HomeOpini

OPINI: Sikapi Pandemi dengan Resilient

Oleh:Hari Nurweni, Staf Pengajar STIM YKPN
11 Juni 2021 - 06:07 WIB

Hari Nurweni, Staf Pengajar STIM YKPN

Industri pariwisata dan perhotelan merupakan sektor usaha yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 ini. Menurut catatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) pada tahun 2020 yang lalu, tingkat okupansi rata-rata nasional paling tinggi hanya mencapai 35%. Ternyata dari sektor ini tidak hanya dari sisi tingkat okupansi saja yang  menukik tajam, dari sisi tarif hotel per malam  juga mengalami penurunan yang sangat  signifikan berkisar antara 30%-40%.

Hal ini berarti terjadi penurunan pada market demand yang dipicu oleh kebijakan pemerintah untuk memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) (Kontan.co.id, Senin 1/3 2021). Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno sekitar 30 juta lapangan pekerjaan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif terdampak pandemi dan dalam kondisi sulit (Bisnis.com).

Pada sektor industri ritel khususnya ritel fashion juga mengalami penurunan yang begitu dahsyat yakni 80% pada semester I 2020, artinya omset hanya 20 persen. Namun setelah  pelonggaran PSBB omset yang dicapai baru menyentuh angka 30%–40% (Kontan. co.id, 4 juni). Itulah beberapa contoh dampak pandemi yang dialami sektor usaha.  Maka apa yang harus dilakukan oleh pelaku bisnis agar selamat dari hantaman pandemi Covid-19?

Strategi Bertahan

Apabila bisnis kita terdampak pandemi sehingga terjadi penurunan permintaan, maka perlu dikaji apakah dalam bisnis yang kita geluti ini dimungkinkan muncul segmen baru yang permintannya bisa kita penuhi? Apabila ya, maka perusahaan dapat melakukan strategi diversifikasi produk (menambah keragaman produk yang ditawarkan).  

Strategi ini harus dilakukan dengan cepat karena pesaing juga berfikir melakukan hal yang sama. Strategi ini telah dilakukan perusahaan tekstil karena permintaan tekstil sedang menurun. Beberapa perusahaan tekstil telah mengalihkan sebagian sumber dayanya untuk memproduksi masker.

Pemintaan masker meningkat dengan tajam mengingat produk ini diperlukan setiap orang dan telah dibutuhkan sejak awal pandemi sampai dengan saat ini. Tentu saja strategi diversifikasi dilakukan perusahaan tekstil karena aset dan kompetensi perusahaan bisa dialihkan pada segmen yang baru tersebut.

Perusahaan penerbangan Air Asia juga melakukan strategi yang sama, di mana perusahaan ini yang sebelumnya fokus pada penumpang, kemudian mengalihkan asetnya untuk pesawat cargo.

Dalam strategi bertahan ini, poin penting yang harus menjadi perhatian bahwa aset perusahaan harus dapat dioperasikan secara optimal. Hal ini karena dalam kondisi seperti apapun suatu perusahaan ada biaya tetap yang harus ditanggung. Selain itu, perusahaan bisa juga melakukan berbagai efisiensi, sehingga perusahaan bisa bertahan dalam jangka panjang.

 

Adaptif

Kondisi pandemi Covid-19 memaksa terjadinya berbagai perubahan pada perilaku konsumen. Masyarakat harus melakukan social distancing di mana kontak fisik atau face to face menjadi sangat dibatasi. Tentu saja dalam menjalankan bisnisnya perusahaan juga mau tidak mau harus melakukan berbagai adaptasi.

Dalam menjual dan mempromosikan produknya, perusahaan beralih dari strategi offline ke strategi online. Segala aktivitas perusahaan berubah berbau digital. Ini artinya semua perusahaan beralih dari channel yang konvensional ke digital channel.

Mobilitas masyarakat sangat dibatasi, hal inilah yang membuat perilaku mereka berubah dalam melakukan pengambilan keputusan pembelian produk, semuanya bermuara pada digitalisasi. Sebagai contoh bisnis kuliner bekerja sama dengan jasa layanan pengiriman online misalnya gojek, grab dan sebagainya. Bisnis berbasis e–commerce mempunyai kinerja sangat luar biasa bagai menerima durian runtuh karena kondisi pandemi.

