HomeOpini

OPINI: Bank Jago, Tak Cuma Angka atau Cerita

Oleh:M. Anton Eka Sakti, Relationship Manager Indonesia Eximbank
10 September 2021 - 06:07 WIB

Mitra layanan ojek daring Gojek menunjukkan logo merger perusahaan Gojek dan Tokopedia yang beredar di media sosial di shelter penumpang Stasiun Kereta Api Sudirman, Jakarta, Jumat (28/5/2021). Sejumlah mitra pengemudi Gojek berharap mergernya dua perusahan ?startup? Gojek dan Tokopedia memberikan dampak positif bagi kalangan mitra dengan meningkatnya bonus dan insentif karena penggabungan tersebut telah meningkatkan nilai atau valuasi perusahaan. - ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Integrasi layanan Bank Jago ke dalam ekosistem GoTo dapat meningkatkan customer base secara signifikan sekaligus mendukung daya rekat customer terhadap layanan mereka dan ekosistem GoTo.

Jika kita sempat singgah ke kantor pusat Google di Googleplex, California maka kita akan menemukan fosil T-Rex bernama Stan yang sengaja dipajang di salah satu sudut taman terbuka di tengah-tengah kompleks perkantoran Google tersebut.

Rupanya Google ingin agar para pegawainya selalu ingat bahwa raksasa terkuat yang pernah berkuasa di muka bumi, yaitu Dinosaurus saat ini telah lenyap dan hanya menjadi kenangan.

Memang benar saat ini Google adalah raksasa tetapi sangat mungkin bagi Google untuk tumbang dan kemudian hanya menjadi sejarah seperti Dinosaurus. Hal yang tentunya tidak diinginkan oleh mereka.

Di Tanah Air, beberapa pengamat terheran-heran dengan fenomena Bank Jago (ARTO) di mana kapitalisasi pasarnya naik secara sangat signifikan, sehingga mengalahkan kapitalisasi para raksasa korporasi yang saat ini sudah mapan.

Bahkan kapitalisasi Bank Jago hampir sebanding dengan kapitalisasi Bank Mandiri meskipun aset dan ekuitas Bank Jago jauh di bawah bank pelat merah tersebut. Fenomena tersebut dinilai cukup ‘ajaib’.

Lebih jauh valuasi Bank Jago dikatakan tercipta dari ‘cerita-cerita’ yang indah atas prospek usaha digital masa depan. Apakah benar demikian? Masuknya GoTo (Google menjadi salah satu investornya) ke Bank Jago dengan porsi saham sebesar 21,4% melalui PT Dompet Karya Anak Bangsa menjadi gong dimulainya penetrasi BigTech secara serius ke dalam industri perbankan.

Dengan demikian pertarungan yang sebenarnya adalah GoTo melawan bank tradisional. Xavier Vives dalam publikasi OECD (2020) berjudul Digital Disruption in Banking and its Impact on Competition menjelaskan secara cukup rinci mengenai dinamika dan strategi perseteruan antara BigTech melawan bank tradisional.

Masuknya GoTo ke Bank Jago juga menandakan dimulainya penerapan strategi ofensif melawan bank tradisional secara head-to-head. Tujuan dari strategi ini adalah untuk melakukan distribusi produk keuangan, baik funding, lending maupun payment sekaligus melakukan interface blocking dari bank tradisional ke nasabahnya.

Apa perlengkapan perang GoTo melawan bank tradisional? Setidaknya ada dua senjata modern yang dimilikinya. Pertama, kekuatan ekosistem GoTo. Dengan lebih dari 100 juta pengguna aktif bulanan, 11 juta mitra usaha (merchant) dan 2 juta mitra driver, GoTo tercatat menghasilkan 1,8 miliar transaksi senilai Rp319 triliun pada 2020. Kedua, kekuatan data dan informasi.

Dengan tambang data yang sangat besar, GoTo mampu memetakan bagaimana aliran uang dan barang bergerak serta membaca bagaimana perilaku ekonomi masyarakat.

Apa privilese dan keunggulan Bank Jago di bawah naungan GoTo? Pertama, dana murah. Bank Jago menjadi bank penampung dana ratusan triliun rupiah transaksi GoTo, sehingga aksesnya terhadap dana murah sangat terbuka lebar.

