HomeNews

Lebaran Usai, Permintaan Obat Covid-19 Melonjak Hingga 12 Kali Lipat

Oleh:Newswire
26 Juli 2021 - 18:37 WIB

Petugas menyiapkan obat Covid-19 di gudang instalasi farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/7/2021). Mulai hari ini, Pemerintah Pusat resmi membagikan sebanyak 300.000 paket obat gratis berupa multivitamin, Azithtromycin, dan Oseltamivir bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di Pulau Jawa dan Bali. ANTARA FOTO - Raisan Al Farisi

Harianjogja.com, JAKARTA - Permintaan obat-obatan terkait Covid-19 melonjak hingga 12 kali sejak dua bulan terakhir. Peningkatan  kasus Covid-19 di Indonesia terjadi usai perayaan Lebaran pada pertengahan Mei 2021.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menuturkan bahwa permintaan obat-obatan Covid-19 melonjak sampai 12 kali lipat. Lonjakan kasus virus corona terjadi karena adanya libur Lebaran dan masuknya varian Delta di Indonesia.

"Sejak 1 Juni sampai sekarang telah terjadi lonjakan yang luar biasa dari kebutuhan obat-obatan. Lonjakan itu besarnya sekitar 12 kali lipat," kata Menkes Budi Gunadi di Kantor Presiden di Jakarta, Senin (26/7/2021).

Budi Gunadi mengaku telah berkomunikasi  dengan Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi) dan sudah mempersiapkan impor bahan baku obat, memperbesar kapasitas produksi serta mempersiapkan distribusinya.

"Namun memang dibutuhkan waktu antara 4-6 minggu agar kapasitas obat dalam negeri kita bisa memenuhi kebutuhan peningkatan obat-obatan sebanyak 12 kali lipat ini," ungkap Budi.

Budi menargetkan pada awal Agustus beberapa obat-obatan terapi Covid-19 yang sering dicari masyarakat seperti Azithromysin, Oseltamivir dan Favipiravir sudah bisa masuk ke pasar dalam jumlah yang lebih signifikan.

"Saya kasih contoh Azithromysin sekarang ada 11,4 juta di nasional, 20 pabrik lokal memproduksi obat ini. Jadi sebenarnya kapasitas produksi mencukupi," ungkap Budi.

BACA JUGA: Menkes Sebut BOR Rumah Sakit di DKI dan Jabar Turun, DIY dan Bali Naik

Meski cukup secara produksi, ia mengakui ada sedikit hambatan dalam distribusi Azithromysin masuk ke apotek-apotek.

Sedangkan untuk stok Favipiravir di seluruh Indonesia, menurut Budi Gunadi sekitar 6 juta.

"Ada beberapa produsen dalam negeri yang akan segera meningkatkan stok Favipiravir ini termasuk Kimia Farma untuk bisa (produksi) 2 juta per hari, rencananya PT Dexa Medica juga akan impor 15 juta di bulan Agustus. Kita akan impor juga 9,2 juta dari beberapa negara untuk mulai bulan Agustus dan ada pabrik rencananya yang mulai Agustus juga akan produksi 1 juta Favipilravir setiap hari," tambah Budi.

Dia menuturkan bahwa Favipiravir adalah obat akan menggantikan Oseltamivir sebagai obat antivirus.

"Kalau Azithromysin tadi antibiotik, Favipiravir ini masuk kategori antivirus. Oleh dokter-dokter ahli 5 profesi di Indonesia sudah mengkaji dampaknya terhadap mutasi virus delta ini dan mereka menganjurkan agar antivirusnya digunakan Favipiravir dan diharapkan nanti pada Agustus kita sudah punya kapasitas produksi dalam negeri antara 2-4 juta tablet per hari yang bisa memenuhi kebutuhan," jelas Budi.

Sedangkan stok Oseltamivir hingga Agustus adalah sekitar 12 juta tablet dan secara bertahap akan diganti oleh Favipiravir.

