HomeOpini

Momentum dalam Menguatkan Ibadah dan Mengingat Negeri Akhirat

Oleh:Anisa Dwi Makrufi, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UMY
12 Mei 2021 - 06:27 WIB

Anisa Dwi Makrufi, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UMY

Setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya. Dan hanya Allah yang mengetahui kapan akan sampainya ajal setiap manusia. Penggalan ayat di atas tentulah sudah sering kita dengarkan. Momentum Ramadan tahun ini bisa saja menjadi Ramadan terakhir yang kita lalui, lantas sudah siapkah perbekalan kita untuk menuju negeri yang abadi?

Profesi yang sehari-hari dilakoni tak jarang membuat manusia lupa diri. Lupa akan persiapan bekal untuk menghadap Allah nantinya. Lupa akan hal esensi dalam hidup bahwa manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah.

“Wa maa kholaqtul jinna wal insa illaa liya'buduun“ (Q.S. Al-Dzariyat Ayat 56). Wujud ibadah seorang muslim tidaklah sulit. Seluruh aktivitas harian kita pun bisa bernilai ibadah. Bahkan aktivitas ringan seperti tidur, makan dan minum bisa bernilai ibadah. 

Di dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin karya monumental Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa aktivitas harian kita berpotensi sebagai aset untuk mendapatkan pahala sehingga Allah ridha dan tercatat sebagai amalan yang bernilai ibadah. Terdapat enam keadaan yang berpotensi menjadi ladang ibadah manusia, yaitu: a) ahli ibadah dalam arti konvensional; b) orang yang alim (berilmu), dengan ilmunya ia memberikan manfaat kepada orang lain melalui fatwa, pengajaran, ataupun karya/tulisannya; c) pencari ilmu, mereka mencari ilmu karena Allah; d) orang yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya; e) pemimpin yang adil; f) muwahhid, yakni hati yang senantiasa bersandar kepada Allah. 

Berikut tips menata hari supaya bernilai sebagai ibadah: Pertama, menata niat dengan benar. "Innamal a'malu binniyaat wa innama likullimriimmaanawaa". Aktivitas apapun yang kita lakukan akan bernilai ibadah di mata Allah jika diniatkan dengan lurus. 

Kedua, kegiatan yang dilakukan bukanlah perbuatan yang dilarang oleh Allah. 

Ketiga, mengingat kebesaran Allah dan mengharap rahmatNya. Hindari berkeluh kesah, kata seandainya yang memicu kurangnya keimanan kita kepada qada dan kadar Allah. 

Keempat, tidak melanggar batas ketentuan yang dilarang syariat Islam. 

Kelima, sungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan. Kesungguhan dan ketelitian dalam bekerja adalah hal yang disukai Allah. "Sesungguhnya Allah menyukai seseorang diantara kamu yang ketika mengerjakan sesuatu perkara, dilakukan dengan tekun dan teliti” (HR Baihaqi). 

Tentu sudah menjadi harapan setiap insan, jika profesi yang dilakoni menjadi lebih bernilai di sisi Allah. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mulai mewajibkan kepada seluruh staf baik dosen dan karyawan untuk setor hafalan qur'an (muroja'ah). Hal ini dilakukan supaya di tengah kesibukan dan beban kerja para dosen dan tendik (tenaga kependidikan), mereka tetap memprioritaskan Al-Qur'an dalam kesehariannya. Kebijakan dari Badan Pembina Harian UMY ini disambut dengan sukacita oleh para staf, seolah mereka menemukan oase di gurun yang kering. Kampus dengan tagline “Unggul dan Islami” ini terus berbenah dalam peningkatan dan pengembangan kapasitas SDM-nya. Meski berbagai ranking serta pengakuan internasional telah diperoleh tetapi perhatian akan Al-Qur'an tetap menjadi utama. Marilah momentum bulan suci dengan segala kebaikan dan keberkahan di dalamnya bisa kita maksimalkan untuk bermuhasabah, menguatkan ibadah melalui aktivitas harian dan mengantarkan kita menjadi insan kamil. Amin.

Tag: ramadan Editor: Maya Herawati

Artikel Terkait
Ahli Falak 4 Negara Berembuk Kalender Hijriah 1 year ago
OPINI: Memenangkan Hari Kemenangan 2 years ago
Dari Panggung, Shaggydog Bebaskan Penghuni Lapas Wirogunan dari Kebosanan 2 years ago
Selama Ramadan, Lebih dari 1.000 Petasan Disita Polsek Srandakan 2 years ago
OPINI: Akselerasi Kualitas Keimanan dan Ketakwaan untuk Mencapai Idulfitri 2 years ago

Berita Pilihan

Keteladanan yang Tak Tergantikan Mengoptimalkan Ibadah Puasa saat Pandemi Covid-19 OPINI: Karya Holistik yang Membangun Karakter Bangsa OPINI : Melatih Kejujuran OPINI: Memahami Evolusi E-Government
Berita Terbaru
OPINI: Swasembada Semu Daging Ayam 8 hours ago
OPINI: Omnibus Law & Orkestrasi Ekosistem Investasi Daerah 1 day ago
OPINI: Arah Pemulihan Ekonomi Berlanjut 3 days ago
OPINI: Aji Mumpung di Musim Liburan 4 days ago
OPINI: Menekan Risiko Keuangan melalui Literasi Media & Informasi 5 days ago

Terpopuler

HIKMAH RAMADAN: Ramadan, Bentuk Kasih Sayang Allah Opini: Perlindungan Konsumen di Era Digital RIFKA ANNISA: Bercerita Pengalaman Kekerasan Seksual OPINI: Menepis Stres Kerja di Perusahaan OPINI: Buzzer adalah Kita
OPINI: Transformasi Ekonomi Hijau 6 days ago
OPINI: RUU PKS, Harapan Perlindungan Hukum Kawin Paksa 1 week ago
OPINI: Fatwa Vaksin Covid-19 1 week ago
OPINI: Pemangkasan Bunga Kartu Kredit 1 week ago
OPINI: Sikapi Pandemi dengan Resilient 1 week ago