Misalnya shopee, jumlah penjualnya meningkat sebesar 60% dari tahun ke tahun. Shopee juga terus memperkuat upaya guna memastikan bahwa manfaat dan peluang e–commerce dapat dirasakan oleh setiap orang. Termasuk disini, shopee menghadirkan cara baru bagi konsumen untuk dapat berbelanja dan terhubung satu sama lain (medcom.id 3). Perusahaan e-commerce lain yaitu Tokopedia pada saat ini telah berkolaborasi dengan Gojek untuk membentuk Grup GoTo. Keduanya telah resmi merger menggabungkan layanan e-commerce, logistik dan transportasi serta layanan keuangan. Gojek memberikan layanan pengiriman jasa yang dibutuhkan Tokopedia dan menyediakan alat transaksi serta jasa keuangannya (SKH KR, 25 Mei 2021). Berbagai adaptasi tersebut bisa dilakukan perusahaan karena didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu bekerja dengan style digital. Hal ini menjadi sangat penting, terutama bagi perusahaan e-commerce yang notabene mayoritas penggunanya adalah adalah milenial.

 

Menjadi Resilient  

Kondisi pandemi merupakan pil pahit yang kita telan bersama. Namun demikian banyak perusahaan tetap bisa bertahan terhadap kondisi ini, bahkan  berbagai perusahaan mampu melakukan terobosan baru untuk menangkap peluang bisnis dalam situasi pandemi ini. Perusahaan-perusahaan tersebut dikatakan “tahan banting” atau resilient. Bagaimana supaya perusahaan menjadi resilient?

Pertama, perusahaan harus mempunyai sumberdaya cadangan yang mencukupi agar bisa bertahan apabila terjadi krisis. Dengan kata lain, perusahaan harus mempunyai tabungan. Sumberdaya tersebut diperlukan apabila perusahaan dengan terpaksa melakukan diversifikasi apabila permintaan perusahaan terus mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Bahkan cadangan sumberdaya ini juga diperlukan ketika perusahaan dengan terpaksa harus pindah industri. Semua itu harus dilakukan perusahaan karena disadari bersama bahwa perusahaan didirikan dengan tujuan untuk going concern.

Kedua, perusahaan harus mempunyai strategi yang “agile”, siap untuk berubah secara frontal untuk mencapai tujuan. Perusahaan perlu melakukan berbagai skenario perencanaan  untuk mengantisipasi segala kemungkinan.

Ketiga, perusahaan harus didukung oleh SDM yang mumpuni, bisa diandalkan apabila harus berubah. Perusahaan juga harus mempunyai budaya siap untuk berubah. Setiap anggota organisasi siap berubah peran dan tanggung jawab apabila terjadi perubahan arah bisnis dalam perusahaan. Oleh karena itu, upaya perusahaan untuk menjadi resilient atau tahan banting mengadapi pandemi akan tercapai. Semoga.

Tag: Bisnis Editor: Maya Herawati

Artikel Terkait
Sedang Kembangkan Bisnis Digital? 4 Platform Ini Bisa Membantu Anda 1 year ago
OPINI: Memulai Bisnis Skala Kecil Menjanjikan di 2020 1 year ago
OPINI: Internet, Hanyut Psikologis dan ZMOT dalam Pendidikan 1 year ago
OPINI: Dewi Sri Membutuhkan Pemasaran Sosial 1 year ago
OPINI: Menggapai Peringkat 50 Kemudahan Berbisnis 1 year ago

Berita Pilihan

Keteladanan yang Tak Tergantikan Mengoptimalkan Ibadah Puasa saat Pandemi Covid-19 OPINI: Karya Holistik yang Membangun Karakter Bangsa OPINI : Melatih Kejujuran OPINI: Memahami Evolusi E-Government
Berita Terbaru
OPINI: Prospek Investor Milenial 14 hours ago
OPINI: Industri Perlu Ilmu Sosial 2 days ago
OPINI: Covid-19 dan Rasionalitas Beragama 4 days ago
OPINI: Mendesain Dunia Maya Ramah dan Aman terhadap Perempuan 4 days ago
OPINI: Menuju Proses Transisi Ekonomi Hijau 5 days ago

Terpopuler

HIKMAH RAMADAN: Ramadan, Bentuk Kasih Sayang Allah Opini: Perlindungan Konsumen di Era Digital RIFKA ANNISA: Bercerita Pengalaman Kekerasan Seksual OPINI: Menepis Stres Kerja di Perusahaan OPINI: Buzzer adalah Kita
OPINI: Persoalan Memahami Pandemi 1 week ago
OPINI: Ancaman Depopulasi Sapi 1 week ago
OPINI: Problem Rencana Penerapan Pajak Minimum 1 week ago
OPINI: Perempuan Memimpin dari Desa 1 week ago
OPINI: Memahami Generazi Z dari Fandom BTS Army 1 week ago