"Itu adalah 3 obat, Azithromysin, Favipiravir dan Oseltamivir yang memang diproduksi dalam negeri. Ada tiga obat lain yang belum bisa kita produksi di dalam negeri, yang sangat bergantung kepada impor, seperti Remdesivir, Actemra dan Gammaraas. Ini adalah obat-obatan yang di seluruh dunia juga sedang 'short supply' karena semua orang sedang membutuhkan obat-obat ini," tambah Budi.

Pemerintah rencananya akan mengimpor obat-obatan tersebut yaitu Remdesivir akan diimpor sebanyak 150 ribu tablet pada Juli 2021 dan 1,2 juta tablet pada Agustus 2021.

"Sekarang kita sedang dalam proses untuk bisa membuat Remdesivir di dalam negeri, ya doakan mudah-mudahan itu bisa segera terjadi," kata Budi. Sementara untuk Actemra juga rencananya akan diimpor dari berbagai negara.

"Actemra ini obat-obatan yang sangat terkenal karena harganya jadi ratusan juta padahal harga sebenarnya cuma di bawah Rp10 juta, pada Juli ini kita akan kedatangan 1.000 vial tapi Agustus kita akan mengimpor 138 ribu (vial) dari negara-negara yang mungkin teman-teman tidak membahayakan kita akan impor dari negara-negara tersebut. Kita cari ke seluruh pelosok dunia mengenai Actemra ini," tambah Budi

Selanjutnya untuk Gammaraas akan diimpor 26 ribu pada Juli 2021 dan akan diimpor lagi 27 ribu pada Agustus 2021. "Obat-obatan ini akan datang secara bertahap pada Agustus kita harapkan sudah lebih baik distribusinya," kata Menkes.

Sumber: Antara Tag: Virus Corona Editor: Bhekti Suryani

Artikel Terkait

Berita Pilihan

Potensi Bisnis Maritim Indonesia Setara 35 Tahun APBN Vaksinasi di Objek Wisata Ketep Pass Mendapat Apresiasi dari Waaster Kasad 64 Anak di Kota Magelang Kehilangan Orang Tua karena Covid-19 Kemenkes Mengaku Kesulitan Lunasi Tunggakan Klaim Rumah Sakit Tahun Ini Demi Menyapa Warga Seberang Sungai, Presiden Jokowi Naik Perahu Nelayan
Berita Terbaru
Indonesia Waspadai Potensi Gelombang Ketiga Covid-19 pada Akhir 2021 11 minutes ago
Mengenal Apophis, Asteroid yang Paling Dekat ke Bumi 31 minutes ago
Polisi Temukan Bukti Pencucian Uang dalam Kasus Napoleon Bonaparte 41 minutes ago
Potensi Bisnis Maritim Indonesia Setara 35 Tahun APBN 51 minutes ago
Ini Daftar Pimpinan DPR yang Terjerat Korupsi 1 hour ago

Terpopuler

Pemberontak Myanmar Serang Kantor Polisi dan Bunuh Belasan Anggota Keamanan Warga Magelang Jadi Tersangka Penerbangan Balon Udara Berisi Petasan KECELAKAAN LION AIR: Angkasa Pura I Selidiki Arahan ATC JT 960 5 Mapala UMY Taklukkan Gunung Elbrus Kesadaran Berasuransi Mulai Meningkat saat Pandemi
Risiko Long Covid pada Anak-Anak Jauh Lebih Rendah 1 hour ago
Polri Periksa 4 Penjaga Rutan dalam Kasus Penganiayaan oleh Napoleon 1 hour ago
Vaksinasi di Objek Wisata Ketep Pass Mendapat Apresiasi dari Waaster Kasad 2 hours ago
Bawa Kabur Miliaran Rupiah, Bandar Arisan Online Salatiga Tertangkap 2 hours ago
64 Anak di Kota Magelang Kehilangan Orang Tua karena Covid-19 3 hours ago