Bentuk Bantuan
Update Kecelakaan KA Bekasi Timur 16 Tewas 91 Luka
Setelah Jogja, Kini Viral Kekerasan Anak di Daycare Terjadi di Aceh
Judi Online Bali Dibongkar, Mahasiswi Terlibat Jaringan Kamboja
PP Tunas Diperketat, Komdigi Desak Platform Hapus Akun Anak
Kecelakaan Kereta Bekasi Disorot Ombudsman RI