News

Mengenal Ngupit Klaten, Daerah yang Disebut Tertua di Indonesia

Penulis: Newswire
Tanggal: 18 November 2021 - 17:57 WIB
Replika Prasasti Upit dibangun di belakang Kantor Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Klaten. Prasasti tersebut sebagai penanda jika kawasan Ngupit sudah ada sejak lebih dari 1.155 tahun silam. Foto diambil Rabu (17/11/2021). - Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso

Harianjogja.com, KLATEN-Warga Klaten tidak asing dengan nama Ngupit karena Ngupit disebut-sebut sebagai desa tertua di Indonesia merujuk pada Prasasti Upit. Namun, secara administratif tak ada dukuh maupun desa bernama Ngupit.

Selama ini, daerah yang dikenal bernama Ngupit merujuk wilayah di Kecamatan Ngawen antara Desa Ngawen, Kahuman, dan sekitarnya. Warga maupun pemerintah desa membenarkan secara administratif tak ada desa bernama Ngupit.

Salah satu warga Desa Kahuman, Rokhani, 48, mengatakan nama Ngupit sudah ada sejak masa lampau. Hal itu diperkuat dengan prasasti peninggalan Mataram Kuno yang pernah ada di wilayah antara Desa Ngawen dan Kahuman.

Prasasti berbentuk batu lingga, berhuruf Jawa kuno, dan kini disimpan di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Dalam prasasti tersebut nama Ngupit sebenarnya disebut dengan nama Upit atau Yupit.

“Karena untuk memudahkan pelafalan sehingga disebut dengan Ngupit,” kata Rokhani mengutip Solopos.com--jaringan Harianjogja.com, Kamis (18/11/2021). 

Prasasti berisi penetapan wilayah perdikan Upit. Tanah perdikan yang dimaksud yakni wilayah yang dibebaskan dari pajak.

Baca juga: Syukurlah...Sempat Didera 2 Klaster, Covid-19 di Sleman Berhasil Ditekan

Selain menyebutkan peristiwa, dalam prasasti itu juga menyebutkan waktu pemasangan pada 788 saka atau 866 masehi. Jika merunut pada kalender Masehi, penetapan tanah perdikan itu dilakukan pada November 866 Masehi.

Prasasti itu diperkirakan sebagai penanda batas kewilayahan tanah perdikan. “Barangkali secara sejarah prasasti Upit ini bercerita tentang tanah perdikan, hak bagi rakyat untuk mengelola tanah sendiri secara swakarsa tanpa dipungut pajak. Prasasti yang ditemukan merupakan batas kewilayahan,” kata Rokhani.

Rokhani menjelaskan ada dua prasasti yang ditemukan yakni di Dukuh Sorowaden, Desa Kahuman dan satu prasasti di Dukuh Sogaten, Desa Ngawen. Jarak lokasi penemuan kedua prasasti itu diperkirakan 1 km. Prasasti itu sudah disimpan di BPCB sejak 1980-an.

Replika Prasasti

Pegiat pelestari cagar budaya Klaten, Hari Wahyudi, menjelaskan keterangan di prasasti Upit jika diterjemahkan prasasti itu sudah ada sejak 11-12 November 866 Masehi. “Dalam prasasti itu memuat keterangan Rakai Halaran menetapkan tanah sima [tanah perdikan] Upit,” kata Hari.

Hari meyakini di kawasan yang disebut dengan Upit atau yang kini dikenal dengan nama Ngupit banyak jejak peninggalan candi. “Pertama karena dalam prasasti Kwak yang ditemukan di Magelang disebutkan perintah untuk memberikan sumbangan merawat bangunan suci di Upit. Kedua di sana [kawasan yang dikenal dengan nama Ngupit] masih banyak ditemukan peninggalan candi,” kata Hari.

Hari menjelaskan dengan Prasasti Upit menunjukkan kawasan yang kini dikenal dengan nama Ngupit sudah ada lebih dari 1.155 tahun yang silam. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jateng melalui akun Instagram @kominfo.jateng, Minggu (13/12/2020), menginformasikan Ngupit merupakan desa tertua di Indonesia. “Banyak Upit lain di Klaten yang belum banyak mendapatkan perhatian. Harapan kami pemerintah bisa melestarikan dengan menggali jejak sejarahnya,” jelas dia.

Pengenalan Sejarah

Sekretaris Desa Kahuman, Sunarni, mengatakan upaya untuk mengenalkan sejarah Upit ke generasi penerus terus dilakukan. Salah satunya dengan membikin replika Prasasti Upit.

Selain itu, sekitar lima tahun terakhir pemerintah desa dan warga menggelar peringatan Upit yang digelar saban 11 November. Seperti yang digelar belum lama ini. Lantaran masih dalam pandemi Covid-19, peringatan dilakukan secara sederhana.

“Ada lomba, jalan sehat, lomba cerdas cermat, dan sebagainya termasuk kejuaraan pingpong,” kata Sunarni.

Berita Terkait

WTP 13 Kali Berturut-turut, Pemkot Jogja Terima Penghargaan dari Kemenkeu RI
Penataan Kawasan Kumuh di Sungai Gajah Wong Dapat Apresiasi Bank Dunia
Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele
YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia
Sejarah 16 September, Jadi Hari Perlindungan Lapisan Ozon Sedunia
Semarakkan Satu Dasawarsa UU Keistimewaan, Pemkab Bantul Sosialisasikan Sejarah DIY dan Potensi Seni
Menengok Sejarah Solo Jadi Sarangnya Kuliner Daging Anjing hingga Budaya Mendem
Ingatan 30 Agustus, Terjadi Penembakan pada Lenin

Video Terbaru

Advertisement

Berita Lainnya

  1. Agenda Solo Hari Ini: Bakar Musik di Pucangsawit, New Kendedes di Sekaten
  2. Prakiraan Cuaca Boyolali Hari Ini bakal Gerimis Siang hingga Malam
  3. Prakiraan Cuaca Sukoharjo Hari Ini: Hati-Hati Gerimis Siang hingga Malam
  4. Prakiraan Cuaca Sragen Hari Ini 30 September 2022, Hujan tapi Gerah

Berita Terbaru Lainnya

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata
Ada Paket Wisata ke Segitiga Bermuda, Uang 100% Kembali Jika Wisatawan Hilang
Mengenal Pendekar Roti Kolmbeng Terakhir di Jogja
Harinya Jogjarockarta, 3 Panggung, Puluhan Grup Musik
Dipakai Syuting Film Horor, Ini Eksotisme Waduk Sermo yang Memikat Hati
3 Tips Sewa Bus untuk Liburan Santai Bersama Keluarga Besar
4 Rekomendasi Wisata Adem di Sleman
Pantai Widodaren, Surga Tersembunyi bagi Para Pencinta Kemping
Pantai Nglambor, Tempatnya Menikmati Biota Laut Gunungkidul
6 Bandara Paling Menakutkan di Seluruh Dunia, Berani Mengunjunginya?