News

33 Virus Berusia 15.000 Tahun Ditemukan di Tibet

Penulis: Ni Luh Anggela
Tanggal: 26 Juli 2021 - 17:47 WIB
Ilustrasi virus - JIBI/Bisnis.com

Harianjogja.com, JAKARTA – Para ilmuwan menemukan virus yang sebelumnya tidak diketahui dari 15.000 tahun lalu dalam sampel es yang diambil dari gletser di dataran tinggi Tibet.
 
Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada pekan lalu di jurnal Microbiome, virus tersebut tidak seperti virus yang telah dikatalogkan oleh para ilmuwan sebelumnya.
 
Melansir  CNN, Senin (26/7/2021), sebuah tim termasuk ilmuwan iklim dan ahli mikrobiologi dari Ohio State University mengambil dua inti es dari puncak lapisan es Guliya, pada ketinggian 22.000 kaki di atas permukaan laut, di China barat pada tahun 2015.
 
Penulis utama studi tersebut yang juga merupakan ahli mikrobiologi, Zhiping Zhong mengatakan inti es sedalam 1.071 kaki yang kemudian dipotong menjadi beberapa bagian dengan panjang tiga kaki dan diameter empat inci.
 
Tim kemudian menganalisis es dan menemukan 33 virus. 28 diantaranya sebelumnya tidak diketahui sains dan bertahan karena dibekukan.
 
Menurut penelitian, virus kemungkinan berasal dari tanah atau tanaman, bukan dari manusia atau hewan, dan akan disesuaikan dengan kondisi. Kepada CNN, para peneliti mengatakan bahwa virus tersebut tidak akan berbahaya bagi manusia.
 
Es menangkap isi atmosfer melalui waktu, termasuk virus dan mikroba, menurut penelitian tersebut.
 
Relatif sedikit yang diketahui tentang virus di gletser, tetapi bidang ini semakin penting karena es di seluruh dunia mencair akibat perubahan iklim.
 
Rekan penulis studi, Lonnie Thompson, profesor ilmu bumi di Ohio State dan ilmuwan peneliti senior di Byrd Polar Research  Center mengatakan, pandem Covid-19 telah meningkatkan kesadaran akan pentingnya belajar tentang komunitas mikroba.
 
Metode yang digunakan dalam penelitian ini, menurut Matthew Sullivan, profesor mikrobiologi di Ohio State dan direktur Center of Microbiome Science, memungkinkan para ilmuwan untuk menilai tingkat evolusi virus yang ada di berbagai lapisan inti es.
 
Ini juga dapat bermanfaat dalam pencarian kehidupan di Mars, misalnya.
 
“Begitu Anda mengembangkan teknologi baru itu, dapat membantu Anda menjawab pertanyaan di lingkungan lain yang sangat sulit,” kata Sullivan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Berita Terkait

Kasus ISPA di Jogja Melejit pada 2025, Awal 2026 Landai
Superflu Influenza A H3N2 Muncul di Jateng, Ini Penjelasan Dinkes
Indonesia Larang Impor Daging Babi dari Spanyol akibat Wabah ASF
Wabah Diare di Indore India, 9 Tewas Ratusan Dirawat

Video Terbaru

Berita Lainnya

  1. Panduan Lengkap Slot Online di JendelaToto
  2. Panduan Lengkap Main di Jendelatoto
  3. Main Slot Gacor Mudah Menang 2025
  4. Best Strategies for Togel Players

Berita Terbaru Lainnya

Ada Ancaman Keamanan, Kunker Wapres Gibran ke Yahukimo Ditunda
Syafiq Ridhan Ali, Korban Hilang Gunung Slamet Ditemukan Meninggal
155 Ribu Warga Aceh Masih Mengungsi Akibat Banjir
Balita Tewas dalam Mesin Cuci di Jepang, Ayah Ditangkap
Crane Proyek Kereta Cepat Thailand Ambruk, Kereta Terbelah 28 Tewas
Pemerintah Siapkan Perpres AI sebagai Payung Regulasi Nasional
Korban Banjir Cikande Tangerang Mendesak Butuh Bantuan Logistik
Cemaran Toksin, BPOM Minta Nestle Tarik Susu Formula Impor S-26 Promil
KLH Siapkan Gugatan Triliunan Perusahaan Pemicu Banjir Sumatera
Banjir Rendam 25 Desa di Kudus, Lebih 48 Ribu Warga Terdampak