News

OPINI: Apakah Anda Seorang Compulsive Shopper?

Penulis: Agatha Mayasari, Dosen Departemen Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Tanggal: 12 Mei 2022 - 06:07 WIB
Agatha Mayasari, Dosen Departemen Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Sejak adanya wabah virus Covid-19 telah meningkatkan pertumbuhan bisnis digital di Indonesia. Salah satunya adalah kegiatan belanja online melalui e-commerce yang tumbuh berkembang pesat menjadi tren di kalangan anak muda.

E-commerce merupakan platform jual beli produk baik jasa maupun barang di suatu website atau aplikasi secara online, seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Bibli.com, dan TikTok. Berdasarkan data dari NielsenIQ (2021) jumlah konsumen belanja online di Indonesia melaui e-commerce mencapai 32 juta orang pada tahun 2021.

Jumlah tersebut melesat signifikan menjadi 88% dibandingkan tahun 2020 yang hanya 17 juta orang. Peningkatan kegiatan belanja online semakin parah terjadi pada hari belanja online nasional (Harbolnas). Meningkatnya minat belanja konsumen dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu tidak ada ongkos kirim atau bebas ongkir, muncul tawaran voucer, uang kembali (cashback), diskon, dan beragam pilihan tawaran produk dalam negeri maupun luar negeri. Belanja tentu menyenangkan, dalam satu genggaman, konsumen tidak perlu antre di toko membuang waktu, cukup duduk manis menunggu pesanan diantar ke rumah.

Kegiatan belanja online menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif tetapi juga membawa konsekuensi negatif yang tidak diharapkan terutama bagi masyarakat yang melek digital. Konsekuensi negatif tersebut adalah peningkatan yang signifikan terhadap kecanduan belanja online. Orang dengan kecanduan belanja online disebut pembeli kompulsif (compulsive shopper). Compulsive shopper adalah orang yang sering praktik berbelanja akibat dorongan dalam diri yang sangat tidak tertahankan, tidak terkendali, berlebihan, dan impulsif. Berbelanja bukan lagi sekedar membeli barang, melainkan telah menjadi bentuk hiburan atau perilaku self-reward atau self-healing.

Lawrence et al (2014) menyebutkan bahwa perilaku pembelian kompulsif mirip dengan kecanduan perilaku pesta makan atau perjudian. Pembelian kompulsif dilakukan untuk meningkatkan citra diri, pengakuan sosial, atau mengimbangi suasana hati negatif yang dialami sehingga nilai manfaat barang yang dibeli memainkan peran sekunder.

Contoh pembelian kompulsif adalah membeli tiket murah karena ingin “kabur” dari kerjaan atau pergi liburan sebagai bentuk healing, belanja produk skincare berdus-dus atau belanja outfit karena sedang promo, atau sibuk berbelanja barang-barang yang tidak dibutuhkan. Pembeli kompulsif awalnya akan merasakan perasaan senang dan lega ketika berbelanja, namun berbelanja hanya memberikan kelegaan sementara. Ketidakmampuan untuk mengendalikan belanja pada akhirnya membuat rasa bersalah, malu, serta penyesalan ketika konsekuensi dari tindakan tersebut dirasakan. Lebih lanjut, karakteristik pembeli kompulsif adalah kesulitan menolak pembelian barang yang tidak dibutuhkan, memiliki masalah di tempat kerja, sekolah, atau rumah karena belanja yang tidak terkendali, menghabiskan banyak waktu untuk meneliti barang-barang yang didambakan dan/atau berbelanja barang-barang yang tidak dibutuhkan, dan kesulitan keuangan karena belanja yang tidak terkendali.

Perilaku pembelian kompulsif jika didiamkan akan berpotensi negatif, yaitu stres, depresi, serangan kecemasan, adiksi, penurunan tingkat harga diri, pertengkaran keluarga, masalah hukum, dan yang paling parah masalah finansial hingga terlilit utang.

