HomeOpini

OPINI: Latte Factor, Mewaspadai Kebocoran pada Pengeluaran

Oleh:Tabita Indah Iswari, Dosen Departemen Akuntansi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
13 Januari 2022 - 06:27 WIB

Tabita Indah Iswari, Dosen Departemen Akuntansi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Tahun 2022 baru saja kita lalui selama dua pekan. Pastinya banyak resolusi dan agenda yang telah disusun untuk menghadapi tantangan satu tahun ke depan, tidak terkecuali resolusi dalam bidang finansial. Waktu dua pekan memasuki 2022 ini tentu saja belum terlambat untuk menelaah dan mengevaluasi kembali rencana finansial Anda, terutama jika pada waktu sebelumnya Anda merasa kondisi finansial sering bermasalah dikarenakan sering adanya “kebocoran-kebocoran” kecil pada pos pengeluaran Anda, misalkan saja kebutuhan untuk membeli kopi bermerek keluaran kedai kopi ternama, berlangganan beberapa akun premium atau checkout beberapa item pada keranjang belanja online Anda padahal barang yang Anda beli sebenarnya tidak begitu Anda butuhkan.

Metta Anggriani, seorang financial planner, dalam suatu unggahan pada akun Instagram miliknya pernah menyinggung suatu fenomena yang terjadi kaitannya dengan pengeluaran kecil yang sering tidak disadari yang dikenal dengan istilah latte factor.

Istilah ini dikenalkan oleh David Bach lewat bukunya The Latte Factor pada 2019. Fenomena ini merujuk pada pengeluaran-pengeluaran kecil yang terjadi dan sering kali tidak disadari oleh seseorang. Metta Anggriani menegaskan dengan mengutip istilah dari suatu peribahasa “sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit” bahwa hal tersebut tidak hanya terjadi pada aktivitas menabung namun juga dapat terjadi pada pengeluaran–pengeluaran kecil yang dilakukan seseorang.

Latte Factor & Gaya Hidup

Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Chaerunissa et.al (2020) menganalisis pengaruh pendapatan dan latte factor terhadap daya tahan keuangan yang membuktikan bahwa latte factor berpengaruh positif terhadap daya tahan keuangan pada kalangan milenial. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perilaku generasi milenial pada suatu kota di daerah Jawa Barat yang sering kali mengunjungi pusat perbelanjaan yang banyak terdapat di kota tersebut. Pusat perbelanjaan terkadang juga memberikan sesuatu yang atraktif, seperti diskon, sehingga kebiasaan ini membuat kalangan milenial tersebut terdorong untuk menjadi boros, sementara di satu sisi pendapatan terasa tidak cukup untuk memenuhi gaya hidup tersebut.

Dalam penelitian tersebut dipaparkan juga data yang dilakukan oleh Kadence International Indonesia hampir satu dekade yang lalu bahwa 28% masyarakat Indonesia dalam kondisi pengeluaran lebih besar dari pendapatan (Chaerunissa et.al/2020). Dapat digambarkan melalui data tersebut bahwa yang bisa digarisbawahi di sini adalah yang menjadi pemicu bukanlah kebutuhan melainkan gaya hidup seseorang. Kondisi ini kiranya masih relevan saat ini di mana ada sebagian orang yang rela mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit untuk memenuhi gaya hidup mereka.

Beberapa artikel di media online beberapa waktu yang lalu juga sempat membahas fenomena gaya hidup karyawan di salah satu kawasan perkantoran elite ibukota yang rela membeli lanyard keluaran merek ternama untuk menunjang penampilan.

Lebih lanjut Metta Anggriani dalam unggahan di akun Instagram @mettaanggriani juga menyinggung fenomena FOMO (Fear of Missing Out) sebagai salah satu faktor yang bisa seseorang bisa terjebak dalam latte factor ini.

Secara singkat FOMO ini adalah sebuah fenomena psikologis di mana seseorang mengalami suatu kekhawatiran, kecemasan, atau kegelisahan saat orang lain memiliki suatu pengalaman berharga pada saat seseorang tersebut tidak hadir bersama orang lain tersebut (Przybylski, et. al, 2013 dalam Mulyono, 2021).

