HomeOpini

OPINI: Siasat Pemulihan Pariwisata

Oleh:Safri Haliding, Wakil Sekjen Jakarta Tourism Forum
22 Januari 2022 - 06:07 WIB

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dalam kunjungannya ke Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (18/9/2021). - Antara

Tahun 2021 menjadi periode yang penuh tantangan dan perjuangan bagi pemulihan industri pariwisata dan ekonomi kreatif akibat terjangan pandemi Covid 19. Kebijakan pembatasan sosial yang membatasi aktivitas dan mobilitas masyarakat serta dilarangnya perjalanan dan berkumpul menyebabkan banyak wisatawan yang membatalkan kunjungan ke destinasi.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada awal 2020 mengalami penurunan. Kunjungan wisman pada Januari 2020 sebanyak 1,27 orang, merosot sebanyak 7,62% bila dibandingkan dengan kunjungan wisatawan pada Desember 2019 yaitu sebanyak 1,37 juta orang.

Penurunan yang terjadi pada kunjungan turis asing ke Indonesia disebabkan oleh semakin luasnya penyebaran Covid-19 yang terjadi pada pekan terakhir pada Januari 2020. Hal ini terlihat dari dari data turis mancanegara yang datang melalui pintu masuk udara (bandara). Penurunan yang terjadi melalui bandara pada Januari 2020 sebesar 5,01% jika dibandingkan dengan kunjungan pada Desember 2019.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sudah menekankan bahwa pada 2022 akan fokus pada kebangkitan dan pengembangan ekonomi. Mengacu outlook industri pariwisata dan ekonomi Kreatif 2022, kunjungan wisman diproyeksikan mencapai 1,8 juta–3,6 juta orang.

Sebagai perbandingan, pada 2020 dan 2021 masing–masing sebanyak 4,05 juta dan 1,5 juta pengunjung. Adapun kunjungan wisatawan domestik pada tahun ini ditargetkan mencapai 260 juta–280 juta pergerakan. Tahun lalu pergerakan hanya berkisar 198 juta dan pada 2020 di kisaran 198,2 juta.

Hal ini menunjukkan pemerintah dan pelaku usaha pariwisata harus fokus menggandalkan wisatawan nusantara atau domestik untuk mendorong kembali industri pariwisata nasional pada tahun ini.

Di sisi lain, nilai ekspor produk ekonomi kreatif diproyeksikan mencapai US$21,28 miliar pada 2022 dari sebelumnya US$20,58 miliar (2021) dan US$18,89 miliar (2020). Adapun untuk nilai tambah ekonomi kreatif dipacu menjadi Rp1,236 triliun dari sebelumnya Rp1,91 triliun (2021) dan Rp1,134 triliun (2020). Artinya, sungguh besar potensi ekonomi kreatif yang harus dikembangkan.

Dari sisi tenaga kerja pariwisata, 2022 diproyeksikan sebanyak 14,7 juta orang, jauh lebih kecil daripada 2020 dan 2021 yang masing-masing 19,39 juta orang dan 19,83 juta orang. Selain itu tenaga kerja ekonomi kreatif juga bakal terserap banyak, yaitu sekitar 20,58 juta orang dibandingkan sebelumnya sebanyak 19,83 juta orang (2021) dan 19,39 juta orang (2020).

Hal ini menggambarkan bahwa sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menciptakan lapangan kerja yang besar. Untuk mencapai outlook atau proyeksi tersebut diperlukan langkah strategis dari pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.

Pertama, optimalisasi keberlanjutan program Sertifikasi Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan (CHSE) untuk membangun trust of destination bagi wisatawan mancanegara dan nusantara terhadap pencegahan penyebaran virus Corona di lokasi wisata atau destinasi.

Kedua, meningkatkan jumlah Desa Wisata yang naik kelas menjadi Desa Wisata Maju-Mandiri dan bersertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan. Desa Wisata terbukti mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat serta menciptakan lapangan kerja serta mampu mencegah program urbanisasi.

Ketiga, mengembangkan potensi wisata minat khusus sesuai kebutuhan masyarakat selama periode pemulihan. Masyarakat menyukai wisata yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan mereka secara spesifik, lebih fokus kepada kearifan lokal (localize), dan wisata yang dilakukan bersama dengan keluarga (personalize). Aktivitasnya antara lain mencakup pendakian gunung, olahraga arung jeram hingga ekowisata.

Keempat, membangun sumber daya nanusia (SDM) ekonomi kreatif melalui peningkatan kompentensi dan sertifikasi profesi. Penguatan SDM menjadi kunci utama meningkatkan kualitas layanan dan jasa sektor ekonomi kreatif.

Program pengembangan dapat dilakukan dengan meningkatkan link and match kebutuhan SDM antara perguruan tinggi dan industri pariwisata.

Kelima, melanjutkan program bantuan dan insentif permodalan kepada pelaku usaha ekonomi kreatif. Selama pandemi Covid-19 pelaku usaha sektor ini banyak yang mengalami kebangkrutan usaha, sehingga bantuan dan insentif permodalan sangat dibutuhkan agar pelaku bisnis mampu pulih dan bangkit lagi.

Terakhir, mendorong Indonesia sebagai pusat pariwisata halal global. Program ini sejalan dengan visi pemerintah sebagaimana pariwisata halal yang merupakan bagian dari sektor industri halal.

Potensi besar ini tidak terlepas dari besarnya penduduk yang beragama Islam di Tanah Air. Harapannya dengan berbagai langkah dan sinergi serta kolaborasi aktif dari pemerintah dan pemangku kepentingan terkait di industri pariwisata dapat mengembalikan kepercayaan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, sehingga pemulihan bisa segera terwujud.

Sumber: JIBI/Bisnis Indonesia Tag: Opini Editor: Maya Herawati

Artikel Terkait
OPINI: Pensiun, Berhenti atau Bekerja Kembali? 6 hours ago
OPINI: Dampak Penyakit Mulut & Kuku 1 day ago
OPINI: Genap Berusia 42 Tahun, Perpusnas Bertansformasi Wujudkan Ekosistem Digital Nasional 2 days ago
OPINI: Denda Mematikan Usaha Penangkapan Ikan 2 days ago
OPINI: Jalan Terjal Bea Meterai E-Commerce 5 days ago

Berita Pilihan

Berita Terbaru
OPINI: Pensiun, Berhenti atau Bekerja Kembali? 6 hours ago
Belajar dari BUMDesa Panggung Lestari Mengoptimalisasikan DD untuk Meningkatkan UMKM 22 hours ago
OPINI: Dampak Penyakit Mulut & Kuku 1 day ago
OPINI: Genap Berusia 42 Tahun, Perpusnas Bertansformasi Wujudkan Ekosistem Digital Nasional 2 days ago
OPINI: Denda Mematikan Usaha Penangkapan Ikan 2 days ago

Terpopuler

Belajar dari BUMDesa Panggung Lestari Mengoptimalisasikan DD untuk Meningkatkan UMKM OPINI: Pensiun, Berhenti atau Bekerja Kembali?
OPINI: Jalan Terjal Bea Meterai E-Commerce 5 days ago
OPINI: Jokowi & Estafet Kepemimpinan 6 days ago
OPINI: Apakah Anda Seorang Compulsive Shopper? 1 week ago
OPINI: Mencermati Bea Meterai T&C Digital 1 week ago
OPINI: Titik Balik Pemulihan Asa 1 week ago