News

Belajar dari BUMDesa Panggung Lestari Mengoptimalisasikan DD untuk Meningkatkan UMKM

Penulis: Rizki Tavianto K/KPPN DIY
Tanggal: 18 Mei 2022 - 14:32 WIB
Rizki Tavianto K - Istimewa

Sejak 2015, DD (DD) digulirkan, dengan memberikan otonomi kepada desa untuk memberdayakan desa. Selain itu, menstimulan percepatan pembangunan desa. Tentu saja, harapan masyarakat desa sejalan dengan tujuan pemerintah memberikan DD yaitu meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan. Termasuk, mendorong peningkatan pelayanan publik (public services) desa, memajukan perekonomian desa, mengatasi kesenjangan pembangunan antardesa serta memperkuat kemandirian masyarakat desa bukan lagi sebagai obyek tetapi menjadi subjek pembangunan.

Indikator untuk memajukan desa ternyata tidak sekedar terlihat dari besarnya DD, akan tetapi diperlukan kreativitas, kerja keras, kerja cerdas, dan inovasi dari seorang kepala desa bersama warganya. Dibalik kisah kesulitan dan kegagalan kepala desa menggunakan DD, ada beberapa kisah sukses penggunaan DD untuk pembangunan desa dan pengentasan kemiskinan. Salah satu diantaranya adalah Desa Panggung Lestari, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wahyudi Anggoro Hadi, S.Ffarm.Apt Kepala Desa Panggung Lestari, merupakan salah satu kepala desa yang sukses mengoptimalkan DD sebagai instrumen pembangunan ekonomi di pedesaan.

 Desa dengan luas 560,966 Ha yang terdiri 14 Padukuhan dan 119 RT, melalui kepemimpinan Hadi telah mengubah desanya menjadi desa maju dan mandiri. Sebagai Kades, beliau menggerakkan pemuda dan masyarakat untuk mengelola potensi desa menjadi desa wisata dengan memanfaatkan potensi desa yang dimiliki, seperti potensi alam, pertanian, peternakan, budaya dan sosial. Desa ini mempunyai visi mewujudkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai kendaraan untuk membangun ekonomi desa lebih berdaya guna. Dengan misi meningkatkan perekonomian desa, meningkatkan pendapatan asli desa (PADes), meningkatkan tata kelola potensi desa sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

Dengan demikian akan membantu pelayanan ekonomi masyarakat dan mampu memanfaatkan serta mengelola DD untuk pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan. Melalui pemanfaatan dan pengelolaan DD tersebut, Hadi menginisiasi pembangunan obyek wisata baru, dengan konsep café sawah. Konsep ini dikemas dengan menghadirkan berbagai pusat jajanan, kuliner dan pemasaran hasil UMKM, yang memanfaatkan lahan persawahan desa. Kreativitas Hadi menggunakan DD untuk pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan warga desa dilakukan melalui pembentukan BUMDes ini didukung dengan lembaga ekonomi desa lain seperti Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), Kelompok Peternak, Gapoktan, PKK dan Kelompok Sadar Wisata. Unit usaha BUMDes ini meliputi Hipam (sebuah unit pengelolaan air bersih), unit keuangan (agen46), unit café sawah, unit wisata desa, unit parkir wisata, pengolahan sampah, toko desa, pertanian, produksi paving dan lain-lain.

 DD di Panggung Lestari digunakan untuk pemberdayaan masyarakat, baik fisik maupun ekonomi desa. Untuk menambah pendapatan asli desa, maka dibuatlah suatu kegiatan ekonomi, yang pada akhirnya dapat menanggulangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran.

Memang, butuh proses panjang, lebih dari 5 tahun untuk menjadi desa sukses. Adanya BUMDes dan kelompok sadar wisata mampu meningkatkan PADes. Omset BUMDes pada 2017 mencapai lebih dari 6,5 milyar rupiah dan 2018 bisa mencapai lebih dari 10 milyar rupiah. Yang menjadi pertanyaan bagi kita, bagaimana kiat dari kerja kerasnya itu. Yang jelas, ada tiga optimalisasi alokasi belanja desa yang sangat mempengaruhi yaitu belanja pembangunan desa, pembinaan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat.

