News

Masker dan Pembersih Tangan Jadi Barang Langka di Asia Gara-Gara Wabah Virus Corona

Penulis: Aprianto Cahyo Nugroho
Tanggal: 24 Januari 2020 - 18:17 WIB
Sejumlah karyawan menggunakan masker saat keluar dari gedung BRI 2, Jakarta, Kamis (23/1/2020). Menteri Kesehatan Terawan Agusputranto memastikan bahwa pasien yang diduga terjangkit virus korona atau novel coronavirus (nCov) di gedung BRI 2 hanya menderita sakit tenggorokan biasa. - ANTARA FOTO/Reno Esnir

Harianjogja.com, JAKARTA – Munculnya virus Corona membuat stok masker dan hand sanitizer mengalami kelangkaan di sebagian negara di Asia, karena orang-orang memborong barang tersebut guna mencegah penularan.

Apotik di seluruh Hong Kong kehabisan stok masker. Hal ini memaksa pihak berwenang mendatangkan lebih banyak lagi pasokan pekan depan. Sementara itu, Taiwan melarang ekspor masker untuk bulan mendatang guna memastikan tercukupinya pasokan domestik.

Di Makau, pihak berwenang mengatakan penjualan akan dibatasi hingga 10 masker per penduduk atau pekerja resmi yang dapat menunjukkan kartu identitas yang berlaku.

Mencuci tangan secara rutin, menutupi wajah, dan menghindari keramaian menjadi garis pertahanan utama untuk menghindari penularan virus corona. Hingga hari ini, Komisi Kesehatan Nasional China mengkonfirmasi 830 kasus pasien yang terinfeksi virus corona hingga kemarin, sementara jumlah korban tewas meningkat menjadi 25 orang.

Virus, yang dimulai di kota Wuhan di provinsi Hubei, telah menyebar ke kota-kota besar lainnya termasuk Beijing, Shanghai, dan Hong Kong, serta ke sejumlah negara seperti Singpura, Vietnam, Makau, Jepang, dan Korea Selatan.

Seorang karyawan di apotek Cheung Tai di distrik keuangan Hong Kong mengatakan persediaan masker dan pembersih habis dua hari lalu, sedangkan sarung tangan medis laris terjual. Pabrik-pabrik yang membuat produk ditutup untuk liburan Tahun Baru Imlek, yang berarti mereka tidak akan dapat mengisi kembali pasokan untuk setidaknya satu pekan ke depan.

"Kami sadar ada panic buying di pasar. Beberapa pasokan masker baru akan tiba minggu depan,” ungkap Matthew Cheung, pejabat tertinggi kedua Hong Kong, dalam konferensi pers, Kamis (23/1), seperti dikutip Reuters.

Dewan Konsumen Hong Kong mendesak para pedagang untuk tidak menaikkan harga masker dengan tak wajar.

Sementara itu, juru bicara 3M Co. yang berbasis di AS mengatakan pihaknya berupaya menggenjot output dan bekerja dengan distributor untuk memastikan persediaan yang cukup untuk memenuhi permintaan dan memasok pelanggan yang ada.

Raksasa e-commerce Alibaba Group Holding menjual 80 juta masker di situs Taobao pada hari Senin dan Selasa.

Di Jepang, Li Xing (28 tahun) dan Lei Xiaoqiang (31 tahun) menghabiskan lebih dari 6.000 yen di Welcia, sebuah toko obat di Tokyo, untuk membeli tujuh kotak masker dan paket lainnya untuk pemakaian pribadi dan keluarga mereka.

"Di negara saya, mereka tidak bisa membeli masker karena sudah terjual habis. Pemerintah telah mengatakan kepada semua orang untuk memakainya,” ungkap Lei.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Reuters

Berita Terkait

Puluhan Jet Tempur AS di Yordania, Tegang Iran
Sanae Takaichi Kembali Jadi PM Jepang, Siap Ubah Konstitusi
Skandal Chifagate, Presiden Peru Jose Jeri Dimakzulkan
Indonesia Desak AS-Rusia Negosiasi Ulang Pembatasan Senjata Nuklir

Video Terbaru

Berita Lainnya

  1. Panduan Lengkap Slot Online di JendelaToto
  2. Panduan Lengkap Main di Jendelatoto
  3. Main Slot Gacor Mudah Menang 2025
  4. Best Strategies for Togel Players

Berita Terbaru Lainnya

WFP: Somalia Terancam Kelaparan Massal
Wabah Distemper Tewaskan 72 Harimau di Thailand
10 Tewas akibat Gempuran Israel di Lebanon Timur
Perahu Migran Terbalik di Kreta, 5 Tewas dan 25 Hilang
9 KKB Yahukimo Ditetapkan Tersangka
Heboh Agrinas Impor 105.000 Pikap India, APM Lokal Buka Suara
Badan Gizi Nasional Tegaskan Insentif Mitra MBG Dibayar Saat Libur Nas
Tarif AS 10 Persen, Prabowo: Indonesia Siap Hadapi
Kementerian Luar Negeri Jepang Keluarkan Peringatan Global
Puluhan Jet Tempur AS di Yordania, Tegang Iran