Kedua, aset pembiayaan/securities kualitas terbaik. Dengan dana murah yang melimpah maka cost of fund Bank Jago akan sangat kecil, sehingga mereka dapat leluasa mengalokasikannya lebih jauh untuk mengakuisisi aset pembiayaan/securities dengan risiko kredit hampir 0%. Hal tersebut hampir mustahil dicapai oleh bank tradisional.

Ketiga, biaya operasional yang sangat efisien. Hal ini bisa dicapai karena dana murah yang sangat mudah diraih dan aset pembiayaan/securities kualitas terbaik yang mudah untuk diakuisisi. Dengan demikian tidak diperlukan banyak cabang dan pegawai.

Keempat, akses data dan informasi dari GoTo. Bank Jago dapat memetakan informasi jaringan rantai pasok berbagai industri dari produsen hingga end user dan sekaligus mengetahui kualitas produk, pelaku bisnis serta perilaku ekonomi di dalamnya.

Kelima, integrasi layanan Bank Jago ke dalam ekosistem GoTo dapat meningkatkan customer base secara signifikan sekaligus mendukung daya rekat customer terhadap layanan mereka dan ekosistem GoTo.

Mungkin saat ini bank tradisional sudah memiliki ‘angka’ yang dinilai menarik. Mungkin juga kapitalisasi Bank Jago akan menurun dalam beberapa waktu ke depan, karena nilai sahamnya sudah naik secara signifikan. Faktanya, ‘angka’ Bank Jago saat ini memang masih jauh dibandingkan dengan ‘angka’ bank tradisional.

Namun hasil pertempuran hari esok adalah buah dari pelaksanaan strategi hari ini. Seorang pendiri Yahoo bernama David Filo pernah meremehkan kemunculan Google. Pada 2000, kapitalisasi Yahoo mencapai US$125 miliar dan Google masih sangat kecil, sehingga tidak mempunyai ‘angka’ yang menarik.

Akan tetapi saat ini kisah Yahoo berakhir tragis dengan ‘angka’ yang memburuk, pemecatan ribuan karyawan dan dijual hanya senilai US$4,83 miliar ke Verizon. Di sisi lain kapitalisasi Google Alphabet saat ini mencapai US$1 triliun.

Jadi, semua ini bukan sekadar ‘angka’ dan ‘cerita’ tetapi siapa yang akan selamat dan memenangkan perang. Menjadi raksasa hari ini bukanlah penentu kemenangan masa depan. Seperti yang disampaikan Charles Darwin: “It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent; it is the one most adaptable to change.”

Sumber: JIBI/Bisnis Indonesia Tag: Opini Editor: Maya Herawati

Artikel Terkait
OPINI: QRIS 'Evolusi Less-Cash Society di Indonesia' 2 years ago
OPINI: Karya Holistik yang Membangun Karakter Bangsa 2 years ago
OPINI: Akuntansi Sederhana bagi Usaha Rumah Tangga 2 years ago
OPINI : Melatih Kejujuran 2 years ago
OPINI: May Day, Buruh Punya Kompetensi dan Kapasitas yang Layak Diapresiasi 2 years ago

Berita Pilihan

Keteladanan yang Tak Tergantikan Mengoptimalkan Ibadah Puasa saat Pandemi Covid-19 OPINI: Karya Holistik yang Membangun Karakter Bangsa OPINI : Melatih Kejujuran OPINI: Memahami Evolusi E-Government
Berita Terbaru
OPINI: Merajut Asa di Tanah Papua   1 day ago
OPINI: Menyoal Kebijakan Subsidi LPG dalam APBN 3 days ago
OPINI: Menguak Batik sebagai Warisan Budaya 4 days ago
OPINI: Peran Digitalisasi UMKM dan Perbankan   5 days ago
OPINI: Harapan untuk Badan Pangan Nasional 6 days ago

Terpopuler

HIKMAH RAMADAN: Ramadan, Bentuk Kasih Sayang Allah Opini: Perlindungan Konsumen di Era Digital RIFKA ANNISA: Bercerita Pengalaman Kekerasan Seksual OPINI: Menepis Stres Kerja di Perusahaan OPINI: Buzzer adalah Kita
OPINI: Menjadi Guru di Masa Pandemi   1 week ago
OPINI: Membangun Kampung Cerdas 1 week ago
OPINI: Pertaruhan Reputasi Bank Dunia 1 week ago
OPINI: Memperkuat Perbankan di Era Digital 1 week ago
OPINI: Menyongsong Generasi Emas 2045   1 week ago