HomeOpini

OPINI: Melihat Perkembangan Perbankan ke Arah Digital

Oleh:Raymundo Patria Hayu Sasmita, Dosen Program Studi Akuntansi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
16 September 2021 - 06:07 WIB

Raymundo Patria Hayu Sasmita, Dosen Program Studi Akuntansi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak merupakan fungsi utama dari perbankan di Indonesia.

Maka, perbankan Indonesia perlu menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kehati-hatian dan diatur dalam regulasi yang ditetapkan pemerintah. Meskipun dipagari oleh berbagai regulasi, namun masih ada ruang inovasi yang masih bisa dilakukan di tengah adanya persaingan antarbank.

Awalnya, persaingan di dunia perbankan terlihat cukup sederhana. Setiap bank mempunyai spesialisasi dan segmentasinya masing-masing. Kini, setiap bank mulai bermain di luar pasar utama mereka untuk tumbuh, yang tentunya akan mengambil nasabah dari pasar bank lain. Akibatnya, setiap bank akan menggarap semua peluang pasar. Persaingan di dunia perbankan menjadi semakin ketat .

Dampaknya adalah produk dari satu bank dengan bank yang lain akan tidak jauh berbeda. Kemudian persaingan mengarah pada perang suku bunga antarbank. Margin dari setiap transaksi semakin kecil sehingga bank harus memanfaatkan peran teknologi supaya menjadi lebih efisien 

Dunia perbankan menjadi salah satu yang terdepan dalam mengadopsi teknologi . Konsumen menuntut perbankan untuk lebih adaptif dengan teknologi digital. Karena jika tidak, maka perbankan bisa ditinggalkan oleh nasabah. Teknologi tidak hanya berperan dalam meningkatkan efisiensi namun membantu dalam peningkatan keamanan dari layanannya. Hal ini tentu menjadi keunggulan baru dalam industri perbankan. Namun perkembangan teknologi di suatu bank, akan diikuti oleh bank yang lain, sehingga semua bank akan sama-sama efisien, sama-sama aman, sama-sama cepat. Persaingan pun begeser ke arah peningkatan kualitas pelayanan pada nasabah. Seperti itu lah persaingan di dunia perbankan.

Pertumbuhan financial technology (fintech) tentu menjadi faktor pendorong perbankan untuk melakukan inovasi . Bank digital merupakan contoh dari inovasi itu. Ada beberapa bank tradisional yang sudah mendirikan unit usaha baru yaitu bank digital. Bank digital diartikan sebagai layanan perbankan secara daring. Melalui layanan ini, nasabah dapat melakukan transaksi secara online dan hanya menggunakan smart phone serta kartu kredit .

Keberadaan bank digital akan membantu nasabah mengatur keuangan secara lebih mudah, cerdas, dan aman dengan menggunakan handphone. Ini berbeda dengan mobile banking yang hanya menjadi layanan antarmuka digital, bank digital hadir layaknya sebuah bank yang berdiri sendiri namun secara digital. Bank digital diciptakan oleh bank tradisional yang sudah mapan untuk memenuhi kebutuhan kaum milenial yang sudah terbiasa dengan kemudahan dan kenyamanan transaksi melalui gadget. Bank digital yang sudah beroperasi di Indonesia, yaitu Jenius dari BTPN, Digibank dari DBS, TMRW dari UOB, D-Save dari Danamon dan juga Permata ME dari Permata Bank.

Adanya pandemi Covid-19, membuat transaksi digital meningkat secara pesat. Istilah Neobank sering disebut dalam industri perbankan akhir-akhir ini. Neobank bukanlah sebuah nama bank, melainkan sebuah jenis bank. Neobank adalah bank yang melakukan layanan secara fully internet . Keberadaan Neobank ini 100% online dan tidak mempunyai cabang fisik. Jika bank digital merupakan perpanjangan digital dari sebuah bank tradisional, Neobank merupakan bank yang murni berdiri sendiri. Bisa dikatakan Perusahaan teknologi yang melakukan fungsi perbankan. Neobank melakukan transaksi secara digital yang transaksi cashnya minim dilakukan . 

Neobank yang sudah berdiri di Indonesia adalah Bank Jago dan Bank Neo Commerce. Karena tidak mempunyai kantor cabang, maka Neobank dapat beroperasi dengan sangat efisien sehingga mampu memberikan bunga simpanan yang tinggi dan mengurangi bahkan meniadakan semua bentuk biaya transaksi. Yang masih menjadi kelemahan neobank adalah jenis layanannya yang belum selengkap bank tradisional.

