News

Masyarakat Diajak Lakukan 4T untuk Mencegah Stunting

Penulis: Newswire
Tanggal: 04 Desember 2021 - 04:37 WIB
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo, saat menyampaikan pemaparan dalam acara penandatanganan naskah kesepahaman BKKBN dan Tanoto Foundation yang ditayangkan secara virtual, Kamis (20/5/2021). - ANTARA/Andi Firdaus

Harianjogja.com, JAKARTA-Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengajak seluruh komponen dalam masyarakat untuk menerapkan slogan 4T (tidak terlalu muda, tidak terlalu tua, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sering) yang dapat mencegah anak lahir dalam keadaan stunting (kekerdilan).

“Untuk mencegah stunting itu kuncinya adalah 4T yaitu tidak terlalu muda nikahnya, tidak terlalu tua hamilnya [tidak lebih dari 35 tahun], tidak terlalu banyak anaknya [dua anak lebih sehat] dan tidak terlalu sering", kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam keterangan tertulis BKKBN yang diterima ANTARA di Jakarta, Jumat (3/12/2021). 

Hasto menuturkan bila masyarakat dapat saling bekerja sama untuk menghindari 4T tersebut, maka parameter kependudukan Indonesia data terselamatkan dan berkembang ke arah yang lebih baik.

Dalam membantu masyarakat menghindari 4T, pihaknya telah meluncurkan program Recording System Pencatatan BKKBN. Di mana tiga bulan sebelum menikah calon ibu sudah diperiksa lingkar lengan atas, berat badan, tinggi badan dan hemoglobin darah (Hb) di puskesmas maupun ke fasilitas kesehatan terdekat.

Baca juga: Heboh Aksi Pamer Payudara di YIA, Video Diduga Diproduksi sebelum Oktober 2020

Sebelum menikah, ia menekankan perempuan pun harus memperhatikan dan menjaga dengan memakan makanan yang kaya vitamin C, Zinc dan makanan yang mengandung protein hewani. Hal tersebut, juga berlaku bagi laki-laki guna memiliki sperma yang bagus.

“Apabila terdapat wanita hamil kekurangan gizi, terlihat dari plasenta yang dimiliki tipis, akhirnya dapat menimbulkan bayi dapat terindikasi stunting. Berawal dari sang ibu hamil yang memiliki kekurangan gizi yang baik, berakibat pada anak yang dilahirkan,” kata dia.

Menurut Hasto, penting pula memperhatikan jarak kelahiran pada anak, karena bila terlalu dekat selain dapat berisiko stunting anak juga berpotensi mengidap autisme. Saat memiliki anak, diharapkan ibu fokus menyusui selama 24 terlebih dahulu untuk memenuhi gizi anak, sebelum memutuskan untuk hamil kembali.

Program KB

Ia juga mengatakan untuk memberikan jarak kelahiran itu, program Bangga Kencana mendorong para ibu menggunakan program Keluarga Berencana (KB) segera usai persalinan dilakukan.

Ia berharap semua pihak dapat bekerja sama untuk menyebarkan informasi mengenai hal itu hingga ke pelosok-pelosok daerah.

“Pentingnya kerja sama dengan media, media sosial, wartawan semuanya. Pemerintah tentu bekerja sama juga dengan swasta dan masyarakat, perguruan tinggi, media dan LSM di tengah masyarakat,” tegas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Berita Terkait

Prevalensi Stunting Sleman 4,29 Persen, Pemkab Perkuat Intervensi
Angka Stunting di Jogja Menurun, Pemkot Tetap Waspada
Bantul Berkomitmen Tekan Angka Stunting dengan TPPS
Kemenkes Apresiasi Jateng Atas Keberhasilan Tekan Angka Stunting

Video Terbaru

Berita Lainnya

Berita Terbaru Lainnya

Belgia Desak Israel Buka Akses Bantuan Kemanusiaan
Tanpa Kembang Api, Kapolri Sebut Perayaan Tahun Baru Tertib
Tanpa Kembang Api, Prabowo Rayakan Tahun Baru Bersama Pengungsi
Zohran Mamdani Pimpin New York, Disumpah Pakai Alquran
Sejarah Tahun Baru, Dari Mesopotamia hingga Kalender Masehi
Tarif Listrik 2026 Tak Naik, ESDM Jaga Daya Beli Masyarakat
Inilah Negara Paling Awal dan Paling Akhir Rayakan Tahun Baru 2026
Brankas Bank di Jerman Dibobol, Kerugian Capai Rp588 Miliar
Kritik Banjir Aceh, Rumah Konten Kreator Dilempar Molotov
Tanpa Kembang Api, Hong Kong Rayakan Tahun Baru dengan Cahaya Duka