Tahun 2018, desa Panggung Lestari telah mampu mengentaskan kemiskinan kurang lebih 257 jiwa. BUMDes telah membuka lapangan pekerjaan bagi pemuda desa dan rumah tangga miskin sebanyak 167 orang dengan pendapatan Rp1.500.000 per bulan dan mampu menumbuhkan usaha UMKM baru di masyarakat sebanyak 320 usaha. Pencapaian dampak positif pembangunan ekonomi desa tersebut berimbas pada keengganan warga berurbanisasi.

Ketersediaan lapangan kerja di desanya, menjadikan pemuda desa tidak perlu ke kota untuk mendapatkan penghasilan. Pemuda dan masyarakat memiliki masa depan yang cerah dengan adanya pengembangan potensi desa melalui DD. Perkembangan dan kemajuan Desa Panggung Lestari secara tidak langsung ikut serta mendukung program pemerintah melalui percepatan pembangunan infrastruktur dan perekonomian desa.

Untuk mewujudkan ide kreatifnya, kades Hadi melibatkan seluruh aparat dan warga desa sebagai perencana, pelaku, dan penerima manfaat dari program desa wisata. Intinya bahwa dalam rangka pembangunan dan pemberdayaan desa diperlukan partisipasi dan kontribusi masyarakat tanpa meninggalkan transparansi pengelolaan DD sehingga pemanfaatan dan penyalurannya lebih tepat sasaran.

Proses pembangunan berjalan dengan terus berinovasi, fokus pada pembangunan kawasan wisata desa dengan menggerakkan potensi masing-masing dusun yang ada. Jadi tidak aneh kalo desa panggung lestari telah mendapatkan banyak penghargaan, antara lain dari Singapura sebagai homestay terbaik di tingkat ASEAN. Keunggulan ini karena keunikan kondisi dapur yang selalu bersih dengan nuansa desa yang tetap terjaga, serta mengedepankan kearifan lokal. Dimulai dari lahan pertanian sekitar homestay, peternakan, menyajikan makanan khas sebagai salah satu kearifan lokal. Penghargaan juga diperoleh dari dalam negeri antara lain Kampung Iklim Nasional 2016 Kemenhut dan LH dan Desa Wisata Agro 2017 Kemendes. Pada 2018 mendapatkan tiga penghargaan berupa Pokdarwis Nasional Kategori Mandiri Terbaik I, Desa Inspiratif, dan Green Award ISTA.

Mengapa Usaha Skala Kecil Perlu Dikembangkan Di Desa Panggung Lestari

            Sejak tahun 1983, pemerintah sudah secara konsisiten telah melakukan berbagai upaya penyederhanaan peraturan sebagai upaya penyesuaian struktural dan rekonstruksi perekonomian. Kendati demikian, banyak yang mensinyalir deregulasi di bidang perdagangan dan investasi tidak memberi banyak keuntungan bagi usaha skala kecil dan menengah; bahkan justru usaha skala besar dan konglomeratlah yang mendapat keuntungan. Studi empiris membuktikan bahwa pertambahan nilai nilai tambah ternyata tidak dinikmati oleh usaha skala kecil, sedang, dan besar, namun justru perusahaan skala konglomerat, dengan tenaga kerja lebih dari 1.000 orang, yang menikmati nilai tambah secara absolut (Kuncoro & Abimanyu, 1995).

Kemajuan desa tentu saja bukan bim salabim, bukan seperti membalikan tangan dan bukan pula besarnya DD yang digelontorkan, namun lebih pada kreativitas aparat desa mengenali potensi desa yang dimiliki. Disinilah, kreativitas dan kepiwaian leadership dalam menyelesaikan berbagai masalah. Singkat kata “menyelesaikan masalah membawa berkah”.

Memang, setiap desa mempunyai karakteristik dan keunikan masing-masing. Keunikan dan karakteristik yang beraneka ragam dapat ditentukan dari kondisi geografis, adat istiadat dan budaya lokal masing-masing desa. Desa tidak semuanya mempunyai potensi alam yang menarik untuk dijadikan wisata desa. Oleh karena itu, bagi kades dan aparatur serta masyarakat desa harus mengenali potensi desa yang dapat dikembangkan menjadi potensi ekonomi melalui pemanfaatan DD. Memang, maju tidaknya suatu desa sangat ditentukan oleh kepemimpinan yang kuat dan kemampuan manajerial serta komunikasi yang efektif kepada warganya.