Cara Mengatasi

Sebuah studi yang dilakukan oleh Thomas et al (2015) dalam Journal of Human Behavior in the Social Environment menjelaskan lima cara mengatasi dampak negatif perilaku pembelian kompulsif dengan praktik mindful financial planning. Praktik ini adalah sebuah usaha untuk memperbaiki diri dalam mengelola keuangan atas penilaian dan pengalaman pribadi dari kesalahan sebelumnya. Pertama, ambil jeda sebelum berencana atau melakukan sesuatu; keputusan untuk membuat anggaran, membeli aset investasi, mengambil kredit, maupun belanja haruslah dilakukan dengan prinsip berhati-hati, jangan tergesa-gesa dalam setiap mengambil keputusan finansial, serta tentukan prioritas dan tujuan keuangan. Kedua, membuat money diary atau catatan keuangan; cara ini adalah membuat rencana pengeluaran bulanan, sederhana tapi besar manfaatnya jika dilakukan secara konsisten. Proses ini membuat kita lebih mindful atas penggunaan penghasilan dan sumber daya yang dimiliki. Lebih dari itu, proses ini dapat memudahkan kita untuk menentukan pengeluaran rutin di bulan berikutnya.

Ketiga, berhenti mengaitkan emosi dengan konsumsi; perilaku ini sering terjadi di kalangan anak muda, misalnya ketika sedang stres, patah hati, marah, kesal atau lapar mata langsung membuka aplikasi e-commerce dan tanpa disadari membelanjakan uang untuk keperluan di luar anggaran belanja. Jika ini sering terjadi akan membuat kita compulsive shopping. Jangan sampai kita membeli karena dorongan emosi sesaat dan akhirnya menyesal atas apa yang dibelanjakan.

Keempat, mengubah pola pikir pembelian; pahami ada perbedaan antara buying for value dengan buying for price. Saat pembelian dilakukan semata-mata karena sedang promo, maka kemungkinan kita sedang melakukan buying for price. Sebaliknya, tentukan tujuan pembelian, apakah untuk kebutuhan atau keinginan, baru setelah itu kita mencari penawaran terbaik yang dibantu dengan poin, cashback, voucher, atau diskon. Sebagai pembeli yang smart, saat memilih produk, merek, atau sekedar jajan harus memilih yang bisa memberikan keuntungan balik kepada kita. Jangan sampai kita memiliki gaya hidup yang tidak sesuai dengan penghasilan. Kelima, buat anggaran yang bisa direalisasikan; anggaran sering gagal karena kita tidak realistis. Pahami, jika masih bermasalah dengan cashflow, maka mulailah membuat anggaran secara bertahap. Susunlah anggaran berdasarkan pertimbangan cermat dan matang dari pengalaman masa lalu. Pilihlah metode alokasi gaji atau alokasi pengeluaran yang tepat dengan kondisi finansial.

Pada akhirnya, praktik mindful finacial planning mengajak kita untuk bersyukur atas apapun yang sudah didapatkan. Tetapi ingat, bersyukur bukan berarti hanya diam berpasrah diri. Namun, berusahalah semaksimal mungkin memperbaiki diri dalam mengelola keuangan untuk menerima hasil akhir yang terbaik dan tidak menjadi seorang compulsive shopper di era digital masa kini.

 

Berita Terkait

OPINI: Ekonomi Saset di Saat Mepet
OPINI: Presidensi B20 Indonesia Perkuat Peran Strategis Asean
OPINI: Program Pengungkapan Sukarela: What's Next?
OPINI: Transaksi Digital Gerbang Pasar Global

Video Terbaru

Advertisement

Berita Lainnya

  1. Bawang Merah & Bawang Putih dalam Pilpres
  2. Makam Dibongkar, Ternyata Begini Kronologi Meninggalnya Warga Sragen
  3. Asyiknya Nonton Live Music Merakyat Ala Keroncong Monpers Solo
  4. Tragedi Investasi Peternakan Kita

Berita Terbaru Lainnya

OPINI: Ekonomi Saset di Saat Mepet
OPINI: Presidensi B20 Indonesia Perkuat Peran Strategis Asean
OPINI: Program Pengungkapan Sukarela: What's Next?
OPINI: Transaksi Digital Gerbang Pasar Global
OPINI: Quality War China & Produk Perikanan
OPINI: Kemitraan Unik Inggris-RI Pimpin Pemulihan Global
OPINI: Sensus Penduduk 2020 Lanjutan, “Potret” Demografi Indonesia
OPINI: Value Investing Bagi Investor
OPINI: Pengelolaan Keuangan Keluarga “4N”
OPINI: Integritas Pemimpin BUMN

OPINI: Integritas Pemimpin BUMN

Opini | 1 week ago