HomeOpini

OPINI: Pariwisata Bali & Kembalinya Turisme Indonesia

Oleh:Dewa Gde Satrya Dosen Hotel & Tourism Business Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya
29 Juni 2021 - 06:07 WIB

Saat ini pemerintah Provinsi Bali tengah menyelesaikan grand design menyambut kedatangan wisatawan mancanegara (wisman). Harapan dibukanya kembali Bali untuk wisman, tergantung keputusan pemerintah pusat. 

Meski demikian, sebagai bukti keseriusan setiap stakeholder pariwisata Bali membuka diri pada wisatawan, protokol kesehatan dan CHSE (cleanliness, healthy, safety, environment sustainability) dilakukan setiap lini terkait pariwisata. Tak hanya itu, Bali telah menguji coba 3 destinasi yang masuk dalam Travel Corridor Arrangement (TCA), yakni Sanur, Ubud dan Nusa Dua, sebagai ‘etalase’ kesiapan pariwisata Bali di era new normal saat ini.

Secara nasional, dibukanya pariwisata Bali untuk wisman berdampak signifikan pada citra pariwisata Indonesia. Karena itu, ada harapan menyertai upaya pembuatan grand design bagi kedatangan wisman yang dibuat oleh Pemprov Bali.

Di ranah masyarakat dan pelaku wisata, akhir tahun lalu ‘gemuruh’ kesiapan dan kerinduan akan dibukanya kembali Bali pada wisman sedikit terungkap pada rilis video clip bertajuk “Bali Kembali” dari youtube channel musisi Bali, I Wayan Balawan. Di clip tersebut, tampak dukungan sejumlah musisi dan talenta di Bali dalam semangat bersama memberi motivasi ke pelaku pariwisata Bali di masa-masa sulit ini.

Bali sebagai etalase pariwisata Indonesia, menjadi barometer keterpurukan, dan sebaliknya kebangkitan, pariwisata Indonesia di masa pandemi Covid-19.

Standard operating procedure (SOP) menyambut kedatangan wisman telah dirumuskan, mulai dari kedatangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai telah diatur beberapa hal teknis. Antara lain, dilakukan PCR, pengecekan wisman di Kantor Kesehatan Pelabuhan, swab, pengecekan imigrasi, penjemputan taksi yang tersertifikasi CHSE, pelaksanaan karantina dan rujukan rumah sakit bila hasil swab positif.

Kualitas wisatawan semakin penting, menyetarakan kembali titik keseimbangan dengan dampak negatif dari orientasi pada jumlah kunjungan. Namun secara teknis hal tersebut belum diatur dan dipikirkan secara detail. Meski demikian, rintisan untuk menerima tamu secara lebih selektif perlu dimulai.

Dasarnya adalah, semakin dibutuhkan tamu mancanegara yang berkualitas, tidak lagi mengejar jumlah kunjungan, tetapi tingkat pengeluaran dan lama tinggal. Asumsinya, saat ini dengan tingkat kunjungan yang ada, di masa selanjutnya perlu dipertimbangkan potensi tingkat konsumsi dan perilaku yang tidak merugikan kehidupan sosial di destinasi yang dikunjungi.

Segmentasi Wisata

Model wisata yang ditawarkan pun perlu semakin diprioritaskan pada segmentasi yang relevan dengan wisatawan yang berkualitas. MICE (meeting, incentive, conference, exhibition), segmentasi pasar MICE hampir dipastikan memiliki daya beli yang bagus, lebih well educated, dan memiliki kecenderungan perilaku yang adaptif dengan norma sosial di dalam negeri. Karena itu, segenap potensi yang dimiliki daerah, dianjurkan berbenah lebih serius untuk mendatangkan tamu dari segmentasi industri ini

.

Event yang kerap mendatangkan wisatawan berkualitas terdiri dari event budaya, olahraga dan musik. Lombok misalnya, dengan kehadiran Mandalika yang akan memiliki sirkuit MotoGP dan Formula 1, akan menarik minat berkunjung para pecinta olah raga tersebut.

Sport tourism menjadi event berkualitas yang diharapkan juga akan mampu menarik segmen wisatawan. Bahkan kabarnya, potensi pasar internasional untuk dua olahraga itu diperkirakan tidak hanya disediakan akomodasi di Lombok, tetapi juga Bali.

Dampak berganda dari sport tourism tidak hanya bagi tempat penyelenggaraan dan tidak terbatas pada waktu penyelenggaraan. Citra daerah sebagai tuan rumah penyelenggara event juga akan terdongkrak positif.

Selain itu, segmentasi ekowisata, jenis wisata yang menyelaraskan kelestarian alam dan budaya dengan kegiatan wisata berbasis masyarakat ini, kurang tergarap dengan baik di Indonesia. Segmentasi ekowisata meskipun memiliki karakter selektif dalam kunjungan, tetapi diproyeksikan memiliki tingkat pengeluaran yang tinggi.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan penulis dengan pelaku usaha adventure, diinformasikan bahwa pengeluaran per orang untuk wisatawan asing untuk mendaki gunung di Indonesia di atas Rp 100 juta dengan waktu seminggu. Wisatawan ekowisata lebih serius dan niat dalam berwisata.

Melalui momentum perumusan grand design kedatangan wisman di Bali, prinsip dan praktik responsible tourism sebagai bagian dari gelombang baru new tourism menjadi market leader yang menjadi salah satu pertimbangan penting manakala seseorang melakukan perjalanan wisata ke suatu daerah atau negara, layak untuk mulai diterapkan di Bali.

Sebagai ‘etalase’ pariwisata Indonesia, Bali telah memikat banyak orang untuk datang. Kiranya kebangkitan pariwisata Bali, dengan nantinya dibukanya Bali untuk wisman, akan mendorong kembalinya turisme Indonesia.

Sumber: JIBI/Bisnis Indonesia Tag: Virus Corona Editor: Maya Herawati

Artikel Terkait

Berita Pilihan

Keteladanan yang Tak Tergantikan Mengoptimalkan Ibadah Puasa saat Pandemi Covid-19 OPINI: Karya Holistik yang Membangun Karakter Bangsa OPINI : Melatih Kejujuran OPINI: Memahami Evolusi E-Government
Berita Terbaru
OPINI: Menyambut Dunia Bisnis Pasca Covid-19 15 hours ago
OPINI: Budaya Belajar Korporasi 1 day ago
OPINI: Peran Swasta dan Perubahan Iklim 2 days ago
OPINI: Presidensi G20 & Peran RI 5 days ago
OPINI: Reformulasi Cukai Rokok 6 days ago

Terpopuler

HIKMAH RAMADAN: Ramadan, Bentuk Kasih Sayang Allah Opini: Perlindungan Konsumen di Era Digital RIFKA ANNISA: Bercerita Pengalaman Kekerasan Seksual OPINI: Menepis Stres Kerja di Perusahaan OPINI: Buzzer adalah Kita
OPINI: Melihat Perkembangan Perbankan ke Arah Digital 1 week ago
OPINI: Bias Psikologi Investor 1 week ago
OPINI: Digitalisasi Bank Syariah 1 week ago
OPINI: Menyongsong Era Baru Pengelolaan Keuangan Daerah 1 week ago
OPINI: Tantangan Masa Depan Sumber Daya Manusia 1 week ago