Kenyataan, saat ini berapa banyak desa yang tidak mampu mengoptimalkan DD-nya. Aparatur desa dan warganya perlu mencari konsep tata kelola DD terbaik bagi pengembangan desa. Pemerintah pusat juga dapat mengambil contoh desa maju atau mandiri terbaik sebagai benchmarking bagi desa-desa lainnya. Dan, yang penting lagi DD tidak dikorupsi.

Tantangan dan Masalah dalam Pengembangan UMKM Desa Panggung Lestari

            Memang cukup berat tantangan yang dihadapi untuk membangun UMKM yang kuat. Pembinaan pengusaha berskala kecil harus lebih diarahkan untuk meningkatkan pengusaha skala kecil menjadi pengusaha menengah. Pengembangan usaha skala kecil (UMKM) menghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan, ketrampilan, keahlian, manajemen SDM, kewirausahaan, pemasaran dan keuangan. Lemahnya kemampuan manajerial dan SDM mengakibatkan pengusaha skala kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. Secara lebih spesifik, masalah dasar yang dihadapi pengusaha skala kecil adalah pertama, kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperlebar pangsa pasar. Kedua, kelemahan dalam permodalan dan keterbatasan memperoleh akses permodalan. Ketiga, kelemahan dalam bidang kerjasama antar pengusaha skala kecil (sistem informasi pemasaran). Keempat, kurangnya kepercayaan dan kepedulian masyarakat terhadap usaha skala kecil.

            Secara garis besar, tantangan yang dihadapi usaha skala kecil dapat dibagi dalam dua kategori; Pertama, umumnya tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup usahanya. Bagi mereka, umumnya asal dapat berjualan dengan “aman” sudah cukup. Mereka umumnya tidak membutuhkan modal yang besar untuk ekspansi produksi; biasanya modal yang diperlukan sekedar membantu kelancaran cashflow saja. Kedua, bagi usaha skala kecil tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks. Umumnya mereka mulai memikirkan untuk melakukan ekspansi usaha lebih lanjut.

Mencari Stategi Pemberdayaan Yang Tepat

Strategi pemberdayaan yang telah diupayakan selama ini dapat diklasifikasikan dalam:

Awalnya memang pembinaan usaha skala kecil (UMKM) di Desa Panggung Lestari sering tumpang tindih dan berjalan sendiri-sendiri. Perbedaan persepsi mengenai usaha skala kecil ini pada gilirannya menyebabkan pembinaan UMKM masih terkotak-kotak, dimana masing-masing instansi pembina menekankan pada bidang binaannya sendiri-sendiri. Melalui pendekatan yang agak panjang dan melelahkan disepakati oleh pihak perangkat desa, tokoh masyarakat dan pengelola DD serta pengelola BUMDesa. Ada tiga strategi alokasi belanja desa yang sangat mempengaruhi yaitu belanja pembangunan desa, pembinaan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat. Tentu saja proporsi alokasi belanja desa ini disesuaikan dengan kondisi desa. Seiring berjalannya waktu strartegi ini berhasil karena keberpihakan dan kebijakan kepala desa untuk mengalokasikan DD untuk megembangkan BUMDesa. Ternyata alokasi belanja untuk BUMDes oleh Hadi untuk mengembangkan potensi desa panggung lestari.

Kondisi geografis dan alam yang asri dengan sawah yang terhampar hijau bagai permadani raksasa namun pengangguran yang banyak serta tingkat kemiskinan yang tinggi menjadi persoalan tersendiri. Mimpi itu harus dibuat menjadi kenyataan dengan mengajak para perangkat desa, masyarakat dan para pemuda. Selang beberapa tahun terlihat hasil yang luar biasa dan dinikmati oleh masyarakat yang mana pengangguran dan angka kemiskinan tidak ada lagi. Urbanisasi lambat laun semakin rendah karena keinginan para pemuda untuk bekerja di kota sudah semakin tidak menarik lagi. Mereka berkomitmen untuk mengembangkan potensi desa melalui kearifan lokal dan budaya yang ada. Hadi juga selaku kepala desa menginisiasi wisata desa dengan memanfaatkan lahan-lahan pertanian, peternakan dan wisata alam lainnya. Membuat café sawah yang dikelilingi persawahan yang tertata rapih dan membangun home stay dengan konsep pedesaan. Hal ini secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatan asli desa dan meningkatkan taraf hidup masyarakat desa panggung lestari.