Nasabah yang sangat terhubung dengan Internet mengharapkan kepuasan instan, seperti layanan perbankan berdasarkan permintaan. Untuk mengimbangi cepatnya permintaan ini, bank-bank harus memprioritaskan sumber dayanya untuk fokus pada pelanggan, dan platform digital dalam menyederhanakan proses perbankan daring. Kemampuan neobank dalam meluncurkan fitur canggih secara cepat dapat meningkatkan kinerja yang berdampak pada meningkatnya kepuasan nasabah. Maka wajar jika saat ini neobank menjadi incaran para investor. Harga saham Neobank pun naik.

Tentu saja bank-bank tradisional besar yang ada di indonesia tidak tinggal diam. Mereka berlomba-lomba mengakuisisi bank-bank yang lebih kecil untuk ditransformasi menjadi bank digital berjenis Neobank. Bank tradisional besar yang sudah mapan jika akan bertransformasi menjadi bank digital tentu tidaklah mudah. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berhasil. Maka, pilihan yang paling masuk akal adalah dengan membuat bank digital sejak awal atau mengakuisisi bank yang lebih kecil dan mengubahnya menjadi bank digital. Contohnya adalah Bank Digital BCA yang merupakan transformasi dari PT Bank Royal yang diambil alih pada November 2019 .

 

Tahap Awal

Layanan digital perbankan masih berada pada tahap awal perkembangan. Mayoritas nasabah saat ini masih lebih sering bertransaksi di bank tradisional dibanding bank digital. Maka ketika bank tradisional besar mengakuisisi sebuah bank yang lebih kecil dan mengubahnya menjadi bank digital, dia bisa mengambil pasar bank tradisional sekaligus juga mengambil peluang bisnis di pasar bank digital.

Saat ini persaingan antara bank tradisional dan bank digital masih belum begitu kentara karena masing-masing punya segmen pasarnya sendiri-sendiri hingga suatu saat bank digital mampu sepenuhnya menggantikan fungsi dari bank tradisional. Fokus utama bank digital adalah digitalisasi dalam memanfaatkan teknologi Artificial Inteligence (AI) atau Machine Learning (ML) untuk keputusan berbasis data.

Maka,  Persaingan perbankan di masa depan akan dimenangkan oleh  bank yang mampu menyediakan dan menggantisipasi kebutuhan yang paling sesuai dengan nasabah, dimana semua orang dapat melakukan transaksi melalui aplikasi digital yang digunakan sehari-hari.

Tag: Opini Editor: Maya Herawati

Artikel Terkait
OPINI: QRIS 'Evolusi Less-Cash Society di Indonesia' 2 years ago
OPINI: Karya Holistik yang Membangun Karakter Bangsa 2 years ago
OPINI: Akuntansi Sederhana bagi Usaha Rumah Tangga 2 years ago
OPINI : Melatih Kejujuran 2 years ago
OPINI: May Day, Buruh Punya Kompetensi dan Kapasitas yang Layak Diapresiasi 2 years ago

Berita Pilihan

Keteladanan yang Tak Tergantikan Mengoptimalkan Ibadah Puasa saat Pandemi Covid-19 OPINI: Karya Holistik yang Membangun Karakter Bangsa OPINI : Melatih Kejujuran OPINI: Memahami Evolusi E-Government
Berita Terbaru
OPINI: Merajut Asa di Tanah Papua   1 day ago
OPINI: Menyoal Kebijakan Subsidi LPG dalam APBN 3 days ago
OPINI: Menguak Batik sebagai Warisan Budaya 4 days ago
OPINI: Peran Digitalisasi UMKM dan Perbankan   5 days ago
OPINI: Harapan untuk Badan Pangan Nasional 6 days ago

Terpopuler

HIKMAH RAMADAN: Ramadan, Bentuk Kasih Sayang Allah Opini: Perlindungan Konsumen di Era Digital RIFKA ANNISA: Bercerita Pengalaman Kekerasan Seksual OPINI: Menepis Stres Kerja di Perusahaan OPINI: Buzzer adalah Kita
OPINI: Menjadi Guru di Masa Pandemi   1 week ago
OPINI: Membangun Kampung Cerdas 1 week ago
OPINI: Pertaruhan Reputasi Bank Dunia 1 week ago
OPINI: Memperkuat Perbankan di Era Digital 1 week ago
OPINI: Menyongsong Generasi Emas 2045   1 week ago