Terkait latte factor, fenomena FOMO ini bisa menjadi faktor pemicu pada seorang individu, hanya karena tidak mau ketinggalan tren, rela mengeluarkan uang untuk membeli makanan terbaru yang sedang hits di pasaran atau hangout di kedai kopi terbaru. Hal ini semakin menegaskan bahwa ada biaya tidak sedikit yang harus dikeluarkan untuk memenuhi gaya hidup untuk alasan supaya tetap bisa mengikuti tren.

Kewaspadaan Finansial

Tagline dari sebuah buku yang ditulis oleh David Bach (2019) seperti yang sudah disinggung di atas, mengatakan bahwa why you don’t have to be rich to live rich. Pada bagian lain bukunya, dalam sebuah ilustrasi yang digunakan, Bach juga mengatakan demikian: the solution to your money problems isn’t your money; it’s new habits.

Dari dua kutipan oleh Bach tersebut jelas bahwa setiap orang pasti menginginkan sebuah kebebasan finansial. Hal tersebut dapat dicapai dari setiap perubahan yang diinginkan dari masalah finansial yang ada, dan itu bermula dari perubahan kebiasaan yang dilakukan oleh setiap individu.

Kembali lagi, supaya tidak terjebak dalam latte factor ini, setiap individu hendaknya waspada terhadap setiap pengeluaran yang dilakukan.

Pada bagian akhir buku tersebut, Bach mengajak pembacanya untuk melakukan kalkulasi dari setiap pengeluaran yang dilakukan, dan membandingkan seandainya pengeluaran itu dialihkan ke investasi alih-alih untuk keperluan konsumsi yang sebenarnya bisa ditunda.

Bach mengilustrasikan suatu perhitungan matematis yang memberikan gambaran bahwa sebenarnya seseorang bisa melakukan saving lebih besar apabila memberikan perhatian pada setiap detil pengeluaran yang dilakukan.

Bach juga mengajak pembaca bukunya untuk mulai melakukan pencatatan terhadap ada yang dibeli dan memperhitungkan latte factor yang terjadi selama satu hari hingga satu tahun. Setiap pengeluaran yang dilakukan kemudian dihadapkan pada suatu pertanyaan refleksi yang menandai seberapa banyak latte factor yang terjadi: apakah pengeluaran tersebut hanya membuang uang?

Metta Anggriani juga menambahkan beberapa hal yang dapat menjadi perhatian seseorang agar meminimalisasi latte factor ini dalam kehidupan sehari–hari, di antaranya selain dengan membuat bujet pengeluaran setiap bulan, seseorang bisa menyadari alasan berbelanja dengan menanyakan sebuah pertanyaan reflektif yang senada dengan kutipan dari buku yang ditulis Bach: apakah barang yang dibeli ini merupakan sebuah kebutuhan atau keinginan saja?

 

Tag: Opini Editor: Maya Herawati

Artikel Terkait
OPINI: Pensiun, Berhenti atau Bekerja Kembali? 6 hours ago
OPINI: Dampak Penyakit Mulut & Kuku 1 day ago
OPINI: Genap Berusia 42 Tahun, Perpusnas Bertansformasi Wujudkan Ekosistem Digital Nasional 2 days ago
OPINI: Denda Mematikan Usaha Penangkapan Ikan 2 days ago
OPINI: Jalan Terjal Bea Meterai E-Commerce 5 days ago

Berita Pilihan

Berita Terbaru
OPINI: Pensiun, Berhenti atau Bekerja Kembali? 6 hours ago
Belajar dari BUMDesa Panggung Lestari Mengoptimalisasikan DD untuk Meningkatkan UMKM 22 hours ago
OPINI: Dampak Penyakit Mulut & Kuku 1 day ago
OPINI: Genap Berusia 42 Tahun, Perpusnas Bertansformasi Wujudkan Ekosistem Digital Nasional 2 days ago
OPINI: Denda Mematikan Usaha Penangkapan Ikan 2 days ago

Terpopuler

Belajar dari BUMDesa Panggung Lestari Mengoptimalisasikan DD untuk Meningkatkan UMKM OPINI: Pensiun, Berhenti atau Bekerja Kembali?
OPINI: Jalan Terjal Bea Meterai E-Commerce 5 days ago
OPINI: Jokowi & Estafet Kepemimpinan 6 days ago
OPINI: Apakah Anda Seorang Compulsive Shopper? 1 week ago
OPINI: Mencermati Bea Meterai T&C Digital 1 week ago
OPINI: Titik Balik Pemulihan Asa 1 week ago