Simpulan dan Implikasinya

Pengalokasian DD sejak tahun 2015 yang dimaksudkan untuk pemerataan pembagian kue pembangunan dan sekaligus sebagai stimulan untuk mempercepat pembangunan desa. Sebelum itu memang pembangunan belum dirasakan secara merata masih dipusatkan di jawa dan belum ada konsep yang jelas. Saat itu kebijakan dan arah pembangunan desa ditentukan oleh pusat. Sehingga sering salah sasaran alokasinya tidak sesuai peruntukannya. Oleh karena itu, saat ini penggelontoran DD lebih efisien dan efektif peruntukannya. Tujuannya sangat jelas bahwasannya DD didistribusikan untuk kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pembangunan serta dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pengalokasiannya jelas sesuai pemanfaatannya dan didampingi dalam pelaksanaannya serta diawasi dan dimonitoring dengan ketat.

Lalu, bagaimana memanfaatkan DD, apakah dengan simsalabim dan membalikan tangan mimpi menjadi kenyataan. Perlu proses dan perjuangan untuk meyakinkan masyarakat desa panggung lestari bahwasannya desanya mempunyai potensi besar untuk dikembangkan. Pengalokasian belanja DD perlu wadah formal karena DD sebenarnya diarahkan untuk infrastruktur seperti; pembangunan jalan, irigasi, sarana ibadah dan pasar. Oleh karena itu pilihan wadah tersebut adalah BUMDesa. Tentunya pengelolaan DD yang dialokasikan belanjanya ke BUMDesa perlu perencanaan yang matang. Usaha skala kecil yang cocok dikembangkan sesuai ide kepala desa panggung lestari Hadi yaitu pengembangan UMKM melalui pengembangan desa wisata dengan kafe sawah dan homestay serta jajanan kuliner dengan model kearifan lokal. Hal ini mempunyai dampak pada perekonomian desa dan pendapatan masyarakat yang meningkat. Angka pengangguran semakin menurun tajam seiring dengan banyaknya lapangan kerja baru yang dikembangkan di desa panggung lestari. Urbanisasi tidak lagi menjadi ancaman karena banyaknya peluang usaha di desa mereka.

Memang cukup berat tantangan yang dihadapi utk membangun UMKM yang kuat. Pembinaan pengusaha berskala kecil harus lebih diarahkan untuk meningkatkan pengusaha skala kecil menjadi pengusaha skala menengah. Perlu dibangun sebuah kemitraan atau bapak angkat dari perusahaan-perusahaan skala besar dengan pengusaha skala kecil (UMKM). Kapan kita bisa melihat UMKM yang dikembangkan dan diberdayakan oleh masyarakat desa panggung lestari menjadi model kemitraan yang moderen.

Berita Terkait

Gubernur Jawa Tengah Berharap Seluruh Kepala Desa dan Perangkat Desa Jaga Ketahanan Pangan
BUMDes di Sleman Perlu Digerakkan untuk Pemulihan Ekonomi
Genjot Pendapatan, Desa Triharjo Sleman Resmikan Pertashop dan Triharjo Mart

Video Terbaru

Advertisement

Berita Lainnya

  1. Bawang Merah & Bawang Putih dalam Pilpres
  2. Makam Dibongkar, Ternyata Begini Kronologi Meninggalnya Warga Sragen
  3. Asyiknya Nonton Live Music Merakyat Ala Keroncong Monpers Solo
  4. Tragedi Investasi Peternakan Kita

Berita Terbaru Lainnya

OPINI: Ekonomi Saset di Saat Mepet
OPINI: Presidensi B20 Indonesia Perkuat Peran Strategis Asean
OPINI: Program Pengungkapan Sukarela: What's Next?
OPINI: Transaksi Digital Gerbang Pasar Global
OPINI: Quality War China & Produk Perikanan
OPINI: Kemitraan Unik Inggris-RI Pimpin Pemulihan Global
OPINI: Sensus Penduduk 2020 Lanjutan, “Potret” Demografi Indonesia
OPINI: Value Investing Bagi Investor
OPINI: Pengelolaan Keuangan Keluarga “4N”
OPINI: Integritas Pemimpin BUMN

OPINI: Integritas Pemimpin BUMN

Opini | 1 week ago