News

OPINI : Melatih Kejujuran

Penulis: Zuly Qodir
Tanggal: 07 Mei 2019 - 09:17 WIB
ilustrasi. - Reuters/Ina Fassbender

Puasa itu ibadah yang tidak terlihat oleh orang lain. Apakah seseorang itu puasa ataukah tidak, orang lain tidak mengetahui. Yang mengetahui seseorang puasa atau tidak hanyalah dirinya sendiri. Oleh karena itu jika seseorang yang tidak berpuasa kemudian mengaku berpuasa orang lain tidak mengetahuinya.

Inilah kehebatan ibadah puasa. Hanya pelaku dan Tuhan saja yang tahu. Karenanya, Tuhan menyatakan semua ibadah adalah urusan pelaku dan para malaikat, tetapi puasa adalah ibadah yang hanya Aku saja yang akan memberikan penilaian secara langsung. Hal ini ternyata karena puasa itu penuh dengan rahasia, antara pelaku dan sang khalik.

Jika seseorang yang telah berbuka (mukah) di tengah hari atau sebelum waktu berbuka tiba tetapi berpura-pura tetap berpuasa di depan publik, orang lain pun bisa saja percaya. Jika seseorang sejak awal memang sebenarnya tidak berpuasa tetapi di depan publik tidak makan, tidak minum, orang lain pun bisa mempercayai kalau seseorang sedang berpuasa.

Inilah sebenarnya orang yang berpuasa sedang menjaga amanah Tuhan. Apakah seseorang itu tetap amanah dengan perintah Tuhan ataukah melanggar amanah tersebut. Apakah seseorang taat akan amanah ataukah berbohong akan amanah tersebut.

Amanah merupakan latihan jiwa seseorang pada Tuhan dan diri sendiri. Jika seseorang pandai dan taat memegang amanah maka dia akan menjadi seorang yang terpercaya. Tetapi jika seorang yang diberi dan membawa amanah tidak terpercaya maka dia akan melanggar amanah tersebut.

Sikap amanah sekarang ini telah mulai luntur di tengah masyarakat. Banyak orang yang diberi amanah oleh orang lain (rakyat) tetapi rakyat diingkarinya dengan melanggar janji-janji yang diucapkan sebelumnya. Misalnya, seorang kandidat anggota legislatif yang berjanji pada rakyat (konstituen) saat kampanye akan mengerjakan sesuatu, tetapi setelah menjadi anggota legislatif dengan gampang tidak dikerjakan janji tersebut dengan dalih yang bermacam-macam.

Dengan berbohong pada rakyat maka orang seperti itu disebut sebagai penyebar janji bohong karena apa yang disampaikan saat kampanye hanyalah pemanis bibir belaka yang sejatinya tidak akan ditepati.

Kata Sabar
Hal ini yang mendorong terjadinya kerusakan dalam perpolitikan nasional. Rusaknya politik nasional dimulai karena para kandidat anggota legislatif cenderung tidak menepati janji kampanye pada rakyat, sehingga rakyat pemilih akhirnya meminta hal yang nyata di depan daripada di bohongi terus menerus.

Masih banyak contoh yang dapat kita sajikan di sini. Tetapi saya tidak akan menjejerkan demikian banyak contoh tentang perilaku tidak amanah sebagai sifat buruk yang harus segera ditinggalkan agar kita mendapatkan kepercayaan Tuhan dan masyarakat sebagai bentuk akhlak yang baik, karena kita sedang menciptakan karakter masyarakat yang menjunjung tinggi kejujuran.

Jujur itu gampang diucapkan tetapi kadang sulit dipraktikkan. Jujur ibarat pula orang mengatakan sabar. Kata sabar itu demikian mudah diucapkan tetapi juga sulit diprakikkan. Paling banyak adalah orang mengatakan katak-kata sabar tetapi praktiknya tidak menunjukkan kesabaran.

Jujur dan sabar itu mudah diucapkan tetapi sulit dipraktikkan. Oleh sebab itu sebagai orang yang berpuasa, kita harus berusaha menjaga amanah Tuhan kepada kita sebaik mungkin. Tuhan hadir dimana-mana. Tuhan tidak pernah tidur.

Tuhan pun tidak pernah alpha atas apa yang kita ucapkan dan kita praktikkan. Tuhan tidak pernah ingkar akan janji kepada umatnya. Tuhan tidak pernah memutarbalikkan apa yang kita ucapkan dan kerjakan. Catatan Tuhan pasti sesuai dengan apa yang kita ucapkan dan kerjakan sepanjang hayat.

Oleh sebab itu, puasa ini sedang melatih kita menjadi manusia jujur-adil-dan amanah atas diri kita dan Tuhan. Jika setiap orang beriman (yang tengah berpuasa) mempraktikkan apa yang menjadi ajaran puasa, Indonesia tidak akan seperti sekarang ini.

Kenapa banyak orang Indonesia yang suka menjalankan agama (Islam) seperti mengerjakan sholat, puasa, haji dan umrah tetapi perilakunya tidak menunjukkan sebagai orang beriman? Inilah yang perlu kita renungkan. Semoga kita yang sedang berpuasa dapat menjaga amanah untuk melatih kejujuran.

*Oleh Zuly Qodir
Dosen Ilmu Pemerintahan UMY

Berita Terkait

WTP 13 Kali Berturut-turut, Pemkot Jogja Terima Penghargaan dari Kemenkeu RI
Penataan Kawasan Kumuh di Sungai Gajah Wong Dapat Apresiasi Bank Dunia
Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele
YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia
OPINI: Kesuksesan Fintech Ecosystem
OPINI: Memerdekakan Teknologi Pendidikan
OPINI: Ekosistem Pembayaran Asean
OPINI: Iklim dan Ekonomi Kelautan

Video Terbaru

Advertisement

Berita Lainnya

  1. Rekan Kecewa Febri Diansyah Bela Putri Sambo, Dianggap Tindakan Gegabah
  2. Ada Raisa hingga Kangen Band di Solo Batik Music Festival, Ini Jadwalnya
  3. 162 Judi Daring Diungkap, Pelaku Dijerat Pasal Pencucian Uang
  4. Dinobatkan sebagai Tokoh Transformasi Digital Kelistrikan, Ini Kata Dirut PLN

Berita Terbaru Lainnya

OPINI: Energi Efisiensi Melalui KPBU APJ
OPINI: Kesuksesan Fintech Ecosystem
OPINI: Memerdekakan Teknologi Pendidikan
OPINI: Ekosistem Pembayaran Asean
OPINI: Iklim dan Ekonomi Kelautan
OPINI: Live Shopping, Cara Berjualan Jadul yang Kembali Populer
OPINI: Kepastian Hukum Kemitraan
OPINI: Menuju Sehat APBN & Ekonomi
OPINI: Kolaborasi Dalam BI7DRR

OPINI: Kolaborasi Dalam BI7DRR

Opini | 1 week ago
OPINI: Perizinan Usaha & Masa Sulit